Oleh: Nur Indah*

Sampai saat ini, Covid-19 sudah menyebar lebih dari 190 negara dan teritori lainnya. Momen puasa Ramadhan tahun 2021 kali ini unik dan berbeda jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Adanya pengurangan pola makan saat puasa di tengah upaya untuk menjaga agar tidak terkena penyakit menular seringkali menimbulkan pertanyaan. Mungkinkah daya tahan tubuh akan tetap terjaga dengan berkurangnya porsi makanan saat puasa Ramadhan atau puasa lainnya? Masih belum diketahui secara pasti hubungan puasa Ramadhan dan Covid-19. Meskipun masih terbatas informasi mengenai hubungan puasa Ramadhan dan Covid-19, berikut ini terdapat pemaparan yang berupa uraian mengenai puasa di tengah wabah.

Sirkulasi sebuah virus covid-19 dapat ditransmisikan dan menginfeksi melalui tiga komponen; 1. Host, host adalah sistem imun dalam tubuh manusia, 2. Lingkungan, lingkungan adalah tempat di mana host bertempat tinggal/menghabiskan waktunya, 3. Agen, agen adalah perantara yang secara langsung mampu menyebarkan virus.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un dengan mengutip pendapat para dokter mengutip sebuah perkataan sebagai berikut:

“Anjuran para dokter atau ahli kesehatan yang hendaknya ditaati pada masa wabah di antaranya seperti mengeluarkan sisa makanan basah yang berlebihan dan mengurangi makan.” (Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un, Riyadh: Darul Ashimah, tanpa tahun, h. 340)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Maksud dari perkataan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani tersebut bukanlah sebuah bentuk pendapat dari ijtihad pribadinya, melainkan mengutip dari pakar di bidang kesehatan. Mengurangi makan yang dimaksud adalah mengendalikan diri agar tidak berlebih-lebihan dalam makan. Meskipun tidak berlebihan, nilai nutrisi yang terkandung dalam makanan yang dimakan tetap harus bisa mempertahankan kesehatan di masa pandemi.

Penelitian terbaru dari Li Q et.al (2020) menunjukkan bahwa Puasa mampu memperbaiki profil microbiota di dalam tubuh. Pada saat berpuasa terjadi perubahan metabolisme yaitu pemecahan cadangan lemak dan glukosa menjadi energi serta autofagi (pembongkaran bagian sel-sel yang sudah tua). Organ hati memecah cadangan energi dan organ pankreas mengurangi produksi hormon insulin, sebaliknya hormon glukagon meningkat (Nasihun et.al, 2018).

Lalu bagaimana dengan kondisi imun kita saat berpuasa? Pengaruh puasa terhadap sistem imun adalah dapat meningkatkan aktifitas makrofag. Manfaat puasa yang lain adalah dapat menurunkan resiko diabetes, CVD, kanker dan penuaan terhadap fisiologi manusia. Puasa Ramadhan juga dapat mengurangi berat badan dan massa lemak, terutama pada mereka yang memiliki gizi lebih atau obesitas.

Lalu, bagaimana cara mengoptimalkan diri kita di saat berpuasa? Berdasarkan rekomendasi WHO dan Kemenkes, beberapa cara dapat dilakukan untuk mengoptimalkan puasa Ramadhan di antaranya adalah menghargai rasa lapar dan haus dengan konsumsi makanan dan minuman yang tepat pada saat sahur dan berbuka. Makan secara sadar. Makanan harus mengandung semua kelompok makanan, yaitu mengandung sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Karena jumlah energi tergantung kebutuhan. Selain konsumsi makanan, cara mengoptimalkan gaya hidup selama puasa yaitu, tidur cukup (6-8 jam orang dewasa) dan melakukan aktivitas fisik yang bisa diintegrasikan dengan tugas sehari-hari).

Dari beberapa penguraian di atas dapat kita ketahui dan pahami bahwasanya puasa bukanlah hal yang membahayakan bagi tubuh kita, akan tetapi adakalanya kita harus mengetahui porsi dari diri kita masing-masing, kebutuhan dari diri kita masing-masing.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaCatatan Pemuda, Merekam dan Menyuarakan Nasionalisme
BerikutnyaBedah Majalah: Dag Dig Dug Estafet Pengasuh Pesantren