cak jahlunCerita ini diawali pada waktu mati lampu. Adzan subuh tidak terdengar ke asrama santri. Akhirnya Ustadz Halim membangunkan santri satu persatu.

Melihat ada bayangan yang mengendap-endap di kegelapan, Cak Jahlun berfikir, “ini pasti anak-anak iseng, awas ya!.” Cak Jahlun pun memasang kuda-kuda. Setelah bayangan hitam itu mulai mendekat, tanpa pikir panjang ia merangkul bayangan itu seraya berkata: “ini dia yang sering isengin aku”.

Ketika pelukan Cak Jahlun semakin erat, terdengar suara berat dan besar dari mulut orang yang dipeluk, “Tolong jangan keras-keras, tangan saya sakit.” Mendengar itu, Cak jahlun ingat bahwa itu suara Ustadz Halim. Berarti ia salah orang. Sambil menahan malu ia melepaskan dekapannya dan minta maaf.

Saking malunya, cak jahlun lari ke kamar mandi. Disana ada orang yang membelakanginya. Dengan tertawa yang ditahan, Cak Jahlun menahan pundak orang tersebut dan menceritakan pengalaman memalukan tadi. Mendengar ada orang yang mengajak bicara, orang itu membalikan tubuh dan berkata, “ada apa?”

Ternya orang yang dipukul pundaknya adalah Ustadz Sabar, guru ngajinya. “ya ampuun… mati aku,mimpi apa aku semalam”, pikirnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sekali lagi Cak Jahlun malu bukan kepalang, dan sekali lagi ia minta maaf. Tanpa piker panjang ia berlari sejauh mungkin. (f@r)

SebelumnyaPengasuh Tebuireng Periode Keempat KH. Ahmad Baidhawi Asro (1951 – 1952)
BerikutnyaTebuireng Siap Hadapi UN