
Dalam pembahasan teologi Islam, kepercayaan kepada qadha dan qadar sering dipahami secara berbeda oleh sebagian kalangan. Ada yang memahaminya secara fatalistik, seolah-olah manusia tidak memiliki peran dalam menentukan nasibnya. Pandangan seperti ini mendekati paham Jabariyah, yang menekankan bahwa segala sesuatu sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan. Akibatnya, manusia bisa menjadi pasif dan kurang terdorong untuk beramal.
Namun dalam perspektif Ahlussunnah, posisi yang diambil adalah jalan tengah. Manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha dan beramal, tetapi hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada di tangan manusia. Keselamatan akhirat tetap bergantung pada rahmat Allah. Dengan demikian, terdapat keseimbangan antara usaha manusia dan kehendak Tuhan.
Baca Juga: Tadabbur Surah Al-Ashr dan Alarm Kehidupan Kita
Pemahaman ini sejalan dengan pandangan Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī yang menjelaskan bahwa amal bukanlah penentu mutlak masuk surga. Amal hanya berfungsi sebagai sebab atau jalan (wasilah), sedangkan yang benar-benar menentukan adalah rahmat Allah. Dengan kata lain, manusia wajib beramal, tetapi tidak boleh merasa bahwa amalnya cukup untuk menjamin keselamatan.
Al-Qur’an memang menyebutkan bahwa manusia akan masuk surga karena amalnya. Hal ini terlihat dalam firman Allah:
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan baik. Mereka mengatakan: ‘Salam sejahtera atas kalian, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kalian kerjakan.’” (QS. an-Naḥl: 32)
Selain itu, Allah juga berfirman:
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian karena apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. az-Zukhruf: 72)
Baca Juga: Embriologi Membuktikan Kebenaran Al-Quran, Ini Penjelasannya
Secara lahiriah, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa amal menjadi sebab masuk surga. Namun, para ulama menjelaskan bahwa makna tersebut tidak boleh dipahami sebagai hubungan “jual beli” atau pertukaran. Amal bukanlah harga yang setara dengan surga, melainkan tanda ketaatan dan kelayakan seseorang di hadapan Allah.
Hal ini diperjelas oleh hadis Nabi yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya, bahkan Rasulullah sendiri, kecuali dengan rahmat Allah. Hadis ini bukan untuk meremehkan amal, tetapi untuk menegaskan bahwa amal manusia, betapapun banyaknya, tidak akan sebanding dengan kenikmatan surga yang kekal. Oleh karena itu, rahmat Allah tetap menjadi faktor utama.
Hubungan antara amal dan rahmat ini juga dijelaskan dalam firman Allah:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-‘Ankabūt: 69)
Ayat ini menunjukkan bahwa usaha manusia datang terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan bimbingan dari Allah. Artinya, rahmat Allah hadir melalui proses usaha tersebut. Manusia tidak boleh hanya menunggu tanpa berbuat, tetapi harus berusaha dengan sungguh-sungguh.
Dari sini dapat dipahami bahwa rahmat Allah tidak terpisah dari amal, melainkan bekerja melalui amal itu sendiri. Rahmat Allah tampak dalam bentuk kemampuan untuk beramal, bimbingan dalam menjalankannya, serta diterimanya amal tersebut. Tanpa rahmat ini, manusia tidak akan mampu melakukan kebaikan.
Baca Juga: Kekuatan Ilmiah dalam Al-Quran: Mengungkap Fakta Sains Semut yang Menakjubkan
Selain itu, Islam juga mengajarkan bahwa amal tidak hanya berupa perbuatan lahiriah, tetapi juga mencakup sikap batin seperti keikhlasan, rasa malu, dan adab. Al-Qur’an menggambarkan sosok perempuan yang baik dengan firman-Nya:
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan rasa malu…” (QS. al-Qaṣaṣ: 25)
Ayat ini menunjukkan bahwa kualitas batin juga menjadi bagian penting dalam amal seseorang. Pada akhirnya, penting untuk menghindari dua sikap ekstrem: meremehkan amal dengan alasan takdir, atau terlalu mengandalkan amal hingga merasa pasti selamat. Keduanya tidak sesuai dengan ajaran Ahlussunnah.
Dengan begitu, keselamatan akhirat tidak hanya ditentukan oleh amal, tetapi juga tidak terlepas dari amal. Amal adalah jalan yang harus ditempuh, sedangkan rahmat Allah adalah penentu akhirnya. Manusia harus berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap rendah hati karena keselamatan sejati adalah anugerah dari Allah.
Penulis: Aulia Rachmatul Umma
Editor: Rara Zarary


















