ilustrasi-nonton-film-di-bioskop

Eksploitasi Agama Berkedok “Religi”

Teringat beberapa bulan lalu, saat Lebaran 2023, ada diskusi menarik saya, dengan istri dan ayah mertua. Istri mengajak saya untuk nonton di bioskop film horror terbaru yang sedang ramai saat itu, yaitu Sewu Dino. Walaupun beberapa tahun terakhir saya berkecimpung mengembangkan perfilman di pesantren, tetapi, ketertarikan saya pada horror tidak muncul begitu besar. Mertua saya mendengar istilah Sewu Dino, kupingnya terasa sedikit tergelitik. Maklum saja, karena Ayah Mertua saya adalah mudin (perangkat bagian keagamaan di desa) yang biasa berurusan dengan pemakaman, jenazah, dan tradisi-tradisi Islam di masyarakat.

Mertua merasa aneh, dengan judul itu, karena, seribu hari merujuk pada hari peringatan kematian yang merupakan tradisi masyarakat Islam tradisionalis di Indonesia, khususnya NU yang sudah mengakar dan lekat. Muncul pertanyaan, kenapa sih harus mengangkat hal-hal seperti itu. Seribu harian kematian seorang muslim adalah ritual yang ditujukan untuk mendoakan si mayit, bukan untuk divisualkan menakutkan dan seakan ingin diasingkan lagi dari tradisi. Ini seperti upaya untuk menakut-nakuti masyarakat agar tak perlu melakukan tradisi itu lagi.

Setelah saya berselancar di dunia maya, ternyata banyak sekali film-film dengan tema-tema serupa, seperti Qorin, Makmum, Sijjin, Waktu Maghrib, Mejelang Maghrib, Mungkar, Khanzab, Qodrat, dan banyak lagi. Otomatis dong saya mencari-cari trailer ataupun sinopsis dan ulasan dari film-film itu. Film-film berikut itu, menjadikan isu-isu agama menjadi tren dalam menunjukkan kengerian, menakut-nakuti, dan hanya menampilkan tipuan visualisasi tentang ritual agama yang justru seharusnya suci dan sakral. Di tangan-tangan para sineas-sineas ini, dirubah menjadi sekedar pemenuhan nafsu konten film yang mementingkan “Jump Scare”.

Bayangkan saja, orang mau shalat, setelah nonton film Makmum misalnya, yang biasanya berani ke mushola atau shalat malam, jadi berpikir, apa jangan-jangan di belakang saya ada yang jadi makmum dari kalangan dimensi lain ya? Apalagi kejadian di sebuah daerah, ada anak-anak muda yang menarasikan seorang ibu-ibu shalat di masjid sebuah kampus Islam sebagai makhluk gaib. Ini kampus kenapa menjadi kumpulan-kumpulan manusia tumpul. Memangnya salah ada orang shalat malam-malam di masjid? Terlepas itu masjid mana pun? Karena masjid bukan milik kelompok atau perseorangan.

Muncul pertanyaan-pertanyaan aneh yang tidak substansif dan itu hasil rekayasa visual yang belum tentu benar seperti itu. Ini ‘kan akhirnya jatuhnya mengeksploitasi ritual dan isu agama. Eksploitasi ini bisa diperparah jika horor-horor ini hanya mementingkan ikonografi agama, artinya menyenikan agama tanpa disertai dengan upaya internalisasi nilai-nilai keagamaan yang semangatnya adalah dakwah, mengajak pada kebaikan, mengeluarkan dari kedangkalan berpikir, bukan malah sebaliknya. Umat Islam seperti diajak untuk secara massal berpikir dangkal terhadap ritual dan tradisinya, yang sejak kecil dilakukannya sebagai kewajiban dan kebiasaan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Contoh lagi, Menjelang Maghrib dan Waktu Maghrib, yang sama-sama bertema waktu menjelang Mahgrib. Di dalam ada narasi kalau mejelang akhir siang dan awal malam, tidak baik untuk keluar rumah. Entah ini ajaran apa? Sejak saya kecil, setiap Maghrib mesti diobrak-obrak ibu saya untuk segera ke masjid melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Ibu hanya menakut-nakuti agar tidak melaksanakan aktivitas saat jelang maghrib selain persiapkan diri melaksanakan shalat di masjid. Menakut-menakuti ‘kan ya? Ini kalau ditonton anak-anak muslim, mereka bisa tercuci otaknya untuk tidak meramaikan masjid, padahal Islam menekankan sekali ibadah di masjid.

Contoh lagi, film Kiblat. Film yang saya kira bakal full dakwah ini, justru isinya sesat dan menyesatkan. Kiblat adalah arah yang merujuk pada titik 0 Islam di Masjidil Haram Mekkah, tempat yang suci bagi umat Islam untuk bersujud dan beribadah kepada Tuhan. Eksploitasi isu agama yang berlebihan membuat film ini menjadi menjijikkan bagi saya. Apa ada upaya untuk menggeser orang-orang untuk takut shalat, takut menghadap kiblat? Sehingga perlu divisualkan orang shalat tiba-tiba badannya menekuk, bergeser tulang-tulangnya jadi jump scare lagi deh. Apa tidak cukup untuk membuat orang takut shalat sendirian karena takut ada makmum yang tak diundang? Geleng-geleng kepala saya melihat fenomena ini.

Seharusnya film-film ini, bisa berkontribusi menjadi media penyebaran konten-konten kebaikan terhadap agama, atau praktik-praktik keagamaan menyimpang yang perlu dikritisi. Ini akan menjadi menarik dan berfaedah, karena orang menonton film ini, keluar-keluar jadi menyadari akan beberapa poin yang telah diluruskan, bukan malah disesatkan. Ini justru polanya adalah menjadikan agama sebagai instrumental. Sineas gagal memadukan horror dengan agama, justru menjadikannya simbol-simbol yang terpisah dari cerita horornya.

Lagi deh, film Mungkar. Saya kira film ini berisi tentang melawan praktik-praktik kemungkaran dan meluruskan tradisi-tradisi yang menyimpang. Eh, “jebule” malah mengangkat urban legend tentang hantu santriwati bernama Herlina yang mati karena kecelakaan akibat kabur dari pondok setelah dituduh mencuri. Aduh, ini benar-benar tidak mendidik. Pesantren memang sedang hangat-hangatnya, tapi tidak juga dieksploitasi begini.

Gini, hemat penulis, seharusnya begini, ajaran agama atau nilai-nilai agama, tidak bisa semuanya dapat diatasi oleh lembaga-lembaga pendidikan agama bahkan keluarga tidak mengover semuanya. Lah, para sineas ini harusnya mindful dengan isu ini, sehingga film-film yang berbau agama, bisa bermanfaat menjadi tontonan yang memberi tuntunan juga. Karena sebagian besar penonton film di negeri ini, memang penikmat horror, jadinya, akan sangat bermanfaat sekali jika tidak hanya sekedar ekspoloitasi belaka.

Penulis beri contoh film yang menurut penulis layak diacungi jempol, yaitu film Qodrat. Film ini betul-betul difungsikan untuk melawan-lawan praktek kesyirikan, membebaskan orang dari keserupan, gangguan jin, dan lain-lain, tidak menyentuh isu-isu ritualistik yang sakral. Charles Ghozali sebagai sutradara sukses membuat Vino G Bastian sebagai pemeran utama sebagai tokoh agama yang betul-betul melawan godaan setan yang terkutuk. Ini bukan promosi ya, karena saya sendiri tidak punya kepentingan itu.

Bisa Masuk Penistaan Agama

Jika sudah keterlaluan dalam penyimpangan visualisasi agama dan ritual-ritualnya di dalam film, bisa masuk pada kategori penistaan agama. MUI pun sudah tegas menyebut bahwa film terbaru berjudul Kiblat telah menabrak rambu-rambu diwajarkan dan dilarang edar. Tidak tanpa alasan, karena di tataran trailer saja, sudah ada beberapa adegan yang menistakan agama dengan. MUI tegas menyebut sebagai eksploitasi agama demi cuan. Jika bisa masuk pada penistaan agama tentu hukum harus bicara. Agar tidak menjadi bola liar di masyarakat.

Selama ini fungsi lembaga sensor film masih belum menyentuk secara jelas batas-batas visualisasi agama di dalam film. Asosiasi film juga tidak memberi kontribusi apapun di dalam pembatasan isu agama. Kalau tidak segera dibuatkan regulasinya, ya akan terus seperti ini, agama dan pemeluknya hanya bisa jadi pasar yang diotong ke sana ke mari tanpa tahu mana yang benar dan mana yang ngawur.

Tugas Sineas-Sineas Pesantren Meluruskan

Sebagai sineas di pesantren, yang betul-betul susah payah membangun sinematografi di pesantren melihat hal ini sangat tidak pas, tentu mulai berpikir, sudah saatnya santri ramai-ramai mewarnai dunia sinema. Bila perlu, buat juga film horror yang tujuannya adalah meluruskan berbagai penyimpangan dan isu-isu agama yang mendidik.

Di pesantren-pesantren harus dibekali ilmu-ilmu ini secara proporsional, sehingga ada di antaranya nanti lulusan yang menjadi sineas-sineas yang mewarnai dunia dakwah bil-film. Munculnya jurusan-jurusan yang terkait, seperti KPI, DKV, Film dan TV di kampus-kampus Islam harusnya dimanfaatkan betul untuk kampanye ini. Komunitas-komunitas sineas sarungan diperbanyak dan dimasifkan agar film-film yang ditayangkan bisa ditiupkan ruh nilai-nilai Islam yang benar.

Indah sekali bukan, jika ada alumni pesantren jadi sutradara, produser, dan sineas-sineas yang mewarnai dakwah dengan film-filmnya yang segar dan mencerahkan. Kita tidak perlu kaget dengan kondisi sekarang, karena santri-santri atau pelajar-pelajar Islam kita dibiarkan menjadi pihak yang konsumtif terhadap film, bukan sebagai produsennya. Umat Islam sebagai mayoritas di negara ini, tidak boleh hanya jadi ladang pasar, tapi juga ikut berkontribusi. Kadang kita juga tidak bisa terlalu frontal mengkritisi karena kita tidak bisa menyaingi, kita belum mewarnai, dan kita masih jadi “pasar empuk” bagi industri film lokal maupun mancanegara.

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan para suhu-suhu perfilman yang memproduksi film-film di atas, justru ayo sama-sama kita membangun iklim perfilman yang fair saja. Kalau memang bukan konten agama, ya tidak usah dikait-kaitkan, tapi jika memang ada nilai-nilai agama yang mau dipertontonkan ya sesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang ada, bukan dikarang-karang hanya untuk kepentingan komersil, eksploitatif, apalagi hanya sekedar memunculkan “jump scare” belaka. Pokoknya menakutkan, mengagetkan, horror banget, ditonton oleh banyak orang, lalu dikatakan “sukses”.

Baca Juga: Tebuireng dan Muhammadiyah Kerjasama Produksi Film Jejak Langkah 2 Ulama;


Ditulis oleh Abror Rosyidin, Dosen Universitas Hasyim Asy’ari