Hikmah Kisah di Balik Ibadah Sa’i

469

Oleh: Ustadz H. Ainur Rofiq*

اَلْحَمْدُ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ .

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُهُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللهَ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ.

Hadirin Sidang Jumah yang dimuliakan Allah

Dalam kesempatan khutbah ini, mari senantiasa kita meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan takwa seoptimal mungkin, yakni imtitsal al-awamirillah wa ijtinabu an-nawahihi. Menjalankan perintah Allah, baik perintah sunah apalagi yang wajib. Dan menjauhi larangan-larangan Allah, baik yang makruh apalagi yang haram. Dalam kesempatan ini, kami akan menyampaikan hikmah dibalik kisah sa’i dalam ibadah haji.

Hadirin Sidang Jumah yang dimuliakan Allah

Kisah sa’i , bermula dari perintah Allah SWT kepada Nabiyullah Ibrahim as. untuk pergi dari Palestina menuju ke Mekkah beserta keluarga, Siti Hajar dan Ismail. Karena mengingat ini adalah perintah Allah, maka pergilah Nabiyullah Ibrahim as. bersama Siti Hajar dan Ismail yang masih sangat kecil.

Perlu diketahui, bahwa pada saat itu belum ada kendaraan seperti sekarang. Bisa kita bayangkan betapa susahnya kepergian beliau. Sesampai beliau di Mekkah al Mukarramah, beliau meninggalkan istri dan putranya. Dikisahkan dalam sebuah kitab, waktu itu:

و ليس بمكّة حينئذ شأن و لا معون و لا ذرع و لا إنس و لا جنّ

Di  Mekkah pada saat itu, tidak ada apapun, tidak ada pertolongan, tanaman, manusia, bahkan jin sekali pun tidak ada.

Tetapi Nabiyullah Ibrahim diperintahkan untuk meletakkan keluarganya di situ. Selepas sampai di Mekkah, Nabiyullah Ibrahim pergi begitu saja. Siti Hajar menjadi galau (bingung), dia belum tahu apa maksud Nabi Ibrahim seperti itu. Dikejarlah Nabi Ibrahim oleh Siti Hajar, sambil berlari. Dipanggillah Nabi Ibrahim, “Yaa Ibrahim, ila aina tadzhab?”.  Berkali-kali memanggilnya, miraran.

Berkali-kali Siti Hajar melakukan hal tersebut. Tidak bergeming Nabi Ibrahim, tidak menengok sedikit pun dan berjalan terus. Akhirnya Siti Hajar berkata, “A amaraka Allahu bi hadza? Apakah ini perintah Allah?”. Barulah Nabi Ibrahim menengok dan menjawab dengan satu kata, “Na’am (iya)”. Setelah dijawab oleh nabi Ibrahim, Siti Hajar merasa lega dan mengatakan, “Laa yudhoyyi’una Allah”. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.

Hadirin Sidang Jumah yang Berbahagia

Akhirnya Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanan, kemudian Siti Hajar kembali ke tempat semula di mana Nabi Ibrahim meninggalkannya. Perjalanan Nabi Ibrahim semakin jauh, setelah sampai di balik bukit beliau berdoa:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)”

Ini adalah doa Nabi Ibrahim, sebagai tanda bahwa beliau bertanggungjawab atas keluarganya.

Selepas kepergian Nabi Ibrahim, Siti Hajar mulai kehabisan bekal. Air dan sejumlah kurma habis, mulai merasa lapar dan haus, tidak ada bekal apa pun. Maka berlari-larilah Siti Hajar dari Shofa ke Marwah. Sedangkan Ismail ditaruh di bawah. Hal itu dilakukan untuk mencari air dan apa pun yang bisa untuk menghidupi dia dan putranya. Dari pekerjaan lari-lari tersebut, maka muncullah ibadah sa’i baina ash-shofa wa al-marwah.

Setelah tujuh kali bolak-balik, terdengar suara dari Ismail. Ternyata setelah dilihat (atas bantuan malaikat mengguncangkan sayap tepat di kaki Ismail), mengalirlah air. Kemudian Siti Hajar mengatakan, “Zam-zam, kumpullah kumpullah!”. Ibnu Umar meriwayatkan, seandainya Siti Hajar tidak mengatakan zam zam (kumpul) maka air itu akan melimpah terus dan akan membanjiri Kota Mekkah.

