Sumber foto; https://bangkitmedia.com/tawassul-dengan-nabi-muhammad-ketika-hidup-atau-sudah-wafat/

Oleh: KH. Fawaid Abdullah*

Rasulullah SAW itu adalah manusia paling berani. Saking beraninya beliau tidak takut atau tidak khawatir mati di dalam menegakkan kebenaran dan agama Islam. Buktinya, beliau itu selalu berada paling depan di setiap memimpin peperangan melawan musuh. Baginda Nabi SAW selalu berada di posisi yang paling dekat dengan musuh.

Diceritakan oleh Sahabat Jabir bin Abdullah RA bahwa suatu ketika di dalam peperangan Dzaturriqa’, beliau ditinggalkan berada sendirian di bawah pohon untuk istirahat sejenak. Ketika Rasulullah dalam keadaan istirahat tersebut tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari kaum musyrikin. Saat itu pedang Baginda Nabi digantung di dahan pohon.

Lalu laki-laki tersebut menanyakan, “Wahai Muhammad, tidak kah engkau takut kepadaku (engkau tinggal sendirian seperti ini, kalau aku mau saat ini aku akan membunuhmu). Dengan enteng Baginda Nabi menjawab, “Tidak, aku tidak takut”. Laki2 tersebut lalu berkata lagi, “Siapa yang menyebabkan engkau tidak takut kepadaku ?”. Baginda Nabi menjawab, “Allah. Allah lah yang menyebabkan aku tidak takut!”.

Itulah sifat pemberani yang ada dalam diri Baginda Nabi SAW, kalau sudah menyangkut dakwah dan menegakkan Agama, beliau sama sekali tidak ada rasa khawatir apalagi rasa takut, karena beliau percaya Allah selalu menjagaNya. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berada di dalam jalan kebaikan dan kebenaran.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sifat Baginda Nabi yang lain yang patut diteladani adalah tawadu. Beliau itu selalu menghormati dan memuliakan manusia. Tidak pernah beliau melihat dirinya sendiri itu lebih utama di atas manusia lainnya, padahal Allah sudah menjaminkan surga baginya.

Saking tawadunya, Baginda Nabi SAW mencegah (menarik) tangannya ketika ada sahabat yang mau menciumnya. Beliau sangat memuliakan siapa saja tanpa pilah-pilih dan tanpa pandang bulu.

Ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thobrani bahwa sesungguhnya Baginda Nabi Rasulillah SAW bersabda, “Ketika datang orang mulia di antara kalian maka muliakan-lah”.

Suatu ketika Sahabat Jarir bin Abdullah, terlambat datang dalam sebuah majlis, ketika itu di sekitar Baginda Nabi SAW sudah penuh sesak dengan para sahabat Nabi. Melihat Sahabat Jarir terlambat lalu Rasulullah mempersilahkan duduk, karena tempat duduk atau alas tikar sudah penuh dan sudah tidak ada, maka Baginda Nabi mengambil selendang surbannya lalu dijadikan alas tikar dan mempersilahkan sahabat Jarir duduk di atas surban Baginda Nabi.

Melihat kejadian itu, Sahabat Jarir mengangkat surban nya Baginda Nabi dan Sahabat Jarir menangis. Bagaimana tidak? Dia sudah datang paling terakhir dalam majlis ini, justru diperlakukan sedemikian itu oleh Baginda Nabi. Beliau sangat memuliakan para sahabat yang lain padahal Jarir datang paling akhir di antara mereka.

Sampai sedemikian itu sifat Tawadunya Baginda Nabi. Beliau sangat memuliakan siapa saja dan di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Sungguh Luar Biasaa Akhlaq beliau Baginda Nabi. Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad.


*Santri Tebuireng 1989-1999, Ketua Umum IKAPETE Jawa Timur 2006-2009, saat ini sebagai Pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan Madura.

SebelumnyaBatasan Diperbolehkannya Nikah dengan Wali Hakim
BerikutnyaBahas Radikalisme Saat Buka Puasa Bersama