KH. Salahuddin Wahid, sosok yang akrab dipanggil Gus Sholah, merupakan pengasuh Pesantren Tebuireng yang gemar membaca dan menulis, manjadikan dua hal tersebut sebagai rutinitas dalam kegiatannya sehari-hari.

Gus Sholah lahir di Jombang 11 September 1942, dan meninggal pada 2 Februari 2020 lalu. Gus Sholah merupakan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM), aktivis, ulama, politisi, dan banyak lagi gelar yang dinisbatkan kepada Dr. (HC). KH. Salahuddin Wahid itu. 

Tidak sedikit karya-karya tulis Gus Sholah tersebar luas baik di jagat raya media sosial dan media cetak. Salah satunya buku yang berjudul “Berguru pada Realitas”.

Buku yang diterbitkan oleh UIN Malang Press pada tahun 2011 ini, berisi tulisan sederhana namun kaya akan data dan fakta. Bisa kita baca saat ngopi di pagi hari atau menjelang senja di sore hari.

Tema-tema yang dibahas pada buku ini cukup menarik, berkaitan dari isu-isu sosial, politik, agama, negara hingga kehidupan pribadi Gus Sholah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Buku ini ditulis dengan gaya yang khas, tidak membosankan, justru membuat pembaca penasaran untuk membaca hingga usai.

Selain itu sosok yang memiliki istri Ibu Nyai Farida Salahuddin Wahid ini, juga memiliki kebiasaan yang selalu menjadi suri teladan bagi kita, mulai dari mengambil sampah dan membuangnya ke tempat sampah, hingga tepat waktu dalam menghadiri acara atau janji-janjinya.

Buku yang cukup tebal ini, harus ada dalam pikiran anak-anak muda, bukan hanya menjadi pajangan rak buku, atau hiasan lemari saja. Membaca secara tuntas merupakan sebuah kebahagian tersendiri bagi peresensi.

Harga buku ini juga tak seberapa, cukup dengan menyisihkan uang 5k perhari dalam satu bulan, buku ini sudah bisa dibawa pulang. Ya disiasati jangan pinjem buku gitu loh, pinjem uang aja buat beli buku. Masa sebulan beli satu buku gak bisa. Kencan aja sering. Hehehe

Hemat saya, Gus Sholah tidak bisa digambarkan oleh pena atau kata, kerena terlalu sempit dan kurang untuk sosok seperti beliau. Teringat pandangan cak Nun. “Gus Sholah itu hebat bukan karena hal-hal takhayul seperti kekayaan, kekuasaan, atau tahayul-tahayul lainnya. Akan tetapi, beliau hebat karena sesuai dengan kriteria Allah, bahwa ia itu ikhlas, bahwa ia itu kerja keras, bahwa ia itu tafaqquh fid din,” tuturnya.

Masih banyak hal-hal lain yang dimiliki oleh beliau namun tak kasat mata, tak terdengar oleh telinga, tapi kita bisa merasakan setelah beliau tiada. Kita tetap bisa menikmati karya-karya dan kontribusi dari Gus Sholah.

Bukti otentik bahwa beliau mencintai literasi dibuktikan dengan berdirinya Pustaka Tebuireng dan keinginan yang kuat pada diri beliau untuk membuat buku riwayat perjuangan dan keteladanan para masyayikh Tebuireng serta tokoh tokoh NU agar dapat dibaca dan diketahui oleh khalayak umum terutama santri.

Hingga kini dua hal di atas sudah menjadi sedekah beliau dan sudah tersebar di seluruh pelosok negeri kita. Masih banyak hal hal yang beliau buat untuk kemajuan pesantren, agama dan negara. Teruntuk almarhum Gus Sholah, kami menyadari bahwa mimpi-mimpimu masih banyak yang belum terwujud hingga kini, kami selalu mencoba mewujudkan mimpi itu.

Bagi saya pribadi, spirit perjuangan dan gagasan Gus Sholah harus tetap diceritakan dari warkop-warkop dan melalui pena ke pena. Al-Fatihah.

Judul Buku: Berguru pada Realitas (Refleksi pemikiran menuju Indonesia bermartabat)
Penulis: KH. Salahuddin Wahid
Penerbit: UIN Maliki press
Tebal: 483 Halaman
Tahun: 2011
Pengulat: whynot (anggota sekolah pemikiran tokoh Tebuireng)

SebelumnyaI’m Hasyim Asy’ari
BerikutnyaGus Sholah dan Humilitas Kepemimpinan Kiai Pesantren