  Mahasiswa Miami Dade College Antusias Bahas Peran Tebuireng Padukan Islam dan Negara

Kemudian air zam-zam itu berkumpul cukup banyak. Terlihat air yang banyak, maka burung-burung beterbangan di atas sana. Lalu beberapa kafilah dari Yaman melihat hal tersebut, dan menyadari, banyak burung berarti ada air melimpah. Mereka berdatangan ke sana. Mereka meminta izin untuk mengambil air tersebut, salah satu pemimpin mengawali dan menukar air dengan harta yang mereka miliki. Ada yang memberi permata, buah-buahan, dan sebagainya. Sehingga melimpah dan cukup banyak makanan dan kekayaan yang dimiliki oleh Siti Hajar. Maka benarlah, Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim.

Hadirin Sidang Jumah yang Dimuliakan Allah

Hikmah di balik peristiwa tersebut di antaranya, pertama,  kita lihat dari kisah tersebut bahwa kepatuhan Nabiyullah Ibrahim mengalahkan kecintaan apa pun di dunia ini, termasuk kepada keluarga bahkan nyawa. Ini pernah dicontohkan beliau dalam kisah qurban Nabi Ismail.  Sayang, masih banyak hamba Allah yang lebih mengedepankan kecintaan terhadap dunia daripada kecintaan kepada Allah Swt.

Terbukti dari hal-hal yang sangat kecil, kita enak-enak tidur dan diminta untuk salat berjamaah tetapi kembali tidur. Sedang menonton Televisi, dipanggil adzan malah kita memilih lanjut nonton. Ini artinya kita tidak memilih perintah Allah tetapi lebih memilih kecintaan terhadap dunia dan lain sebagainya. Bahkan Nabi Ibrahim pernah diperintahkan untuk masuk Islam, lalu spontan langsung masuk Islam. Dalam al Quran diceritakan:

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. (QS. al Baqarah: 131)”.

Hikmah yang kedua, bisa kita ambil pelajaran bahwa dukungan istri yang salehah sangat dibutuhkan, untuk kesuksesan seorang suami dalam memperjuangkan agama dan kebaikan. Maka Siti Hajar ketika ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim tidak melakukan protes, tetapi sangat menerima dengan mengatakan la udhoyyi’una Allahu. Allah tidak akan menyia-nyiakan kita. Dan sayangnya, sekarang masih banyak hamba Allah, gara-gara istri, suami terjebak dalam dunia yang menyesatkan. Istri menuntut hak melebihi kemampuan suami, sehingga tidak sedikit suami yang melakukan korupsi, mengambil hak orang lain dan uang negara. Ini dikarenakan istri yang tidak salehah.

Hikmah yang ketiga, adalah kasih sayang nabi Ibrahim terhadap keluarganya. Dengan bukti sewaktu meninggalkan keluarga, beliau masih berdoa. Cara beliau memberikan kasih sayang, tidak dengan memanjakan keluarga, tetapi dengan membimbing agar keluarganya patuh perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim memiliki sifat al ‘athufu ar rahmi,  al awwahu al halim. Lemah-lembut dan penuh kasih-sayang serta penyabar. Inilah Nabi Ibrahim, dalam sebuah keluarga maka harus tercipta adanya kasih-sayang di antara keluarga.

Yang terakhir, hikmah yang diambil dari kisah keluarga Nabi Ibrahim, akhirnya diabadikan oleh Allah SWT di dalam salah satu rukun haji, yaitu sa’i yang sampai sekarang dilakukan oleh seluruh umat Islam di dunia. Ini semua di antara hikmah yang bisa diambil dari kisah dan peristiwa adanya sa’i. Yang diawali oleh perintah Allah kepada Nabi Ibrahim dan Siti Hajar beserta Ismail.

Semoga bermanfaat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ، وَ مَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا، وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


*Waka Kesiswaan MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng

*Ditranskip oleh: M. Sutan Alam Budi