Oleh: Dimas Setyawan*

Setiap memasuki bulan Ramadan, tak jarang umat muslim di Indonesia memperbincangkan  tentang jumlah rakaat shalat Tarawih yang berbeda bilangannya. Ada sebagian kelompok melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Adapula yang melaksanakan shalat Tarawih hanya 8 rakaat. Bahkan ada juga yang melaksanakan Shalat Tarawih sebanyak 36 rakaat. Di sini penulis mencoba menjabarkan dalil serta alasan kelompok yang melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat.

Definisi Shalat Tarawih

Shalat Tarawih adalah shalat sunnah yang dilakukan hanya di bulan Ramadan. Dilaksanakan shalat Tarawih ini adalah untuk menambah pahala dan ganjaran kaum muslimin semasa bulan Ramadan. Bila siang melaksanakan puasa, maka untuk menambah pahala kaum muslimin melaksanakan shalat Tarawih. Untuk waktu pelaksanaannya, shalat Tarawih dilaksanakan setelah shalat Isya.

Dalil Shalat Tarawih 20 Rakaat

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ، قَالَ إِبْرَهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ الْحَكَمِ، عَنْ مِقْسَمِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاس، أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم، كَانَ يُصَلّيِ فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالوِتْر. (رواه إبن أبي شيبة / المصنف ج ٢ /١٦٣)

Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Usman dari Hakam, dari Miqsam, dari Ibni Abbas, “sesungguhnya Rasullullah SAW melakukan shalat dua puluh rakaat dan witir di bulan Ramadan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

عَنْ يَزِد بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَقُومُون فِي زَمَانِ عُمَر بن الخطاب، فِي رَمَضَانَ، بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةَ. (رواه مالك، الوطأ، ج ١/ ١١٥)

Dari Yazid bin Ruman berkata, “di zaman Umar bin Khattab, umat manusia melakukan shalat di bulan Ramadan dengan dua puluh tiga rakaat.” (HR. Imam Malik)

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ حَسَنِ بنِ صَالِحٍ، عَنْ عَمْرِو بن قَيْسٍ، عَنْ ابن أَبِي الحَسْنَاءِ، “أَنَّ عَلِيًّا أَمَرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِهِم فِي رَمَضَنَا عِشْرِينَ رَكْعَةً (مصنف ابن شيبان، ج ٢/ ١٦٣)

Waki’ menceritakan kepada kami, dari Hasan bin Saleh, dari Amar bin Qais, dari Ibnu Abi Al-Hasna’, “Sesungguhnya Ali telah perintahkan kepada seorang laki-laki untuk melakukan shalat bersama umat Islam di bulan Ramadan dengan dua puluh rakaat.” (HR. Ibn Abi Syaiban)

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بنِ أَنَسٍ، عَنْ يَحْيَ بنِ سَعِيدٍ، أَنَّ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ أَمَرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِهِم عِشْرِينَ رَكْعَةً (مصنف ابن ابى شيبان، ج ٢/ ١٦٣)

Waki’ menceritakan kepada kami, dari Malik bin Anas, dari Yahya bin Sa’id, Sesungguhnya Umar bin Khattab telah memerintahkan seorang laki-laki untuk shalat bersama umat Islam di bulan Ramadan dengan dua puluh rakaat.” (HR. Ibn Abi Syaiban)

Shalat Tarawih Delapan Rakaat

Menurut pendapat yang masyhur, Nabi keluar selama tiga malam, yaitu pada malam ke-23, ke-25, dan ke-27, dan tidak keluar pada malam ke-29. Tidak keluarnya Nabi tersebut untuk mematuhi keramahan mereka, Nabi pun hanya melaksanakan delapan rakaat bersama mereka dan melanjutkan sampai 20 rakaat di rumah. Sahabat pun demikian, melanjutkan jumlah rakaat di rumah, dengan tanda didengarnya sampai 20 rakaat di masjid adalah sebagai bentuk kemurahan hati Nabi kepada para sahabat.

Dari sinilah dapat diketahui bahwa jumlah rakaat salat tarawih tidak hanya delapan rakaat seperti yang dilakukan oleh Nabi dan bersama para sahabat. Hal ini diketahui dengan disempurnakannya jumlah rakaat salat di rumah mereka.

