tebuireng.online– Hari Santri Nasional menjadi fenomena terbaru di kalangan kaum muslim Indonesia, kaum pesantren khususnya, setelah usulan dari berbagai pihak mengenai Hari Santri, telah disetujui dan ditetapkan Presiden Jokowi. Namun pro dan kontra mengenai penetapan hari nasional baru tersebut, masih berseliweran di sana-sini. Tidak hanya penetapannya, cara perayaan yang harus dilakukan pun masih menyisakan tanggapan yang berbeda.

PBNU misalnya, merayakan Hari Santri dengan mengadakan kirab, namun tak sedikit juga yang mengkritik perayaan  dengan cara tersebut. Lalu, bagaimanakah sikap para kiai di PesantrenTebuireng sebagai salah satu pesantren besar di Indonesia dan cikal bakal dicetuskannya Resolusi Jihad, sebagai tolak ukur penetapan Hari Santri, menanggapi fenomena ini?

“Saya kira untuk apa hari santri, Yang penting bukan itu, yang penting perhatian pemerintah terhadap pesantren,” itulah cuplikan kalimat yang disampaikan Gus Sholah dalam ramah tamah studi banding para pimpinan dayah dan Badan Pendidikan dan Pengembangan Dayah (BPPD) Nangro Aceh Darussalam di Dalem Kepengasuhan Pesantren Tebuireng, Selasa (20/10/2015).

Menurut Pengasuh Pesantren Tebuireng tersebut, jikalau hari santri tersebut diikuti dengan perbaikan pesantren, baru beliau merasa senang dan setuju. “Tapi kalau sekedar merayakan, kirab, untuk apa?”, tambah beliau di depan para rombongan studi banding. Beliau berpendapat, hal yang paling penting sebagai refleksi perjuangan para pendahulu, ulama, kiai, dan santri terdahulu, dengan bersama-sama antara pemerintah, NU, dan pengurus pesantren, memperbaiki mutu pendidikan yang ada.

Sebenarnya kirab menurut Gus Sholah memang memiliki manfaat, agar semua orang mengetahui dan menyadari besarnya peran santri dan kiai dalam perjuangan kemerdekaan, khususnya peristiwa Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratusyaikh KH. M. Hasyim  Asy’ari. Namun Gus Sholah menegaskan, bahwa tugas terpenting bagi insan pesantren adalah bagaimana menata masa depan pesantren,peningkatan mutu pesantren, dan cara menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tantangan pesantren, lanjut Gus Sholah, seiring berkembangnya zaman, akan semakin besar. Beliau mencontohkan Pesantren Tebuireng. “Tebuireng, antara zaman kakek saya, dengan zaman saya, sudah 100 tahun lebih, tentunya berbeda, tantangannya berbeda, peluangnya berbeda, masalahnya juga berbeda. Namun tentunya hal-hal lama tidak kita tinggalkan,” terang Gus Sholah. Untuk itu, Gus Sholah mengajak para insan pesantren untuk lebih memikirkan cara untuk bertahan dari segala bentuk tantangan dan solusi dari berbagai masalah yang dihadapi pesantren.

Sementara itu, adik sepupu Gus Sholah, KH. Agus Muhammad Zaki Hadziq, mengatakan bahwa hari santri merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap perjuangan para kiai dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Menurut beliau hal tersebut wajar, sebab Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945 tidak lepas dari peran santri yang ikut berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sedangkan kirab yang dilakukan PBNU dan sejumlah pesantren adalah bentuk kebanggaan sebagai kaum santri, karena telah diapresiasi oleh pemerintah.

Namun, dibalik pernyataan setuju yang disampaikan Pengasuh Pesantren Putri al-Masruriyah Tebuireng tersebut, dari sudut pandang realita, beliau menganggap bahwa setiap hari adalah hari santri. “Kita setiap hari membina santri, pagi, siang dan malam. Bagi saya setiap hari adalah hari santri. Ada sudut pandang yang tidak sama antara hari santri versi pemerintah dengan hari santri versi status (facebook) saya,” ungkap Adik (Alm) KH. M. Ishomuddin Hadziq itu, ketika diwawancarai wartawan Tebuireng Online via facebook. Dalam status facebook, beliau menuliskan, “Setiap hari adalah hari santri. 365 hari dalam setahun adalah hari santri.”

