sumber ilustrasi: tirto.id

Assalamualaikum wr.wb

Saya mau tanya, hari apa yang paling baik untuk shalat taubat? Antara Senin-Minggu, apa sama-sama baiknya apakah ada keutamaan tersendiri dihari-hari itu? Mohon pencerahannya Ustadz. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr.wb,

(Widyi Prasetyo Nugroho)

Waalaikumussalam wrb.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terima kasih atas pertanyaannya, semoga kita selalu dalam lindungan Allah Swt. Tidak bisa dipungkiri setiap individu dari kita pasti pernah melakukan sebuah kesalahan dan dosa, maka dari itu tentunya kita harus bertaubat (meminta ampunan) kepada Allah Swt, menyesali dosa yang telah kita lakukan serta berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi.

Para ulama mengatakan bahwa taubat adalah sebuah kewajiban bagi kita, itu kenapa kita dianjurkan segera melakukan nya, tampa menunggu hari senin atau hari lainnya. Namun Ulama juga  memberi arahan, cara taubat yang benar dan dianjurkan.

Ulama mengajarkan sebelum kita meminta ampun kepada Allah Swt, kita dianjurkan untuk shalat dua rakaat dengan niat shalat taubat, baru selepas itu kita mulai meminta ampunan, ber- istighfar dan meminta maaf akan dosa yang pernah kita lakukan.

mam Nawawi dalam kitabnya, Nihayatuz Zain (1/106) menyebutkan;

وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة  

“Termasuk shalat sunah adalah shalat taubat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertaubat dengan niat shalat sunnah taubat.”

Dari penjelasan Imam Nawawi di atas bisa kita ambil kesimpulan, bahwa untuk waktu shalat taubat itu bisa dilaksanakan sebelum kita meminta ampunan kepada Allah Swt. Atau bahkan disunahkan pula kita shalat taubat setelah kita meminta ampunan kepada Allah Swt, sebagai wujud syukur dan meminta diterimanya taubat yang kita lakukan.

Kesunnahan shalat ini bertendensi terhadap sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam kitabnya Sunan At-Tirmidzi:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ لَهُ

“Tidaklah seseorang berbuat dosa lalu ia beranjak bersuci, melakukan shalat kemudian beristighfar meminta ampun kepada Allah kecuali Allah mengampuninya.”

Waallahua’lam…

Dijawab oleh: Faizal Amin (Mahasantri Mahad Aly Tebuireng)

SebelumnyaMahasantri Membangun Peradaban
BerikutnyaSampai ke Tanah Lombok, Tebuireng Perluas Syiar Agama