Oleh: Nur Indah*

Buah kurma, rupanya memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Buah yang selalu ‘naik daun’ di bulan Ramadhan ini, diketahui dapat memperkuat sistem saraf hingga meningkatkan kesehatan jantung dan mata. Tapi siapa sangka di balik lezat dan kaya manfaat akan buah kurma ini ada kisah menarik mengenai buah ini, ingin tahu kelanjutannya, mari simak kisah di bawah ini.

Di pinggiran kota Madinah terdapat seorang bernama Abu Dujanah dia adalah salah satu sahabat miskin. Abu Dujanah adalah orang yang sangat taat kepada agama dan Nabi Muhammad SAW. Dia selalu menjalankan ibadah yang dianjurkan oleh agamanya yaitu islam. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat.

Suatu ketika, Nabi terheran-heran dengan sikap si Abu Dujanah yang pulang lebih awal tanpa menunggu pembacaan doa dari nabi Muhammad SAW, kemudian nabi mencoba meminta klarifikasi kepada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya. “Hai, Abu Dujanah, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu pintakan kepada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu selalu buru-buru pulang ? Ada apa?” tanya Nabi Muhammad kepada Abu Dujanah.

Abu Dujanah pun menjawab, “Jadi begini wahai Rasulullah, saya punya satu alasan “.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” Lanjut Nabi Muhammad SAW.

“Begini,” kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki, yang mana di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami ketika bangun dari tidurnya, apa pun yang didapat, mereka makan. Termasuk buah kurma milik tetangga kami yang jatuh persis di rumah kami. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya. Satu saat, kami pernah agak terlambat pulang. Saya menemukan anak kami yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.”

Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memasukan jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, “Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.”

Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. Dia katakan kembali kepada anaknya itu, “Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”

Pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu deras. Nabi Muhammad SAW pun kemudian mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam cerita yang ia sampaikan itu.

Melihat ketabahan Abu Dujanah, walhasil Nabi Muhammad bersama Abu Bakar membeli pohon kurma tersebut dari tetangganya, dan tetangganya tersebut pun menjual pohon kurma tersebut. Namun si tetangga tersebut memiliki sifat jelek yakni munafik, si Munafik itu berniat curang. Ia berkata kepada istrinya. “Wahai istriku, aku mendapatkan keuntungan yang besar hari ini. Aku menjual pohon kurma kepada Abu Bakar untuk Abu Dujanah dengan 10 pohon kurma terbaik di kota ini, namun ingatlah wahai istriku, tidak satu buah pun akan kuberikan kepada Abu Dujanah”. Dia mengingkari perjanjian dengan Rasulullah dan para sahabat. Pohon yang dijanjikan akan diberikan kepada Abu Dujanah tidak mau diberikannya, mengingat pohon kurma itu berada di halaman rumah si munafik, Qodarullah Kuasa Allah, apa yang terjadi? Allah berkehendak lain, malam harinya pohon kurma tersebut berpindah tempat ke halaman rumah Abu Dujanah.

Dari kisah Ini dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan haram yang bukan miliknya. Sesusah apapun hidup jagalah diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. Setiap kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT sepuluh kali lipat sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad. Jika semua tidak didapatkan sekarang, maka akan di dapatkan di Akhirat kelak.


Sumber : I’anatut thalibin, juz III-293


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaPuasa dan Kesalehan Sosial
Berikutnya61 Tahun PMII: Refleksi Kaderisasi di Era Modernisasi