Gus Zaki mengingatkan sebagai refleksi resolusi jihad dan Hari Santri, bahwa santri harus mampu meningkatkan kualitasnya. Karena peran santri dalam pembangunan Indonesia telah diakui oleh pemerintah melalui Hari Santri. Hal serupa juga disampaikan oleh KH. Agus M. Fahmi Amrullah Hadziq, adik Gus Zaki Hadziq. Beliau juga sepakat dengan  hari santri namun dengan catatan diiringi dengan peningkatan kualitas santri dan pesantren. Beliau juga berharap dengan Hari Santri, eksistensi santri semakin diakui untuk mewarnai khazanah keilmuan, serta kemajuan agama dan bangsa.

Ketika ditanya soal Kirab Hari Santri yang diadakan PBNU, Gus Fahmi mengaku kurang setuju. Beliau berpendapat seyogyanya hari santri diisi dengan dzikir, diskusi, muhasabah, dan amal nyata seperti berbagi dengan kaum dhu’afa dan anak yatim. “Saya kurang suka dengan kirab, pawai, atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya hura-hura,” kata Kepala Pondok Pesantren Putri Tebuireng tersebut.

Beliau berharap, kedepan pesantren mampu melahirkan manusia-manusia yang ta’abbud dan ta’allum (benar dan pintar) sesuai harapan Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. “Sederhana itu saja. Soal santri jadi apa, biar waktu dan proses yang menentukan,” pungkas beliau ketika ditanya oleh wartawan Tebuireng Online via Short Message Service (SMS). 

KH. Muhammad Hasyim, salah satu Pengasuh Pesantren Putri Khoiriyah Hasyim Seblak mengapresiasi adanya hari santri dan kirab yang dilaksanakan beberapa pesantren dan PBNU. Namun Gus Aim, panggilan akrab beliau, mengatakan lebih urgen lagi bisa diisi dengan hal-hal yang bisa membangkitkan patriotisme dan nasionalisme generasi muda bangsa.  “Ya pokoknya sebagai bentuk apresiasi mendalam tehadap peran santri dan ulama dalam mempertahankan NKRI dengan semangat Resolusi Jihad,” tambah beliau mantab.

Mudir II Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, KH. Ahmad Syakir Ridlwan, Lc., M.Hi., mengatakan bahwa Hari Santri Nasional perlu ditinjau ulang. Menurut beliau, timbul pertanyaan besar, “Apakah kalau selain 22 Oktober kita bukan santri?” Makna santri menurut beliau ialah para insan yang berakhlak baik dan pembeda dari yang berakhlak buruk.

“Namun jika subtansinya guna mengingat kembali perjuangan kaum sarungan untuk meraih kemerdekaan, ya sah sah saja untuk memberi pelajaran bahwa kemerdekaan itu butuh perjuangan,” tambah Wakil Mudir Bidang Akademik Ma’had Aly Hasyim Asy’ari itu. Kemudian, mengenai euforia perayaan HSN dengan kirab besar-besaran, beliau mengembalikan lagi pada tujuan awal. Jika memang untuk mengenang perjuangan santri dan kiai, menurut beliau sah-sah saja. “Namun kalau dipenuhi dengan hura-hura saya kira itu sangat tidak etis karena Tabdzir (pemborosan),” terang beliau.

Itulah pendapat dan pandangan para Kiai di Tebuireng dan sekitarnya. Perbedaan pendapat wajar, namun perlu untuk dijadikan pertimbangan. Apalagi mereka adalah para insan yang lahir dari nasab orang yang benar-benar diagungkan, yang menjadi tolak ukur perjuangan kaum santri dalam perjuangan kemerdekaa, menjadi ilham adanya Hari Santri Nasional perdana ini.

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2015! (abror/redaksi Tebuireng Online)

SebelumnyaResolusi Jihad*
BerikutnyaKiai Musta’in Syafi’ie Asuh Pengajian Tafsir Jalalain di Tebuireng