
Tebuireng.online— Sebanyak 60 guru dari 21 lembaga yang tergabung dalam Ikatan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (IG PAUD) Muslimat NU Anak Cabang Ngoro melaksanakan rangkaian ziarah religi pada Rabu (13/05/2026). Kegiatan ini merupakan upaya spiritual untuk menguatkan nilai-nilai ke-NU-an bagi para pendidik sebelum memasuki tahun ajaran baru.
Rangkaian perjalanan ini dimulai dengan mengunjungi makam Kyai Asy’ari di Keras, Diwek, yang merupakan ayahanda dari Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Hadratusyaikh dan Gus Dur di Pesantren Tebuireng. Agenda ziarah direncanakan berlanjut ke sejumlah makam ulama besar lainnya di wilayah Jombang dan akan diakhiri dengan ziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro di Troloyo, Mojokerto.
Baca Juga: Terima Kunjungan Fatayat Bangil, Mudir Tebuireng Paparkan Kesetaraan Gender dalam Tradisi Pesantren
Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Ngoro, Jumaiyah, S.Pd.I., menyampaikan bahwa ziarah ini adalah salah satu usahanya untuk meneruskan jejak perjuangan para muassis, khususnya dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Ia menekankan bahwa guru PAUD memiliki peran vital dalam mengenalkan sosok pendiri NU kepada anak-anak sejak usia dini.
”Kami kan guru PAUD, sejak dini insyaallah kami akan sampaikan jejak beliau dan NU, kami kenalkan kiprah beliau,” ujar Jumaiyah.
Ia juga menceritakan bahwa sebelumnya telah sowan kepada Nyai Leli untuk menyampaikan niat ziarah ini, dengan harapan lembaga-lembaga PAUD di Ngoro mendapatkan keberkahan. Selain itu, ia berharap pada pembukaan ajaran baru nanti, sekolah-sekolah mereka memperoleh banyak peserta didik.
”Harapan kami setelah kami murid IG PAUD se-Anak Cabang Ngoro bertambah banyak, barokah maslahah untuk ummat, semua ibu guru sehat dan semangat dalam bidang pendidikan, terutama di Ngoro,” tambahnya.
Baca Juga: Santri Gondang Pekalongan Rihlah Studi dan Ziarah ke Pesantren Tebuireng
Sementara itu, Wakil Ketua PAC Muslimat NU Ngoro, Siti Atiqoh, S.Pd.I., mengungkapkan rasa syukurnya dapat kembali berziarah. Ia berharap dengan kegiatan ini, para guru dapat lebih memahami identitas diri sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama.
”Kita kenalkan bahwa kita orang-orang NU, dan beramal ibadah sesuai dengan NU,” ucap Siti Atiqoh.
Ia juga mengaku sering menjadi pemandu ziarah, namun tidak pernah merasa puas dan selalu memiliki keinginan kuat untuk terus berziarah ke makam para ulama demi mengharap barokah dan pengakuan sebagai santri Hadratusyaikh yang memperjuangkan NU hingga tingkat desa.
“Harapannya kita ingin diakui sebagai santri beliau yang memperjuangkan NU tingkat desa,” pungkasnya.
Pewarta: Ilvi Mariana
Editor: Rara Zarary


















