Gus Mus Kenang Gus Dur: Beliau Sudah Selesai dengan Dirinya

204
KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) saat menyampaikan tausiyah dalam acara Haul ke-16 Gus Dur di Pesantren Tebuireng (foto: irsyad)

Tebuireng.online— Perhelatan Haul ke-16 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan para Masyaikh Pesantren Tebuireng menghadirkan kesan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada haul kali ini, salah satu sahabat karib Gus Dur, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), mengisahkan kenangan manis dan reflektif saat dirinya bersama Gus Dur menempuh pendidikan di Mesir.

Kisah tersebut disampaikan Gus Mus dalam tausiyahnya di halaman Maqbaroh Masyaikh Pesantren Tebuireng, Rabu (17/12/2025), di hadapan ribuan jamaah yang memadati kawasan pesantren.

Dalam penuturannya, Gus Mus menggambarkan Gus Dur sebagai sosok manusia yang telah “selesai dengan dirinya sendiri”. Menurutnya, orang yang selesai dengan dirinya tidak lagi sibuk mengurusi kepentingan pribadi, sehingga apa pun yang dimilikinya dapat dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Baca Juga: Yenni Wahid Bongkar “Rahasia” Gus Dur Hidup di Hati Masyarakat

“Gus Dur itu orang yang sudah selesai dengan dirinya. Sekarang ini banyak orang ilmunya banyak, umurnya panjang, tapi belum selesai-selesai dengan dirinya. Urusannya masih dirinya saja,” ujar Gus Mus.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia menambahkan, sikap batin tersebut membuat hidup Gus Dur terasa ringan dan tidak direpotkan oleh banyak hal. Hal itu pula, menurut Gus Mus, tercermin dalam ungkapan Gus Dur yang hingga kini masih dikenang publik.

“Makanya bagi Gus Dur tidak ada yang repot. Ucapannya yang viral itu, ‘gitu saja kok repot’. Artinya memang tidak ada yang terasa repot bagi beliau,” lanjutnya.

Dari sikap itulah, Gus Mus menilai Gus Dur dicintai oleh banyak orang. Bahkan, menurutnya, kecintaan manusia kepada Gus Dur merupakan cerminan dari kecintaan Allah SWT kepada hamba-Nya.

“Kalau Allah mencintai seorang hamba, Allah berfirman kepada Malaikat Jibril, ‘Aku mencintainya.’ Lalu Jibril menyampaikan kepada para malaikat, dan akhirnya orang-orang di bumi pun mencintainya,” tutur Gus Mus.

Ia menjelaskan, kecintaan Allah kepada hamba-Nya bisa datang melalui dua jalan. Pertama, dari usaha manusia itu sendiri melalui ibadah dan ketaatan. Kedua, karena memang Allah memilih dan mencintainya sejak awal.

“Menurut saya, Gus Dur itu termasuk yang dicintai dari ‘sana’, dari atas. Wong sembahyangnya ya biasa-biasa saja,” ucapnya disambut senyum jamaah.

Baca Juga: Haul Ke-16 Gus Dur, Magnet bagi Ribuan Jemaah dan Berkah Ekonomi Ratusan Pedagang

Gus Mus kembali menegaskan, banyak tokoh yang telah menjadi pemimpin, berusia lanjut, dan memiliki kedudukan tinggi, namun tetap tidak mampu melepaskan ego dan kepentingan pribadinya. Hal itu, menurutnya, sangat berbeda dengan Gus Dur.

“Banyak tokoh yang sudah jadi pemimpin, sudah tua, tapi tidak pernah selesai dengan dirinya. Gus Dur ini sudah selesai,” tegasnya.

Selain dikenal karena kelapangan batinnya, Gus Mus juga mengenang Gus Dur sebagai sosok yang sangat sederhana. Ia menceritakan kisah Gus Dur yang pernah meminjam uang kepada putrinya, Alissa Wahid, hanya untuk membeli bakso—sebuah cerita yang kerap membuat jamaah tersenyum.

“Gus Dur itu pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, tapi untuk beli bakso saja pinjam uang ke anaknya,” kenang Gus Mus.

Padahal, lanjutnya, saat masih sama-sama berkuliah di Mesir, Gus Dur dikenal sangat royal dan sering mentraktir teman-temannya makan.

Baca Juga: ISHARI se-Jawa Timur Ramaikan Haul Gus Dur di Pesantren Tebuireng

“Waktu di Mesir dulu, ke mana-mana dia selalu punya uang. Ke warung, ke kafe, selalu nraktir. Saya heran, sama-sama beasiswa kok dia sugih terus. Mungkin ada kiriman dari Indonesia, saya enggak tahu,” ujarnya berseloroh.

Kisah-kisah tersebut semakin menguatkan kesan Gus Dur sebagai pribadi besar yang hidup dalam kesederhanaan, keikhlasan, dan kematangan batin. Tak heran, hingga kini Gus Dur tetap dicintai, dikenang, dan diziarahi oleh jutaan orang dari berbagai latar belakang.



Editor: Rara Zarary
Penulis: Dimas Setyawan Saputro