Gus Dur: Kiai yang Kehilangan Sakralitas

Sumber gambar: https://www.kaskus.co.id

Oleh: Hilmi Abedillah*

Sebagai desainer grafis, saya selalu dimanjakan oleh keindahan visual. Ada banyak gambar di sosial media mengenai Gus Dur, terutama di bulan Desember ini. Gambar-gambar itu merupakan interpretasi ekspresif yang muncul dari kreatornya atas Gus Dur.

Gus Dur lahir di Jombang yang dikenal sabagai kota santri, lalu tumbuh di lingkungan pesantren; Tebuireng, Tegalrejo, Tambakberas, dll. Hingga pada akhirnya, selain karena titah nasab dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dari jalur ayah dan KH. Bisri Syansuri dari jalur ibu, juga karena kecerdasan dan ketekunannya, Gus Dur akhirnya menjadi seorang kiai.

Di pesantren, maupun di mata masyarakat, kiai adalah orang yang mulia dan dihormati. Ketika lewat di depannya, santri-santri harus menunduk atau/dan menyalami. Menurut pemahaman Jawa sendiri, kiai atau kyai adalah sebutan untuk ‘yang dituakan atau dihormati’, baik itu orang maupun barang.

Kiai berperan sebagai teladan dan guru di pesantren. Setiap harinya ia menjadi inspirasi dan sumber pengetahuan religi bagi santrinya. Ia juga pemimpin kegiatan ritual keagamaan, seperti shalat dan tahlil. Selain itu, ia menjadi blueprint moralitas santri dalam berperilaku. Semua tindak tanduknya tentu didasarkan pada al-Quran, hadits, dan sumber lain dari agama.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Oleh karena berkaitan erat dengan agama –yang sakral, suci, dan keramat–, kiai menjadi ikut sakral karena menjadi wadah dari agama itu. Sakralitas itu pastinya menempel juga pada diri Gus Dur, karena kita telah menyepakati bahwa ia adalah seorang kiai. Dimuliakan dan dihormati.

Namun, kreasi masyarakat pencinta Gus Dur tidak dapat dibendung. Banyak yang membuat karya seni wajah Gus Dur dengan memasangnya di badan yang aneh-aneh. Misalnya kepala Gus Dur dipasang di badan tokoh film Hollywood, Gus Dur membawa radio dengan backsound nge-beat, Gus Dur dengan tubuh Captain America, dan lain sebagainya. Kreasi semacam ini jarang bahkan tidak ditemukan pada gambar kiai lain. Andai saja diterapkan pada Kiai Hasyim Asy’ari, atau Gus Sholah (adiknya) pun, mungkin akan terkesan menghina.

🤔  Motivasi Kodifikasi dan Isi Kitab Shahih Bukhari

Mereka secara bebas menerapkan berbagai macam atribut pada diri Gus Dur, lupa atau ingat bahwa ia adalah seorang kiai. Kiai yang bisa dijadikan mainan dengan memperbesar kepala dan mengecilkan badan dalam berbagai macam karikatur. Selain menjadi teks yang perlu dibaca dan dimaknai, ternyata Gus Dur juga menjadi gambar yang perlu dilukis dan diimprovisasi.

Hal ini bisa jadi karena Gus Dur tidak hanya hidup di atas mimbar keagamaan. Ia kadang sejajar dengan orang kecil. Ia juga tertawa terbahak-bahak. Ia membuat orang terpingkal-pingkal. Ia bercengkerama dengan orang-orang yang bukan golongannya. Mungkin juga kebudayawanannya yang membuat keliaran seni itu menjadi sah.

Humanisme Gus Dur dan aktivitasnya di lintas agama juga membuatnya digambar dalam berbagai kostum agama, misalnya Konghucu. Pantas saja, itu karena Gus Dur mendapat gelar Bapak Tionghoa Indonesia oleh Komunitas Tionghoa Semarang pada 2014. Padahal semasa hidupnya, Gus Dur tidak pernah berpakaian semacam itu.

Gus Dur yang berstatus ‘tidak hanya kiai’ itu telah kehilangan sakralitas di tangan para seniman maupun ilustrator. Gus Dur yang multidimensional memiliki banyak sisi di mana pun orang mau memandangnya. Sebagai kiai? Presiden atau politikus? Humoris? Cendekiawan? Ahli Tarekat? Atau sebagai penulis?

Semua itu menjadi kebebasan para kreator seni untuk mengkreasikan karya Gus Dur tanpa harus terpenjara oleh sakralitas: batas-batas penghormatan kepada seorang kiai. Karya itu pun terpublikasi di media sosial dan menjadi konsumsi umum. Setiap mata yang memandangnya tidak ada yang merasa tersinggung, termasuk santri-santrinya sendiri, karena bermacam predikat yang ada pada diri Sang Guru Bangsa itu. Di samping itu, Gus Dur juga telah menjadi hak milik semua orang. Tidak ada Gus Durku, tidak ada Gus Durmu. Yang ada hanya Gus Dur kita.

Kesimpulannya, Gus Dur telah melampaui sakralitas. Atau kreator-kreator visual itu yang tak punya sopan santun?

*Desainer Grafis Tebuireng.