Oleh: Almara Sukma*

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Agama Islam sangat memperhatikan kebersihan sebagaimana dijelaskan dalam ilmu fiqih. Salah satu di antaranya, adalah bersuci ketika selesai membuang hajat kecil (kencing). Bersuci merupakan hal sang sangat penting dan wajib, sampai-sampai fiqih memberikan alternatif apabila dalam kondisi tertentu (seperti tidak ada air, dan sebaigainya), maka boleh bersuci menggunakan batu.

Orang yang tidak bersuci setelah membuang hajat akan menimbulkan kotoran, bau dan akan berdampak bagi kesehatan. Selain itu, hal yang harus kita ingat bahwa orang yang tidak bersuci setelah kencing kelak akan mendapatkan siksa kubur.

Hal ini sebagaimana disaksikan oleh Rasulullah, suatu hari beliau melewati kuburan, Rasulullah mendengar suara bahwa mayat yang berada di dalam kuburan tersebut sedang mendapatkan siksa. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang sedang di siksa tersebut penyebabnya bukanlah karena ia berbuat dosa besar akan tetapi karena ia tidak mau membersihkan dirinya setelah kencing.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kisah ini dijelaskan secara detail dalam hadis berikut:

أَخْبَرَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ ، عَنْ وَكِيعٍ ، عَنِ الْأَعْمَشِ قَالَ : سَمِعْتُ مُجَاهِدًا يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُسٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ، فَقَالَ : ” إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ؛ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ، وَأَمَّا هَذَا فَإِنَّهُ كَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ “. ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ، فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ، فَغَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا، وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا، ثُمَّ قَالَ : ” لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا “. خَالَفَهُ مَنْصُورٌ، رَوَاهُ عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ. وَلَمْ يَذْكُرْ طَاوُسًا.

Hannad bin As-Sari telah mengabarkan kepada kami, dari Waki’ dari Al-A’masy, ia berkata, aku mendengar Mujahid menceritakan (hadis) dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini disiksa, namun bukan karena dosa besar. Orang yang ini, dulu tidak membersihkan air kencingnya (dengan tuntas). Sementara orang yang ini, disiksa karena selalu mengadu domba.” Kemudian beliau meminta sepotong pelepah kurma yang masih basah. Beliau membelahnya menjadi dua dan menancapkannya di atas kuburan yang ini satu, dan di atas kuburan yang ini satu. Kemudian beliau bersabda, “Semoga (kedua pelepah kurma yang basah itu) dapat meringankan azab keduanya selagi belum kering.” Manshur berbeda periwayatnya. Ia meriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu Abbas dan ia tidak menyebutkan Thawus.[1]

Maka kesimpulan yang bisa kita ambil dari teladan di atas adalah bersuci secara tuntas menjadikan kita terhindar dari adzab kubur karena tidak ada sisa najis yang tersisa yang mengakibatkan suatu ibadah itu tidak sah karenanya. Dan juga kita dilarang untuk mengadu domba sesama muslim maupun manusia pada umumnya. Karena dua kekeliruan di atas sering dianggap remeh tetapi mempunyai efek yang besar ketika di akhirat nanti.

Wallahu a’lam


[1] HR. Imam Nasa’i, No. 31.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaFalsafah Jawa yang Sesuai dengan Ilmu Tasawuf #2
BerikutnyaHidup Tenteram, Bebas dari Emosi Negatif