ilustrasi: anisafj

Oleh: Mayang Dienalendra*

Pagi ini, baju pramuka membalut tubuhku. Aku duduk di bangku tengah, bersandar pada dinding berjendela. Merangkai kata-kata dan mulai mengingat apa yang pernah terjadi. Mengingatnya, dapat membuatku menangis tak menyangka aku dapat duduk di sini.

Awalnya hanya ingin tau saja. Tak berharap lebih untuk bisa berada di sini. Namun, orangtuaku mendaftarkan, mengantarkan aku mengikuti ujian masuk dan sabar menunggu hasilnya.

Waktu itu setelah try out, aku memasuki kelas untuk melalukan kegiatan KBM seperti biasa. Mendengarkan guru Bahasa Indonesia menjelaskan dan berakhir sebuah tugas yang harus dikerjakan.

Aku duduk di bangku tengah paling belakang. Bu Erna Guru Bahasa Indonesiaku sekaligus wali kelasku menghampiriku yang tengah sibuk mengerjakan tugas. Menepuk pundakku pelan, menyadarkanku akan kedatangannya. Menjabat tanganku tiba-tiba.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Selamat ya,” ucapnya sembari menepuk bahuku pelan. Meninggalkanku dengan banyak pertanyaan.

“Maksudnya?” tanyaku pada diriku sendiri tanpa akan ada yang menjawabnya.

Pada akhirnya, aku temukan jawabannya dari rumah. Iya, aku diterima. Di tempat di mana aku duduk sekarang, MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng.

Di sini, tempatku mencari ilmu selanjutnya. Dan Pondok Putri Pesantren Tebuireng adalah rumah kedua, setelah rumah di mana aku dibesarkan dan diajarkan mandiri seperti sekarang.

Berharap dengan aku di sini, aku bisa lebih baik ke depannya. Menjadi perempuan yang tak seperti kata orang, dan berharap menjadi perempuan yang selalu dibutuhkan. Aku luruskan niatku karena-Nya, belajar dan usaha untuk sebuah cita-cita. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat pastinya.

*Santri Tebuireng, asal Semarang.

SebelumnyaCara Rasulullah Memuliakan Tamu Non Muslim
BerikutnyaSiapkan Daya Saing Santri, Tebuireng Gelar Simulasi UTBK Serentak