
25 November telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Guru Nasional. Seluruh siswa di sekolah pasti menyambutnya dengan antusias dan penuh kejutan. Hal yang sama terjadi di SMPN 2 Simpangwaras yang sibuk merayakan para guru di sekolah.
Aula sekolah didekor sederhana. Kursi-kursi disusun berbaris di depan panggung kecil dengan latar kain biru. Para guru duduk berderet, mengenakan baju dinas yang telah disetrika rapi.
Di antara mereka, Pak Hasan duduk di barisan tengah, tak jauh dari Bu Rika dan Pak Dedi. Di panggung, kepala sekolah sedang berpidato tentang peran guru, tantangan zaman, dan harapan agar guru tetap semangat, tidak hanya dalam mengajar tetapi juga dalam membentuk karakter para murid yang ada di sekolah.
Para murid menyimak dengan kadar perhatian yang berbeda: ada yang serius, ada yang diam-diam mengobrol, ada yang sibuk menulis poin-poin penting yang disampaikan oleh kepala sekolah.
Setelah sambutan, acara berlanjut ke penampilan murid. Ada paduan suara yang menyanyikan lagu “Hymne Guru”, ada pembacaan puisi, ada drama pendek tentang murid nakal yang akhirnya sadar, dan tentu saja, ada pembagian bunga untuk guru-guru.
“Sekarang kita masuk ke sesi spesial,” kata MC dari kalangan OSIS. “Salah satu siswa akan membacakan cerpen karyanya yang dipilih oleh Bapak-Ibu Guru untuk ditampilkan hari ini. Cerpen ini bercerita tentang seorang guru yang sederhana, tapi… sangat berarti.”
Pak Hasan mengangkat alis. Ia tidak tahu ada sesi ini.
“Untuk itu, kami persilakan Arkan kelas 9C.”
Seisi aula bertepuk tangan. Arkan berdiri pelan, membawa selembar kertas yang dilipat rapi. Langkahnya menuju panggung tampak tegang, tetapi matanya mantap.
Pak Hasan merasakan sesuatu merayap di dadanya.
Di panggung, Arkan berdiri di depan mikrofon, menghela napas sekali, lalu mengucap dengan lantang, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” aula menjawab serempak.
“Nama saya Arkan, dari kelas 9C. Hari ini, saya ingin membacakan cerpen saya yang berjudul ‘Kapur yang Tinggal Setengah’.”
Pak Hasan menahan napas. Itu cerpen yang ia baca beberapa hari lalu.
Suara Arkan memenuhi aula. Kalimat demi kalimat yang sebelumnya hanya terbaca di halaman buku kini mengalun langsung ke telinga semua orang: guru, murid, dan staf sekolah.
Setiap kali Arkan menyebut “Pak San”, Pak Hasan merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia melihat beberapa guru di barisan depan mulai terdiam, matanya berubah lembut. Beberapa murid bahkan ikut menunduk, seolah merasa sedang menjadi Raka dalam cerita itu.
Ketika Arkan sampai pada bagian, “Pak, kapurnya jangan dibuang, ya…” suaranya sempat bergetar. Aula sunyi. Hanya ada suara kipas angin dan napas yang ditahan.
Lalu, ia menutup cerpen dengan kalimat yang membuat beberapa orang, termasuk Pak Hasan, menelan ludah dengan bersusah payah:
“Terima kasih, Guru. Walaupun kapurmu tinggal setengah, kaulah yang mengajari aku cara menggambar masa depan.”
Sesaat, aula tetap hening. Lalu, tepuk tangan pecah. Ada yang biasa saja, ada yang sungguh-sungguh mendengarkan makna dari cerpen tersebut.
Pak Hasan menunduk. Ia merasakan ujung matanya panas.
Kepala sekolah berdiri dan berkata, “Terima kasih, Arkan. Cerpen yang sangat menyentuh. Guru-guru kita punya banyak nama, tapi mungkin di hati murid-murid, mereka akan selalu menjadi ‘Pak San’, guru yang kapurnya selalu tinggal setengah, tapi tak pernah berhenti menulis.”
Setelah acara usai, murid-murid mendatangi guru-guru mereka. Ada yang membawa bunga plastik, ada yang membawa cokelat kecil, ada yang hanya membawa senyum dan ucapan, “Selamat Hari Guru, Pak… Bu…”
Pak Hasan menerima beberapa bunga dari murid-murid. Ada bunga yang sudah layu, ada yang masih segar. Ia menerimanya dengan senyum.
Di tengah keramaian, Arkan perlahan mendekati Pak Hasan.
“Pak,” sapa Arkan.
Pak Hasan menoleh dan tersenyum. “Iya, Kan. Cerpennya… Bapak suka sekali.”
Arkan menunduk, tersipu. “Itu saya tulis… sedikit dari apa yang saya lihat di sekolah ini, Pak.”
“Tokoh Pak San itu siapa?” tanya Pak Hasan, setengah bercanda. “Gabungan beberapa guru, ya?”
Arkan menggigit bibir bawahnya, ragu. Lalu ia berkata pelan,
“Sebagian dari Bapak.”
Pak Hasan terdiam. Kertas ucapan di tangannya hampir terlepas.
“Kenapa Bapak?” suaranya nyaris tak terdengar.
“Karena…” Arkan menarik napas, lalu memberanikan diri menatap wajah Pak Hasan. “Bapak sering kelihatan capek, tapi kalau ngajar tetap senyum. Bapak jarang marah. Dan Bapak pernah bilang di kelas, kalau tulisan kami nggak rapi, Bapak masih mau baca. Katanya, selama kami mau berusaha, Bapak nggak akan menyerah duluan.”
Pak Hasan mencoba tertawa, tapi suaranya serak. “Bapak bilang gitu, ya?”
“Iya, Pak.” Arkan mengangguk. “Saya… awalnya cuma nulis. Tapi setelah baca lagi, kok kayak ada Bapak di situ.”
Hening sejenak.
“Pak,” lanjut Arkan, kali ini suaranya sangat pelan. “Saya nggak punya bunga. Saya juga nggak punya kado. Tapi kalau boleh… saya mau nitip ucapan Selamat Hari Guru lewat cerpen itu. Soalnya kalau ngomong langsung, saya takut nangis, Pak.”
Pak Hasan menatap Arkan lama-lama. Di matanya, ia tidak hanya melihat seorang murid. Ia melihat Raka dalam cerita tadi, anak-anak yang lain, dan dirinya sendiri di masa muda.
Ia mengulurkan tangan. “Terima kasih, Kan.”
Arkan menyalami tangan Pak Hasan. “Sama-sama, Pak.”
Sebelum melepas, Pak Hasan menepuk punggung tangan Arkan. “Dan terima kasih sudah mengingatkan Bapak… bahwa kapur yang tinggal setengah masih bisa menulis sesuatu yang berarti.”
Editor: Rara Zarary
Penulis: Nabila Rahayu


















