Ket. Bapak Hendro Setyanto, Alumni Tebuireng, menyampaikan ceramah ilmiah di Wisuda Purna Siswa 2019 di SMA AWH

Tebuireng.online- Dalam rangkaian acara Wisuda Purna Siswa yang digelar di SMA AWH pagi tadi (1/5/19), tampak hadir Bapak Hendro Setyanto, salah seorang alumni Pesantren Tebuireng, berkesempatan memberi ceramah ilmiah.

Beliau berhasil mencetak banyak inovasi di bidang Astronomi Islam. Pria asal Wangunssri-Lembang ini pernah mengenyam pendidikan di MASS Tebuireng dalam kurun tahun 1989-1993. Sebelum memulai pemaparan, Alumnus ITB ini secara singkat menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmunya selama di Tebuireng, “Saya mustahil bisa belajar di ITB, kalau bukan karena didikan guru-guru yang ada di sini,” tutur pria 46 tahun itu.

“Ada astronomi Islam bukan berarti ada astronomi kafir, astronomi Islam itu ilmu pengetahuan sains yang berkembang karena tuntutan untuk ibadah, seperti sholat, kalau kita sholat hadapnya kemana? Kiblat kan? Untuk mengetahui arah kiblat inilah diperlukan ilmu astronomi,” jelas alumni Pesantren Seblak itu, yang disambut tawa hadirin.

Lanjutnya, “Cakupan Ilmu Astronomi Islam itu hanya tiga saja, tidak keluar dari ini, yaitu Kalender Hijriyah, Waktu Sholat, dan Arah Kiblat”, papar beliau. Sehingga  kegunaan pengetahuan mengenai Ilmu Astronomi Islam ialah diarahkan untuk mengetahui tiga hal tersebut.

Ada banyak inovasi dan prestasi yang telah ditorehkan oleh Alumni Pesantren Tebuireng ini, diantaranya beliau telah mencetuskan lahirnya Mushollatorium, yakni gabungan tempat ibadah dan planetarium. Sehingga para musholli yang melaksanakan shalat di musholla tersebut dapat menyaksikan penampakan bintang-bintang di langit-langit kubah musholla. Mushollatorium telah banyak menarik banyak perhatian lembaga-lembaga pendidikan, dan telah menjadi tujuan observasi bagi banyak lembaga baik SD, MTs, MA bahkan universitas.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terkait dengan perkembangan observatorium, pesantren dan sekolah telah banyak yang mulai berinovasi dan berani untuk membuat fasilitas semacam ini, “Pesantren sudah banyak yang membangun bangunan Observatorium di dalamnya, untuk Pesantren yang pertama di As-Salam Solo, untuk sekolah, pertama di Tomoho,” imbuhnya.

Terakhir, beliau menyinggung mengenai satu PR utama yang belum berhasil diselesaikan oleh ahli Astronomi Islam, ialah membuat kalender Hijriyah yang sama untuk seluruh muslim di dunia. “Kalender itu mirip dengan jam, sesuai dengan fenomena alam, kalau fenomena alam berubah, maka kalendernya berubah, begitu pula hisab dan rukyah, kalau ndak sama maka yang salah hisabnya. Karenanya, kita tetap rukyah untuk pelaksanaan ibadah, namun kita berusaha adakan kalender tetap, saya mohon do’a dari anda semuanya,” pungkas pemecah dua Rekor MURI ini.

Sebelum menutup ceramah ilmiah, Bapak Hendro Setyanto memberikan penghargaan khusus kepada wisuda wati berprestasi yang telah berhasil lulus sekaligus mengkhatamkan al-Qur’an 30 juz.


Pewarta: Nailia Maghfiroh

Publisher: MSA

SebelumnyaHaflatul Muwada’ah SMA Trensains, Sigma Generation
BerikutnyaPentingnya Memahami Nilai Beradab dalam Pancasila