Jingga, Diam, dan Renungan Kata

sumber gambar: Ruang – Ruang – WordPress.com

Puisi oleh: Rif’atuz Zuhro

Jingga

Jingga, perpaduan mata Maha sempurna

Pesona alami tersirat rapi membasahi muka bumi

Ayu nan elok persembahan jari pertiwi

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lukisan petuah sejarah nenek moyang

 

Jingga, masih lestari abadi

Ruwatan suci hamba berserah diri, sahaya

Lahir dengan suci, begitu pun pergi, tetap Suci!

 

Jingga, nama sejuta cinta

Berkelok kelok menuju perabadian sempurna

Merekah sayup, dan ruwah perlahan lahan

Di sini, tempat peraduan pelabuhan kata kita

 

Jombang, Maret 2017


Diam

Diam, hanya bisa diam

Kedalaman, kebiruan lautan tak berarti isyarat Tuhan

Atau karam!

Karang yang parang

 

Layang, pandang hanya meminang masa-masa hitam

Bersuci, berdiam tanda tak melupa

Jika laku sudah tak mewakili

Jasad hanya terkunci

Bersaksi dengan keterasingan

 

Aku asing, usang

Berdebu tersedu-sedu

Tawanan sudah lepas, tak ada lagi yang menakutkan

Hanya hikayat yang akan tetap hayat

Meski dengan kepalang kita berperang

Tak akan ada kemenangan, apalagi kekalahan

 

Jombang, November 2016


Renung

Kisah nyata kusebut peluka

Kasih biru telah waktunya menguning dan merunduk

Dewasa akan segera bak padi, hanya tinggal memetik ranumnya

Esok hari bahaya karam menawar luka, Gagak bercula tak tahan ditanggung

Kuasa, lebih kuasa Sang Maha Agung

Sekuat apapun kisah tak lagi menjadi dongeng

Laila berengkarnasi berpindah dimensi menyelip datang di masa dewasa

Kuasa Rajaku lebih Mendaya

Laila tak berdaya, terbaring sendu bercucuran air hangat

Bersama lirih tak terbedayakan, entah tertipu, entah takdirnya yang malang

 

Akal mencapai ambang batas, logika tak dapat memutar isi

Rasa berasa terkeramasi, karsa lambat laun memudar pertahanan

Cinta tuna daksa, tak berkuasa menguasai Sang Penguasa

🤔  Goresan Janji Manis

Penguasa memang penguasa, Berkuasa atas takdir

Menentukan garis takdir yang berliku

Memoles elok garis yang membentang jabar tenggorokanku

Menyumbat pembuluh nadi cintaku

Merenggut fana yang terabadikan

Jombang, Juni 2016


Penulis adalah wartawan Tebuireng Online yang aktif di PMII Jombang