Ketika Bertemu Shalat Id, Masih Wajibkah Shalat Jumat?

986

    Sumber foto: m.viva.co.id

Oleh: Ustadz Zaenal Karomi*

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mau bertanya, pada hari raya Idul Adha ini jatuh/bertepatan dengan hari Jum’at. Dan saya pernah dengar kalau sudah melaksanakan shalat Idul Adha diperbolehkan meninggalkan shalat Jum’at. Mohon penjelasannya. Terima kasih

Sultan, Mojokerto

Wa’alaikumsalam W. W.

Terima kasih kepada penanya, suadara Sultan di Mojokerto. Semoga Allah SWT selalu memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Adapun ulasan jawaban pertanyaan sebagai berikut.

Permasalahan tersebut merupakan masalah khilafiyyah para imam madzhab yang kita ikuti. Padahal shalat Jumat dan Idul Adha adalah dua hal yang lain dalam tinjauan hukum pelaksanaanya. Shalat Jumat hukumnya wajib bagi segenap muslim yang berakal dan baligh, sedangkan shalat Id hukumnya sunnah mu’akkadah. Lalu bagaimana dengan permasalahan di atas?

Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini, menurut madzhab Syafi’i, shalat Jumat tetap dilaksanakan bagi ahlul balad (penduduk setempat) sedangkan bagi ahlul qura (penduduk daerah yang tak memiliki fasilitas umum seperti masjid/pasar) tidak wajib sesuai keterangan di kitab Rahmat al Ummah halaman 69:

(فَصْلٌ) إِذَا اتَّفَقَ يَوْمُ عِيْدٍ وَيَوْمُ جُمْعَةٍ فَاْلأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْجُمْعَةَ لاَ تَسْقُطُ عَنْ أَهْلِ الْبَلَدِ بِصَلاَةِ الْعِيْدِ، وَأَمَّا مَنْ حَضَرَ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَالرَّاجِحُ عِنْدَهُ سُقُوْطُهَا عَنْهُمْ فَإِذَا صَلَّوْا الْعِيْدَ جَازَ لَهُمْ أَنْ يَنْصَرِفُوْا وَيَتْرُكُوْا الْجُمْعَةَ. وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ بِوُجُوْبِ الْجُمْعَةِ عَلَى أَهْلِ الْبَلَدِ. وَقَالَ أَحْمَدُ لاَ تَجِبُ الْجُمْعَةُ عَلَى أَهْلِ الْقُرَى وَلاَ عَلَى أَهْلِ الْبَلَدِ، بَلْ يَسْقُطُ فَرْضُ الْجُمْعَةِ بِصَلاَةِ الْعِيْدِ وَيُصَلُّوْنَ الظُّهْرَ. وَقَالَ عَطَاءٌ: تَسْقُطُ الْجُمْعَةُ وَالظُّهْرُ مَعًا فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ فَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعِيْدِ إِلاَّ الْعَصْرَ

Apabila shalat hari raya Id bersamaan dengan hari Jum’at, maka menurut pendapat yang shahih dari kalangan Syafi’i bahwa shalat Jum’at tidak gugur bagi ahlil balad dengan ketepatan shalat Id. Adapun bagi ahli qura maka gugur shalat Jum’atnya menurut pendapat yang rajih. Apabila mereka melaksanakan shalat Id maka boleh bagi mereka berangkat melaksanakan atau meninggalkan shalat Jum’at. Kedua, menurut pendapat Imam Abu Hanifah kewajiban bagi ahlil balad untuk melaksanakannya. Ketiga, Imam Ahmad tidak wajib melaksanakan Jum’at bagi ahli Qura dan ahli balad mereka tetap wajib melaksanakan shalat Dhuhur. Keempat, Imam Atha’ berpendapat gugur shalat Jum’at dan Dhuhur pada hari itu saat mereka melaksanakan shalat Id. Dan meraka langsung melaksanakan shalat Ashar.

Para ulama berpedoman dalam hadis Nabi Muhammad SAW dalam kitab Sunan Ibnu Majah juz 2 halaman 342 sebagai berikut:

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَجُلاً سَأَلَ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ : هَلْ شَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ عِيدَيْنِ فِي يَوْمٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ ؟ قَالَ : صَلَّى الْعِيدَ ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ ، ثُمَّ قَالَ : مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

Maksud hadis ini adalah saat itu terjadi dua hari raya (yaumul Jumat dan yaumul Id). Nabi Muhammad SAW menuturkan bahwa ada rukhsoh/keringanan dalam melaksanakan shalat Jumat. Selain itu juga, Nabi mempersilahkan bagi orang yang menghendaki melaksanakan shalat Jumat. Dalam penjelasan kitab al Umm juz 1 halaman 239, disebutkan bahwa pemberian rukhsoh untuk tidak melaksanakan shalat Jumat itu bukan ditujukan kepada semua orang yang hadir, akan tetapi hanya ditujukan kepada ahlul aliyah (penduduk yang jauh dari tempat pelaksanaan shalat Id).

  Menyembelih Sifat Kehewanan Manusia

Selain itu juga Imam as Sairazy mengatakan dalam kitab al Muhadzab juz 1 halaman 109 sebagai berikut:

وإن اتفق يوم عيد ويوم جمعة فحضر أهل السواد فصلوا العيد جاز أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة لما روي أن عثمان رضي الله عنه قال في خطبته أيها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن أراد من أهل العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل ومن أراد أن ينصرف فلينصرف ولم ينكر عليه أحد …. ألخ

“Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jumat, maka penduduk kampung yang jauh dari tempat shalat Id yang telah hadir untuk melaksanakan shalat Id boleh kembali ke kampungnya, tidak usah mengikuti jumatan. Diriwayatkan dari Sayyidina Utsman,  beliau bekata dalam khutbahnya,  ‘Wahai manusia, pada hari ini terjadi dua hari raya, maka barang siapa di antara penduduk kampung yang jauh dari tempat shalat Id ini menghendaki ikut shalat Jum’at, silahkan! Dan barang siapa yang pulang ke kampungnya silahkan ia pulang! Terhadap perkataan Sayyidina Utsman ini tidak seorangpun sahabat yang mengingkarin

Dari ibarat yang dikemukakan di atas bahwa illat diperbolehkan meninggalkan shalat Jumat, karena bertepatan dengan dua shalat Id adalah rukhsah/kemurahan bagi orang yang jarak rumahnya jauh dengan tempat pelaksanaan. Peristiwa tersebut terjadi di zaman awal Islam, ada sahabat yang jarak rumahnya dengan Madinah kurang lebih 5 KM dan harus ditempuh melewati padang pasir dengan jalan kaki. Kalaulah ia kembali/bolak-balik menempuh perjalanan dari rumah ke masjid pastinya akan terjadi masyaqqah/sangat melelahkan.

Lalu, bagaimana dengan kita di Indonesia? Bagi umat Islam di Indonesia hampir di setiap dusun terdapat masjid, rata-rata kurang dari 1 KM, dan alat tranportasi sangat memadai untuk menuju ke masjid. Maka hemat kami, alangkah lebih utamanya tetap melaksanakan kedua shalat tersebut, yaitu shalat Id dan shalat Jumat, sebagai sarana mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan ukhuwah Islamiyah di antara kaum muslim. Allahu ‘alam.

Demikian jawaban singkat kami, semoga bermanfaat. Amiin yaa robbal ‘alamiin.


*Ustadz muda di Pesantren Tebuireng