ilustrasi islam rahmatan lil 'alamin
ilustrasi islam rahmatan lil ‘alamin

Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Tidak hanya pada manusia, kasih sayang yang dipancarkan oleh Islam juga dapat dirasakan bagi binatang dan tumbuhan. Banyak sekali hal-hal yang bisa kita jadikan bukti untuk pernyataan di atas.

Sebelum menyebutkan bukti-bukti yang mendukung pernyataan di atas, alangkah baiknya pembahasan ini kita bagi menjadi tiga poin; kasih sayang Islam kepada manusia, kepada binatang, dan kepada tumbuhan.

Kasih Sayang Islam kepada Manusia

Untuk poin pertama, tentunya sangat banyak kita saksikan cahaya kasih sayang yang dipancarkan Islam kepada kita. Salah satunya dalam masalah najis. Meski terdengar sepele, namun tidak bisa dipungkiri hal ini sangat penting bagi kita. Karena mempunyai dampak pada ibadah kita.

Dalam fikih Islam, cara menyucikan pakaian yang terkena najis cukuplah sederhana. Jika najisnya termasuk najis ringan, cukup memercikan air pada bagian yang terkena najis. Dan jika najisnya berat, seperti jilatan anjing atau babi, maka dibasuh dengan air sebanyak dan tujuh kali, yang salah satu basuhannya dicampur dengan debu. Sedangkan najis yang sedang, maka cukup dibasuh dengan air sampai sifat-sifat najisnya menghilang.

Berbeda dengan syariat-syariat sebelum kita. Metode penyuciannya bisa dibilang sulit. Yaitu dengan cara memotong bagian yang terkena najis, yang merupakan satu-satunya cara menyucikannya. Pasti hal ini akan sangat menyulitkan, bisa jadi pakaian kita habis jika harus dipotong tiap kali terkena najis.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tidak berhenti sampai di situ, bahkan ada beberapa najis, seperti bangkai lalat, yang ditolerir oleh syariat. Dalam artian, jika terdapat najis-najis yang dimaksud masuk pada minuman kita, lalu hewan itu mati, minuman kita tidak dihukumi najis dan boleh-boleh saja dikonsumsi. Tentu hal ini adalah bentuk kasih sayang Islam pada kita. Bayangkan saja seandainya bangkai lalat tidak ditolerir, berapa banyak minuman yang terbuang, mengingat kita yang sering lupa menutup minuman maupun makanan.

Kasih Sayang Islam kepada Binatang

Selanjutnya, bentuk kasih sayang Islam kepada binatang. Dalam kajian fikih pada bab tayammum. Ada banyak kondisi-kondisi yang diperbolehkan untuk melakukan tayammum. Umumnya kondisi yang sering kita dapati adalah tidak adanya air yang digunakan untuk berwudhu.

Namun ternyata ada salah satu kondisi, di mana pada kondisi tersebut masih terdapat air, tapi kita masih boleh untuk bertayammum. Yakni jika terdapat binatang di sekitar kita, dan binatang tersebut tampaknya membutuhkan air untuk minum. Namun dengan catatan binatang tersebut adalah binatang yang dimuliakan. Jika itu binatang yang tidak dimuliakan, maka kita tidak boleh untuk bertayammum.

Dalam kondisi ini, Islam lebih mendahulukan agar air yang kita punya diberikan kepada binatang dari pada digunakan berwudhu. Padahal kita tahu, wudhu adalah alat utama untuk bersuci, sekaligus menjadi wasilah kita beribadah kepada Allah. Masalah ibadah yang sifatnya penting, namun karena kasih sayang Islam kepada seluruh makhluk, kebutuhan binatang lebih diprioritaskan.

Kasih Sayang Islam kepada Tumbuhan

Dan yang terakhir, bukti kasih sayang Islam kepada tumbuhan. Jika kita menelaah kembali materi tentang aturan jihad, kita akan menemukan bahwa siapapun yang ikut serta dalam perang, tidak boleh merusak tanaman maupun tumbuhan, bahkan bangunan yang ada di medan perang.

Dalam keadaan segenting jihad pun, di mana para pasukan muslim sedang bersemangat dan bergairah untuk menyingkirkan para musuh-musuhnya, Islam masih saja memperhatikan makhluk di sekitar kita.

Kiranya dengan sedikit uraian di atas, sudah cukup untuk meyakinkan kita bahwa agama yang kita yakini saat ini, adalah agama yang benar-benar rahmatan lil alamin. Dan sudah menjadi keharusan pula, sebagai pemeluk agama Islam, untuk mengamalkan nilai yang terdapat di dalam agama Islam.

Baca Juga: Islam Rahmatan lil Alamin di Era Modern | Tebuireng Online


*Ditulis oleh: M. Ahsani Taqwim AJ, Mahasantri Ma’had Aly An-Nur II Al-Murtadlo