sumber gambar: kapanlagi-plus

Oleh: Moh. Minahul Asna*

“Mbregegeg, Ugeg-Ugeg, Hmel-hmel, Sak Dulito, Langgeng.”
(Diam, bergerak, makan, meski sedikit, abadi.)

Ngendiko-nya Ki Semar setiap kali akan menasihati anak-anaknya. Lebih baik memulai daripada tidak sama sekali. Lebih baik segera “kerja, kerja, kerja” dari pada “banyak beretorika tapi gak ada hasil apa-apa”. Bukan tidak penting berdiskusi menyusun visi dan misi. Tapi, visi tanpa ada eksekusi hanyalah halusinasi. Dalam pewayangan Kata-kata itu juga yang mengawali dialog Ki Semar.

Sebuah pesan moral yang sangat luhur, agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, namun kepuasan yang didapat akan terasa abadi karena merupakan hasil jerih payah kita sendiri.

Ketekunan yang digambarkan Ki Semar dalam pewayangan menggambarkan bahwa kepuasan yang sejati adalah ketika usaha kita berhasil. Tidak perlu takut dengan sedikitnya pencapaian namun seperti Slogan “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, Sak Dulito, Langgeng. Perwujudan istiqomah dalam banyak hal kecil. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “Maka istikamah lah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Sekecil apapun itu Allah yang Maha Melihat tidak akan mengecewakan hamba-Nya. Kata-kata Ki Semar menunjukkan bahwa kegiatan sekecil apapun lebih baik daripada menganggur.

Dari Sa’id bin ’Umair, dari pamannya ia berkata:

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ: أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِه،ِ وَكُلُّ كَسْبٍ مَبْرُورٍ

Rasulullah ditanya: ”Penghasilan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab: ”Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan semua penghasilan yang mabrur (diterima di sisi Allah).” (Shahih Lighairihi, HR. Al Hakim. Shahih At-Targhib: 2/141 no. 1688)

Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang beriman dan bertawakal. Amin…

*Alumnus Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.
**Artikel ini diambil dari beberapa sumber.

SebelumnyaSemarak Siswa Aliyah Peringati Maulid Nabi Muhammad
BerikutnyaBagaimana Hukum Mengonsumi Daging Kuda?