Novel Tere Liye, “Selamat Tinggal”. (foto: ila/mt)

Novel Selamat Tinggal karya Tere Liye sebetulnya lebih seperti curhatan Tere Liye atas banyaknya buku bajakan dan barang bajakan lain yang beredar di masyarakat.

Siapa yang salah dalam kasus pembajakan buku ini? Tetap, yang goblok adalah penulisnya. Maha sempurna dan maha suci para pembajak dan pembeli buku bajakan. Juga orang-orang yang asyik membagikan file e-book ilegal lewat WhatsApp, mendownload PDF bajakan di internet. Mereka sungguh mulia. Itulah yang ditulis dan disinggung Tere Liye dalam Novel Selamat Tinggal.

“Di dunia ini, yang berhak mendapatkan nafkah keluarga hanyalah para pembajak dan jutaan pengguna produk ilegal, termasuk e-book ilegal. Mereka berhak mendapatkan nafkah jika bekerja. Sementara penulis, keluarga penulis, sama sekali tidak berhak. Karena, jika menulis dan berharap dapat nafkah dari tulisan yang ditulis berbulan-bulan, bertahun-bertahun, maka kamu adalah penulis paling munafik karena tidak ikhlas menulis, dan golongan orang munafik dijamin masuk neraka. Sedangkan pembajak dan penikmat bajakan lah yang masuk surga. Aparat penegak hukum yang tutup mata dengan fakta itu, juga akan masuk surga tingkatan paling tinggi. Karena mereka selalu benar.” (hal. 318-319)

Mungkin jika kita membaca novel Selamat Tinggal versi bajakannya, rasanya akan disindir tak henti-henti hingga akhir. Beruntung saya membeli versi aslinya di Gramedia.

Novel ini bercerita tentang pemuda bernama Sintong Tinggal dari Sumatra yang diterima di suatu kampus besar Ibu Kota, Jakarta. Selama di Jakarta, semua kebutuhan kuliah, SPP, uang kos, dan uang makan ditanggung oleh Paklik Maman (adik kandung ibunya). Namun sebagai gantinya, Sintong harus menjaga sebuah toko buku milik Paklik Maman di dekat kampusnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam bayangan Sintong, toko buku milik Paklik Maman pastinya besar, keren, bagus, ternyata sebaliknya. Toko buku milik Paklik Maman adalah toko buku bajakan yang telah memiliki beberapa cabang di Ibu Kota.

Sintong yang bercita-cita menjadi penulis awalnya enggan, tapi bagaimana lagi? Ia tak punya pilihan selain menjaga toko itu. Sintong adalah Mahasiswa tahun keenam jurusan Sastra, yang berarti telah menjaga toko buku bajakan selama enam tahun juga. Di tahun ketujuhnya yang merupakan kesempatan terakhir dari pak Dekan, ia berhasil menyelesaikan skripsinya dengan judul yang sangat menarik.

Tentang Sutan Pane: seorang pahlawan besar yang hilang tanpa kabar, seorang penulis netral yang berani dan selalu menyerukan kebenaran. Sintong menelusuri jejak Sutan Pane dalam tulisan-tulisannya.

“Tulislah sesuatu yang harus dibaca banyak orang, bukan yang ingin dibaca banyak orang”- Sutan Pane (hal. 121).

Dan di tahun itu juga, Sintong memutuskan untuk berhenti menjaga toko buku bajakan milik Paklik Maman. Istri Paklik Maman marah, menyangka jika Sintong berhenti karena ingin melaporkan toko buku bajakan ke pihak berwajib. Padahal, ia hanya ingin berhenti dan menjadi lebih baik, tak pernah ada niat seperti itu, terlintas di kepala pun tidak. Setelah wisuda, skripsi Sintong berhasil diterbitkan dengan judul “Sutan Pane. Suara Lantang di Tengah Senyap”.

Dan Sintong melanjutkan S2 fakultas literasi Belanda dengan jalur beasiswa penuh. Sebenarnya, konflik barang bajakan dalam cerita ini ada banyak. Tapi lebih baik jika kalian baca sendiri, itu akan lebih seru. Apakah barang bajakan itu dibeli karena konsumen belum mampu membeli yang asli? Tidak juga.

“Sebenarnya, bahkan di negara maju, barang bermerek memang untuk pasar segmen atas. Namanya juga menjual merek, desain, prestise, maka nilai tambahnya tinggi. Seharunya, jika penduduk kita tidak mampu membelinya, mereka bisa menggunakan produk lokal. Toh, banyak produk lokal yang tidak kalah kualitasnya, soal merek saja yang tidak terkenal. Mungkin karena penduduk kita suka pamer, simbol kesuksesan. Di negara dengan karakter konsumen suka pamer, produk tiruan laku keras. Di Indonesia saja, mungkin nyaris delapan puluh triliun nilai produk palsu ini setiap tahunnya.” (hal. 60)

Seperti biasa, Tere Liye memang ahli dalam membuat cerita tentang pencarian jejak lama seseorang. Seperti novel-novel, Janji dan Tentang Kamu. Gaya bahasa yang khas dan ringan menjadi nilai tambah penulis satu ini. Pesan yang disampaikan pun adaptif. Yang pasti, buku ini layak untuk dibaca, tapi jangan beli bajakannya ya.

Lantas, Apakah kita termasuk orang yang suka mengonsumsi barang bajakan seperti cerita dalam novel ini? Bagaimana jika sebenarnya kitalah yang menjadi inspirasi dari tulisan itu? Pengguna barang bajakan yang sesungguhnya.

Judul Buku: Selamat Tinggal
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal: 360 halaman
Tahun Terbit: 2020
Peresensi: Lailatul Hidayah

SebelumnyaIngin Jadi Pemimpin Sukses? Miliki 6 Karakter Umar bin Abdul Aziz
BerikutnyaSiswi MASS  Tebuireng Raih Juara 2 MHQ Nasional