Gus Kikin Kenang Humor dan Keteladanan Sang Pahlawan Nasional

105
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz saat memberikan sambutan dalam acara haul Gus Dur di Tebuireng Jombang (foto: irsyad)

Tebuireng.online— Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin), menyampaikan sambutan utama di hadapan ribuan jamaah yang memadati area Haul ke-16 Gus Dur di Pesantren Tebuireng. Dalam sambutannya, Gus Kikin mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional.

“Peringatan Haul KH. Abdurrahman Wahid yang ke-16 ini sekaligus merupakan tasyakuran atas dikukuhkannya beliau sebagai Pahlawan Nasional. Ini tentu menjadi sesuatu yang menggembirakan dan membanggakan bagi kita semua, terutama bagi keluarga,” ujar Gus Kikin di hadapan ribuan jamaah.

Selain menyoroti pencapaian tersebut, Gus Kikin juga mengenang berbagai memori masa kecilnya bersama Gus Dur, khususnya candaan-candaan ringan yang hingga kini masih melekat kuat dalam ingatannya. Ia menuturkan pengalaman saat perayaan Idulfitri di lingkungan keluarga besar Tebuireng.

Baca Juga: Yenni Wahid Bongkar “Rahasia” Gus Dur Hidup di Hati Masyarakat

“Waktu kecil, kalau Lebaran, kami salat Id di dekat sini, sekitar 300 meter. Setelah itu berkumpul di ndalem kesepuhan untuk halal bihalal. Yang sepuh-sepuh di ruang utama, sementara yang muda-muda berkumpul di ruangan kecil di samping,” kenangnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurut Gus Kikin, suasana pertemuan para cucu dan keponakan itu selalu dipenuhi tawa karena dipimpin langsung oleh Gus Dur yang gemar melontarkan candaan.

“Yang muda-muda itu dipimpin Gus Dur. Kami ngobrol, bercanda, sampai ketawa ngakak. Sampai-sampai yang sepuh-sepuh menengok ke arah kami dan bilang, ‘Biasa, Abdurrahman itu,’” tuturnya disambut senyum jamaah.

Gus Kikin menegaskan bahwa humor dan guyonan Gus Dur bukan sekadar candaan, melainkan cara beliau membangun kedekatan dan komunikasi yang hangat dengan siapa pun, termasuk generasi muda di lingkungan keluarga dan organisasi.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Teladani Jejak Kemanusiaan Gus Dur

“Candaan dan jokes Gus Dur itu menjadi pendekatan pribadi yang luar biasa. Saya masih ingat betul itu sejak usia belasan tahun. Pendekatan beliau sangat halus, penuh keakraban, dan membekas sampai sekarang,” ungkapnya.

Menurutnya, gaya komunikasi tersebut kemudian tumbuh dan berkembang seiring perjalanan Gus Dur di Nahdlatul Ulama, menjadikannya sosok pemimpin yang diterima oleh berbagai kalangan dengan penuh cinta dan rasa hormat.

Untuk diketahui, malam puncak Haul ke-16 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan para Masyayikh Pesantren Tebuireng, yang dirangkai dengan tasyakuran atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur, berlangsung khidmat dan meriah di Pondok Pesantren Tebuireng, Rabu (17/12/2025). Acara tersebut dihadiri para tokoh agama, ulama, serta sejumlah pejabat dan politisi dari berbagai daerah.

Baca Juga: Gus Mus Kenang Gus Dur: Beliau Sudah Selesai dengan Dirinya



Editor: Rara Zarary
Pewarta: Ayu Amalia