Diperjelas dengan tindakan Umar RA, bahwa jumlah rakaat salat tarawih sebanyak 23 rakaat. Pada akhir masa pemerintahannya, beliau mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan 20 rakaat salat tarawih di masjid. Sahabat pun sepakat dan tidak ada pertentangan pada masa para Khulafaur Rasyidin dan sesudahnya (mereka terus melaksanakan jama’ah salat tarawih sebanyak 20 rakaat)

Shalat Tarawih 36 Rakaat

Memang benar pada masa Umar bin Abdul Aziz (Gubernur Madinah pada waktu itu) terjadi penambahan jumlah rakaat tarawih menjadi 36 rakaat. Namun tujuan adanya penambahan tersebut untuk menyamakan keutamaan penduduk Mekkah.

Hal ini dikarenakan pada saat itu juga para jamaah melaksanakan tawaf yang dilakukan setiap empat rakaat (dua kali salam). Menurut Umar bin Abdul Aziz, selaku imam pada saat itu, memandang bahwa tawaf dapat diganti dengan empat rakaat salam (dua kali salam)

Beberapa ibarat di atas merupakan dalil atas sahnya ijtihad para ulama tentang penambahan sesuatu dalam suatu ibadah yang di syari’atkan. Karena memang sudah semestinya bagi seorang manusia melaksanakan salat Sunnah sebisanya pada waktu siang dan malam Hariz kecuali dalam beberapa waktu yang telah dilarang syari’at.

Maka dari itu, menurut empat Madzhab jumlah rakaat salat tarawih sebanyak 20 rakaat tanpa witir. Malikiyah (Madzhab Imam Malik) berpendapat bahwa salat tarawih berjumlah 20 rakaat tanpa salat witir. (Lihat al-Fiqh ala al-Madzhib al-Arba’ah)

Dalam kitab al-Mizan karya al-Sya’rani halaman 148, tentang jumlah rakaat tarawih pada bulan Ramadhan menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan imam Ahmad adalah 20 rakaat. (Imam Syafi’i berkata: jumlah 20 rakaat lebih aku sukai). Sedangkan jika dilaksakan berjamaah lebih baik menggunakan pendapat Imam Malik dalam suatu riwayat, yaitu sebanyak 36 rakaat.

Shalawat diantara Rakaat Tarawih

Setiap dua rakaat shalat tarawih disela dengan bacaan shalawat. Tindakan tersebut bermula dari riwayat seorang sahabat yang melakukan shalat Jum’at, lalu dilanjutkan shalat berikutnya. Sementara sahabat lain ada yang menegur;

Abu Bakr Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Ghundar menceritakan kepada kami, dari Ibni Juraij berkata, Umar bin Atha’ bin Abi Khuwar mengabarkan padaku, “Sesungguhnya Nafi’ bin Jubair mengutusnya kepada Saib bin Ukhti Namir untuk tanya tentang sesuatu yang ia lihat, yaitu ketika Muawiyah shalat, maka Saib menjawab, ‘Ya saya shalat Jumat bersamanya di rumah yang luas ketika imam salam, maka saya berdiri melakukan shalat di tempat saya. Ketika Muawiyah masuk, dia kirim surat pada saya, dia berkata, ‘Jangan kau ulangi apa yang telah kamu lakukan. Ketika kamu selesai shalat Jumat, jangan kamu menyambung dengan shalat yang lain sehingga kamu berbicara atau keluar. Dikarenakan Rasullullah SAW memerintahkan kami demikian agar satu shalat tidak disambung dengan shalat lain sehingga kami berbicara atau keluar”. (HR. Muslim)

Dengan adanya dalil tersebut, shalat Tarawih juga dipisah dengan zikir, sebab tujuannya untuk membedakan antara shalat pertama dengan shalat berikutnya. Karena shalat Tarawih tidak memungkinkan untuk bergeser ke tempat sebalah, maka cara pemisahnya adalah dengan melantunkan zikir.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

 

Sebelumnya61 Tahun PMII: Refleksi Kaderisasi di Era Modernisasi
BerikutnyaMengenang Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari