Hai, Masa Lalu

249
Sumber: google.com

Oleh : Fitrianti Mariam Hakim*

Hai, masa lalu.

Apakah kau bisa melihat bagaimana aku kini? Bagaimana aku menurutmu? Semoga kau bangga padaku. Sebab apa pun yang kucapai kini, semua itu karenamu. Karena pelajaran yang kau tinggalkan begitu membekas, hingga mampu membentukku.

***

“Mau makan di kamar saja, Bu,” jawab Mira ketika Ibu mencoba menariknya untuk duduk kembali sehabis ia menuangkan sayur dan mengambil lauk di piringnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sudah beberapa hari ini, Mira berusaha menghindar dari acara rutin keluarganya: makan malam bersama, nonton tv bersama, dan yang lain.

Ibu hanya menghela nafas dan mengiyakan dengan tatapan mata yang haru. Mira baru saja mengalami peristiwa yang cukup keterlaluan di sekolah. Sebagai imbasnya, ia dijauhi oleh teman-temannya. Inilah yang membuatnya lebih suka mengurung diri di kamar. Ia merasa lebih damai dengan berdiam diri di rumah kecilnya. Di sana, hanya ada dirinya sendiri dan harta bendanya; ranjang single, meja belajar, almari kecil, serta beberapa boneka beruang yang terletak di ranjang tidurnya.

Mira merebahkan badannya. Ditaruhnya piring makan di atas meja belajar. Matanya yang sayu akibat terlalu banyak menangis, tertuju pada foto beruang pada dinding kamar, kemudian ia melekatkan pandangan matanya dalam-dalam. Ingatannya seperti kaset yang diputar balik.

“Mira, keluarlah! Dimana kamu?” Terdengar terikan seorang wanita dengan postur tubuh pendek, rambut hitam yang digerai, kulit coklat muda dan mata melotot penuh amarah di lapangan sekolah. Wanita itu berteriak memanggil nama Mira.

Teriakannya yang kencang mengejutkan penduduk seantereo sekolah. Sontak saja semua warga sekolah mendengar dan berhamburan keluar dari kelas. Begitu juga dengan teman-teman Mira. Lalu, Mira berdiri dari tempat duduknya dan berlari mendekati teman dekatnya di jendela.

“Siapa dia?” tanya Mira kepada teman dekatnya, Cici.

“Mana aku tahu. Tapi sepertinya ia menggandeng Puput,” jawab Cici kemudian.

“Ah benarkah? Apa itu ibunya Puput?” tanyanya lagi.

Cici melihat tubuh Mira bergetar dari tangan hingga kaki. Dalam sekejap Cici bisa merasakan nafasnya yang tak karuan dan keringat di dahinya yang mulai bermunculan.

“Ada apa Mira? Ceritakan padaku!” ucap Cici.

“Sudah terlambat, Ci. Kau tidak akan percaya apa yang sudah aku lakukan,” jelas Mira dengan penuh kesungguhan, seakan akan sebuah rahasia dalam dirinya.

“Ayo kita keluar, kita hadapi bersama,” tukas Cici sambil memegang tangan Mira. Mereka berjalan bergandengan menghampiri wanita tersebut.

Sebenarnya berbagai macam pertanyaan mulai bermunculan di benak Cici. Namun, apapun yang terjadi, ia akan bersama Mira. Jika Mira bersalah, ia akan mengingatkannya. Jika Mira benar, maka ia akan mendukungnya. Itulah teman. Tak jauh dari lapangan, wanita dengan postur tubuh tidak tinggi telah melihat Mira dari kejauhan.

 “Aduh bagaimana ini?” kata Mira dari dalam hati. Sedetik kemudian wanita tepat di hadapannya.

“Kamu anak yang bernama Mira itu kan?” ucapnya dengan nada yang begitu tinggi. Tak peduli dengan keadaan sekitar yang mana para siswa dan guru mulai dan berkerumun mengelilinginya dan Mira di lapangan.

“Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. Karena kamu, anak saya tidak mau berangkat ke sekolah!” sentak wanita itu tepat di hadapan Mira.

“Saya tau, saya ini orang miskin. Tapi perlu kamu tahu bahwa semiskin-miskinnya seseorang, ia masih memiliki hak untuk sekolah. Puput ini berhak untuk sekolah. Merasakan enaknya belajar di sekolah. Susah bagi kami mencari uang untuk makan, apalagi membiayai sekolah. Jangan membuat dia tidak nyaman belajar di sekolah. Jangan menganggu dia belajar. Bagaimana masa depannya kalau ia tak mau belajar kembali. Sekarang Puput saya pindahkan belajar. Tidak belajar di sini lagi,” ungkap wanita itu dengan jelas sekali.

🤔  Mengenangmu Dalam Diam

Mira sangat menyesal. Ia tak sanggup berkata sepatah kata apaun. Ia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis hingga sampai di rumah. Mira terbilang masih anak-anak sekali. Ia masih berumur 8 tahun.

Melihat apa yang sudah dilakukan, Mira merasa sangat bersalah terhadap Puput. Andai saat itu Mira tidak mencubiti tangan Puput, jika tak mau diminta pergi ke kantin. Andai Mira tidak mencibirnya, jika ia tak mau memberikan jawaban soal kepada Mira. Andai Mira tidak mengganggunya, jika ia tak mau diajak bermain. Dan andai saja Mira menyebarkan kabar yang tidak benar tentang Puput kepada teman-teman sekelasnya, agar tidak ada yang berteman dengan Puput.

Namun, sudah terlambat untuk menyesali. Karena, semenjak itu Mira tidak lagi bertemu dengan Puput hingga saat ini. Meski ia pindah sekolah yang jaraknya cukup dekat dengan sekolah Mira, tapi Mira tidak pernah berpapasan ataupun bertemu dengannya. Sungguh kasihan!

Mendengar berita itu, Ibu sangat kecewa pada Mira. Bagaimana tidak? Mira telah membuat onar di sekolah. Mira telah mengubah sekolah yang mulanya tempat mencari ilmu menjadi tempat mencari kebusukan teman. Menebar kejelekan dan berbuat hal yang tidak mencerminkan kebaikan.

“Tok tok tok,” Ibu mengetuk pintu kamar Mira. Sontak Mira tersadar dari lamunannya.

“Iya masuk,” jawab Mira dengan singkat dan padat.

“Ada apa sayang?” tanya Ibu seraya berjalan menghampiri Mira.

“Tidak apa-apa, Bu. Mira baik-baik saja.”

“Jangan bohong sama Ibu. Sini peluk ibu, Nak,” ucap Ibu kepada Mira yang posisinya sudah berada di sampingnya. Ya, begitulah Ibu.  Ia adalah rumah. Sejauh apapun kita pergi, serumit apapun keadaan terjadi, ibu adalah tempat untuk kembali.

“Ibu. Maafkan Mira. Ibu tidak membenci Mira kan?” ucap Mira yang mulai menangis di samping ibunya

Ibu memeluknya dengan erat sekali. Hingga Mira hanyut dengan keadaan. Hingga Mira mampu menumpahkan segala kesedihannya, penyesalannya. Ibu adalah tempat Mira mengungkapkan segalanya. Tak lama Ibu berkata, “Cermin itu ada di depanmu, Sayang,” kata ibu kepada Mira.

“Seringkali Mira memberikan cermin kepada orang lain. Sadari betapa diri Mira masih kurang. Jangan melihat kekurangan yang lain. Atau mempersulit orang lain,” jelas Ibu kembali kepada Mira.

Mira mendengar dengan seksama apa yang disampaikan oleh Ibu. Merenungi sedalam-dalamnya. Aduhai betapa mulutnya itu seluas samudra. Mencaci semaunya, berkomentar sedapatnya, dan menilai dari sudut pandangnya. Mira tak sedikitpun merasa seharusnya cermin itu ada di hadapannya. Tidak di depan siapapun. Ketika ia tepat di hadapannya, persis cermin itu akan membuka satu persatu kebusukan Mira.

Karena Mira sangat menyesali perbuatannya. Nampak beberapa hari Mira murung, baik di rumah maupun di sekolah. Bahkan, yang membuatku lebih terpuruk lagi adalah teman-temannya yang mulai menjauh. Tidak satupun dari mereka mau duduk sebangku dengan Mira.

Namun, seiring berjalannya waktu. Mira gandrung dengan pujian. Ia berhasil menjadi bintang sekolah dengan prestasinya yang menjulang. Menduduki peringkat 1 adalah prestasi Mira setiap tahunnya.

Tumbuh menjadi anak yang rendah hati, cantik, dan pintar adalah kabar Mira yang sekarang. Namun dibalik semua itu ada pengalaman pahit yang tak bisa ia lupakan. Tentang masa lalu adalah tentang Puput. Mira berjanji suatu saat ia akan mencari Puput dan meminta maaf kepadanya dan keluarganya. Apalah arti kebahagiaan jika dibaliknya kita menyakiti seseorang.

Sahabat, dari sini Mira belajar. Ada pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari Hukum Newton I hingga Hukum Newton II, bahwa dalam hidup, kita akan melalui pasang surut perjalanan.

Kelak kita akan mendapati diri berada pada sisi jurang yang kemudian menuntut kita untuk memilih diam di tempat hingga pasrah dan jatuh ke jurang atau bertahan dengan cara bergerak, berpindah, atau berubah, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk atau sebaliknya. Keputusan itu ada ditanganmu.

Tetapi pada Hukum Newton III, kita belajar untuk merenungi kembali akan hakikat keberadaan kita sebagai seorang hamba, bahwa Tuhan adalah Yang Maha Tahu dan Yang Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya. Sehingga apa yang kita lakukan, selalu akan kembali pada diri kita sendiri.

Apa yang kita berikan kepada orang lain, selalu akan kembali pada diri kita sendiri. Maka disinilah kita mengingat pepatah lama, ‘apa yang kau tanam, maka itulah yang kau petik’.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng