Sumber: Pewarta

Tebuireng.online— Kaderisasi jurnalis-jurnalis muda dari kalangan pelajar Nahdlatul Ulama (NU) perlu digalakkan. Dari level akar rumput hingga nasional, IPNU-IPPNU lah yang harus menggemban tugas tersebut  Dibutuhkan program yang rutin dan istikamah dalam mewujudkan hal tersebut, seperti kegiatan Madrasah Jurnalistik yang diadakan oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar NU-Ikatan Pelajar Putri NU (IPNU-IPPNU) Mojowarno Jombang pada Ahad (30/09/2018).

“Kegiatan semacam ini harus dilaksanakan rutin. Harus ada dari alumni Madrasah Jurnalistik ini nantinya benar-benar menjadi jurnalis baik di lingkup NU maupun di media-media nasional,” jelas Pemimpin Redaksi (Pemred) Tebuireng Online M. Abror Rosyidin, saat menjadi pemateri dalam Madrasah Jurnalistik PAC IPNU-IPPNU Mojowarno siang tadi.

Ia juga menjelaskan bahwa jurnalistik sangat diperlukan dalam mempertahankan jamiyyah dan jamaah NU. “Madrasah jurnalistik ini, selain untuk melatih generasi muda NU menjadi jurnalis, juga untuk mempertahankan jamiyah ini di masyarakat, karena bukan hal yang mudah jika tidak dibenahi dengan kegiatan semacam ini,” ungkapnya.

Pria yang juga pernah aktif di PAC IPNU Sooko Mojokerto itu menilai, untuk menjadi penulis dan jurnalis, rekan dan rekanita harus rutin berlatih dan istikamah. “Trik menjadi jurnalis yang  baik, dibutuhkan keistikamahan dan kegigihan dalam belajar,” imbuh pria asal Kemlagi Mojokerto ini.

Ketua PAC IPNU Mojowarno, Ahmad Wahyudi Utomo mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya IPNU-IPPNU Mojowarno memperkenalkan dunia media dan jurnalistik kepada rekan-rekanita dan memunculkan kader-kader jurnalistik baru yang baik, hebat, dan inovatif.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Madrasah Jurnalistik ini diadakan tiga kali dalam tiga minggu. Sebanyak 12 orang dari beberapa pimpinan ranting di Mojowarno. Selain belajar berita dan ragam materi jurnalistik, mereka juga diajarkan tentang internet sehat pada pertemuan berikutnya.


Pewarta: Peserta Madrasah Jurnalistik IPNU-IPPNU Mojowarno

Publisher: Muh Sutan

SebelumnyaHalaqoh BEM Pesantren: Mobilitas dan Panggung Politik Santri
BerikutnyaTuan Guru, Pejuang Asal Maluku di Tanah Afrika