Tebuireng.online— Majalah edisi 72 “dag dig dug estafet pesantren” menjadi bagian atau edisi kedua yang dibedah oleh Tim Majalah Tebuireng. Untuk edisi 72 ini, Tim Majalah mengundang Gus Virza M. Mirza, Pengasuh Pesantren Al Masruriyah Tebuireng, sebagai pembedah pada Ahad (25/4).

Pengambilan tema “dag dig dug estafet pesantren” dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus meninggalnya para kiai dan pengasuh pesantren dalam kurun waktu 1 tahun belakangan ini.

Dalam pendangan kita, meninggalnya para masyaikh sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada para alim ulama, namun disisi lain ini sebagai hal yang menyedihkan karena meninggalnya para alim ulama juga akan terbawa ilmu-ilmu yang ada pada benak ulama. Hal ini menjadi kesedihan kolektif bagi umat Islam.

Acara bedah majalah ini diselenggarakan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng Jombang, selepas tarawih hingga pukul 22.30. Turut hadir santri Pesantren Tebuireng, Redaktur Majalah Tebuireng, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Kepemimpinan pesantren manjadi salah satu pendorong maju dan berkembangnya pesantren. Bagimana kiai menjadi pengasuh yang tidak hanya mengasuh pesantren dan santri-santrinya juga harus mengasuh masyarakat dengan segala problematika yang dihadapinya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lalu bagimana jika pengasuh pesantren meninggal dunia, siapakah yang akan menggantikannya dan seberapa dag dig dug penggantinya?

Estafet atau pergantian kepemimpinan pesantren menjadi problematika internal pesantren. Tim rembuk Majalah Tebuireng menyajikan macam-macam pemilihan pengasuh pesantren diantaranya melalui voting atau pemilihan secara kekeluargaan dan dengan melakukan musyawarah masjis pengasuh.

“Saya hari ini menjadi salah satu yang dag dig dug karena baru saja ditinggal oleh ayah saya, namun dalam hal ini saya tidak boleh bersedih terlalu lama, keesokan harinya harus kembali gembira dan semangat untuk pengabdian,” ungkap Gus Mirza, putra almarhum KH. Agus M. Zaki Hadziq.

Menurutnya, dalam hal ini transisi pengasuh pesantren terjadi dibeberapa pasantren, dan tentunya pesantren harus tetap dinamis dan eksis siapa pun pemimpinnya pesantren harus hadir menjadi garda terdepan dalam hal apa pun terutama dalam membela bangsa dan agama.

“Secara psikolagis tentu siapa yang tidak mengalami kesedihan ketika ditinggal sosok seorang ayah, hal ini harus cepat kita tutupi, kerena keesokan harinya harus kembali mengabdi dalam keadaan usia yang masih muda,” terangnya.

Pada umumnya di luar sana, lanjut Gus Mirza usia muda masih bermain dan berekplorasi. Namun bagi kami harus mengabdi. Yang dengan segala keterbatan saya. Tentu bukan hal yang mudah untuk memimpin pesantren yang baru dirintis ini. Tetapi  pengabdian ini menjadikan hati tenang dan tentram.

“Di usia saya yang tergolong muda ini, kemudian mengalami transisi kepemimpinan, maka  yang tercipta lebih milenial, komunikasi kiranya akan tercipta dua arah. Baik dalam menghadapi santri yang nakal atau fenomena-fenomena pesantren lain,” imbuhnya.  

Gus Mirza mengakui, bahwa Ia tidak pernah bercita-cita menjadi kiai.

“Saya yang saat ini masih kuliah di Yogyakarta lebih menginginkan menjadi santri yang multitalenta, santri yang bisa fisika atau lainnya, karena tidak semua santri menjadi kiai. Saat ini oriantasi saya bukan menjadi Kiai tapi masih mengabdi,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Mirza juga menjelaskan bahwa status leluhur itu tergantung generasi setelahnya, maka jika kita bertingkah laku kurang baik, leluhur kita juga akan turut mendapatkan predikat kurang baik. Baginya, dalam romantisme pendidikan pesantren nisbat gelar itu harus dilepaskan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan sifat sombong.

“Proses pendidikan karekter dipesantren memang sangat memiliki peran, baik dalam mengantri makan atau mandi hingga tidur dan hal hal sederhana lain yang kadang tidak disadari itu membentuk karakter dan pola kepemimpinan setiap santri,” ungkap Denta Fatwa Fatahillah, moderator acara yang juga Redaktur Majalah Tebuireng.

Untuk diketahui, bedah majalah ini dilaksanakan secara offline di Perpustakaan Tebuireng dan online di akun instagram serta kanal youtube Majalah Tebuireng.

Pewarta: Wahyu wh

SebelumnyaJangan Ragu! Puasa Dapat Tingkatkan Imunitas Tubuh Saat Pandemi
BerikutnyaNgaji Gagasan Pendidikan Maqasidi ala Ibnu ‘Asyur