Oleh: Ahmad Musta’in Syafi’ie*

122 tahun lalu, Pesantren Tebuireng lahir. Satu-satunya pondok pesantren yang tidak punya nama, “…Ulum, Al-Fulan, al-Anu…” Tebuireng itu nama pedukuhan yang kemudian menggelinding menjadi nama pesantren.

Hal demikian karena pendirinya seorang sufi pengamal faham dafn al-wujud milik Ibn Athaillah al-Sakandari, Shahib al-Hikam. Menutupi jati diri (mendhem jero) dan tak suka tenar.

Persis seperti para Wali Songo yang namanya hilang ditelan nama desa di mana sang wali tinggal. Seperti Sunan Ampel, Derajat, Kudus, Gunung Jati dst.

Atau, sengaja tidak memproklamirkan lembaganya demi mengelabuhi penjajah yang sangat mencurigai santri sebagai sosok paling militan. Makanya, hingga berjalan kurang lebih tujuh tahun, pemerintah Hindia Belanda baru mau mengakuinya. Meski tak bernama, ya Tebuireng itu namanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tepatnya, Tebuireng adalah kampung sekaligus pesantren atau pesantren sekaligus kampung. Pengajian kitab salaf yang istikamah dengan santri yang semuanya sudah dewasa dan memahami keadaan.

Pesantren ini membangun pendidikan, menggembleng anak bangsa dengan kurikulumnya sendiri sebelum NKRI lahir.

Acap kali pengajian kitab mendadak libur karena bunyi tembakan bertubi, pertanda penjajah geram terhadap gerilya misterius. Dan sang kiai sudah tahu, bahwa itu gaya jihad santrinya sendiri.

Tebuireng, bahkan pernah dibom hingga dua kali dan bi idzn Allah selamat. Sang kiai itu adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (HA), seorang ulama aktivis yang sangat peduli terhadap umat dan bukan seorang kiai yang hanya mengajar saja di dalam pesantrennya sendiri. Makanya yang diurus adalah organisasi, termasuk NU dan Masyumi.

Belum pernah terjadi umat Islam negeri ini bersatu dalam satu wadah organisasi, kecuali hanya sekali, yakni dalam Masyumi dengan pimpinan HA. Benar-benar bapak pemersatu umat yang mengagumkan.

HA tidak punya karya tulis yang utuh dan monumental, seperti kiai Nawawi Banten atau kiai Mahfudh Termas dll. Semua tulisannya adalah kurrasah, kitab praktis sebagai refleksi pemikiran beliau terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah umat.

Hebat, fatwa-fatwanya dituangkan dalam tulisan. Kitab “al-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-maulid bi al-Munkarat” adalah bukti kritik dan ketidakrelaan HA terhadap segala bentuk kemaksiatan di masyarakat.

Tidak seperti kebanyakan ilmuwan sekarang cenderung toleransi, meski hakikatnya lemah iman. Juga lebih hobi berceramah ketimbang menulis. Mungkin karena ceramah itu lebih sederhana dan lebih “ngerejekeni”.

Tinggalan HA kini berkembang menjadi banyak unit pendidikan, termasuk Madrasatul Qur’an, Pesantren Sains, Ma’had Aly dan Universitas Hasyim Asy’ari hingga tingkat magister. Tapi sayang, pemikir besar, pejuang mukhlis dan penulis terampil belum nampak. Mudah-mudahan penguasa akedemik sekarang mewarisi sosok HA dan tidak money oriented.

Saat membaca gelagat sebagian saudara-saudara muslimin menfasilitasi “syiqaq” yang mengarah ke “talak tiga” antara Islam dengan Indonesia, Tebuireng dengan HA-nya bersama para kiai berusaha merujukkan, bahkan menyelenggarakan “tajdid al-nikah” pasutri tersebut, “Islam dan Indosesia”, seperti ter-blow up dalam komite Hijaz dan lahirnya NU.

Saat raja-raja kecil negeri ini lumpuh di hadapan penjajah, para kiai pesantren menghimpun potensi dan kekuatan umat menuju Indonesia merdeka. Tapi di sisi lain ada sebagian yang “dhekem” di pesantrennya sendiri tanpa mau peduli urusan umat.

HA memanjatkan doa bernada protes: ”allahumm aiqidh qulub al-ulama min naimihim al-‘amiq…”. Ya Allah, bangunkan hati para ulama dari lelap tidur mereka..”.

Pernah ketamuan gubernur Belanda Ch.C.O Van Der Plash yang didampingi Ir. Karl Von Smith merayu HA ke politik. Malah anjingnya disuruh memasukkan ke dalam area pondok, kasihan kepanasan di luar. HA lebih perhatian kepada anjing ketimbang ke pembicaraan Van Der Plash. Meski sangat ramah, tetap saja berfatwa perang sabil hingga Resolusi Jihad.

Santri diminta berpuasa tiga hari mendoakan agar HA tetap mampu menolak jabatan menjadi mufti Belanda. Ratusan kiai ngumpul di Tebuireng melakukan telasan, riyadlah menjelang kemerdekaan. Bahkan sudah mengadakan upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya pada tahun 1938.

HA benar-benar kiai yang punya prinsip dan tidak mudah apriori terhadap penguasa. Ditawari menjadi presiden pertama, tapi menolak dengan halus dan menunjuk Soekarno.

HA ambil peran sebagai ulama konsultan yang berkarakter dan kharismatik tanpa mau menjabat. Tidak menjadikan dirinya terbeli oleh kepentingan, apalagi menjadi tumbal politik yang habis manis, sepah tetap sepah.

KH. M. Yusuf Hayim pernah memanggil penulis karena tahu bahwa penulis dijadual sebagai salah satu pembicara dalam seminar nasional membahas G 30 S PKI yang arahnya membaca ulang sejarah.

Sebagai pelaku sejarah, beliau bicara banyak dan salah satu tesisnya adalah: “Sudahlah.., Sekali Merah, Tetap Merah”. NU dulu pernah bergabung dalam Nasakom (PNI, NU, PKI) dan ternyata mau disembelih oleh rekanannya sendiri, tapi Tuhan melindungi.

Itu fakta sejarah dan “Hanya keledai dungu yang terperosok dua kali dalam satu lobang”. Dan alumni Tebuireng adalah yang lantang berkata: “I’m Hasyim Asy’ari”. Hadana Allah.

*Dosen Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaMari Bangkit dan Rayakan Luka
BerikutnyaWujud Kecintaan Gus Sholah pada Literasi