Beberapa siswa membaca buku di kelas. Program Gerakan Literasi di SMP A. Wahid Hasyim menjadi pendobrak baru peningkatan minta baca siswa. (foto: Iryan)

tebuireng.online– Di beberapa negara, seperti Finlandia, Norwegia, Denmark, dan Swedia ternyata sudah menerapkan kegiatan membaca buku serentak sehingga menjadi negara terbaik dalam hal kegemaran masyarakat dalam membaca. Sebaliknya, kebiasaan membaca pada masyarakat Indonesia masih sangat minim. Indonesia tercatat sebagai negara dengan peringkat ke-60 masyarakat gemar membaca. Tentu bukan angka yang baik.

Berangkat dari keperihatinan itu, untuk meningkatkan minat baca di kalangan siswa-siswi, guru, dan karyawan, SMP A. Wahid Hasyim punya gebrakan baru. Sekolah di bawah naungan Yayasan KH. M. Hasyim Asy’ari Tebuireng tersebut menggalakkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Di setiap kelas, terlihat rak-rak buku dan kerumunan siswa-siswi membaca buku.

Menurut penuturan Kepala SMP A. Wahid Hasyim, Anas, M.Hi., usai shalat Dhuha di Masjid Ulul Albab pada Kamis (19/01/2017), program yang diluncurkan pada Senin (16/01/2017) ini bertujuan untuk meningkatkan minat para siswa-siswi dan guru dalam membaca buku. Kegiatan ini dilakukan setiap hari, yaitu pada jam ke-5 selama 10 menit pukul 10.20-10.30 WIB.

Sebelumnya, siswa-siswi diminta untuk membawa minimal satu buku, baik fiksi maupun nonfiksi, selain buku mata pelajaran dan minimal terdiri dari 150 halaman. Buku-buku tersebut kemudian distempel dan nantinya akan diisi dengan nama mereka, lalu diletakkan di rak-rak yang mereka desain sendiri di kelas masing-masing. Selain itu, agar menambah  antusiasme siswa-siswa, desain ruang baca ini juga dilombakan antar kelas, agar mereka benar-benar nyaman dengan desain ruangan yang sesuai dengan keinginan.

Selain siswa-siswi, kegiatan ini juga menyasar para guru dan karyawan. Agar dapat terkontrol dan terpantau, lanjut Pak Anas, kegiatan ini juga dilengkapi dengan buku jurnal yang harus diisi oleh siswa-siswi dan ditandatangani oleh wali kelas. Setiap lembar yang mereka baca setiap hari akan dicatatkan dalam jurnal tersebut. Selanjutnya, pada akhir tahun ajaran akan dilaporkan kepada orang tua. Untuk guru dan karyawan, pihak sekolah menyediakan jadwal presentasi buku yang dibaca di ruang guru dan ruang karyawan setiap hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Program membaca ini menargetkan peningkatan prestasi siswa-siswi, baik akademik maupun nonakademik. “Harapannya siswa tidak hanya gemar membaca tapi juga menulis,” kata Pak Anas saat dihubungi via Whatsaap. Rencananya tahun ajaran depan, SMP A. Wahid Hasyim akan mengadakan program lanjutan dari Gerakan Literasi Sekolah ini untuk peningkatan minat siswa-siswi dalam menulis. Selanjutnya, SMP AWH juga akan mengoptimalkan perpustakaan dengan program digitalisasi, baik dari segi sarana maupun isinya.

Salah satu siswa, Ibnu Hibban mengaku terbantu dengan adanya program ini. “Kegiatan ini dapat membantu siswa-siswi untuk lebih semangat. Saya berharap kedepannya dibuat program bagi negara Indonesia, kegiatan agar senang membaca. Dan sisi lain dari lomba ini membuat siswa-siswi lebih kreatif dalam membuat rak buku yang dibuat dengan desain yang semenarik mungkin, jadi membuat mereka lebih kreatif,” tutur siswa kelas 8E itu.

Begitu juga dengan Putri Dewi, siswi kelas 8B. Ia mengaku sangat senang dengan program ini, karena dapat menjadi motivasi untuk lebih gemar membaca. “Kegiatan ini membuat siswa-siswi gemar membaca sejak dini. Jadi, lebih tahu. Saya berharap kedepannya Indonesia harus lebih maju dengan mewajibkan masyarakat mendatangi perpustakaan umum,” ujarnya ketika ditemui di ruang kelasnya. Ia juga menganggap positif lomba desain Pojok Membaca, karena dapat membuat siswa-siswi nyaman membaca dan kelas juga menjadi lebih indah.


Pewarta:    Iryan Ramdhani

Editor:      M. Abror Rosyidin

Publisher:  M. Abror Rosyidin

SebelumnyaKapolres Jombang: Gus Dur Contoh Sosok Toleran
BerikutnyaSarasehan Pendidikan, Ajak Alumni Jaga Nilai Kesantrian