sumber ilustrasi: iqra.id

Oleh: M. Minahul Asna*

Semboyan dalam bahasa Jawa yang berbunyi, “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, merupakan semboyan ciptaan Ki Hajar Dewantara yang sampai kini menjadi slogan Kementerian Pendidikan Indonesia. Semboyan tersebut menyiratkan bahwa pendidikan adalah hal yang harus berdasarkan 3 tunjangan.

Semboyan pertama adalah ing ngarsa sung tulada, yang jika diuraikan satu persatu, terdiri dari kata ing yang berarti “di”, ngarsa yang berarti “depan”, sung berarti “jadi”, dan tulada yang merupakan “contoh” atau “panutan”.

Dari kalimat tersebut, bisa disimpulkan bahwa semboyan Ki Hajar Dewantara yang pertama ini mempunyai arti “di depan menjadi contoh atau panutan”.

Ini artinya, seorang guru, pengajar, atau pemimpin harus bisa memberikan contoh serta panutan kepada orang lain di sekitarnya saat ia berada di depan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Firman  Allah  SWT  dalam  surat  At-Tahrim  ayat  6 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang    yang    beriman,    peliharalah    dirimu    dan keluargamu  dari  api  neraka  yang  bahan  bakarnya  adalah  manusia  dan batu;   penjaganya   malaikat-malaikat   yang   kasar,   keras,   dan   tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Hal menarik dari ayat ini adalah saat turunnya menjelaskan bagaimana kita mendidik putra putri kita ialah menjadikan kita sebagai sentral. Apa pun yang telah kita ketahui dari perintah dan larangan itu lah yang harusnya diberikan pada murid kita. Hal ini memang seharusnya menjadi pedoman bagi para guru bahwa apapun pesan yang kita berikan menjadi kewajiban kita untuk juga melakukannya.

Guru menjadi contoh yang akan dilihat para murid di masa depan. Dengan begitu standart awal yang harus dimiliki para guru ialah ia pantas untuk menjadi contoh para siswa yang diajarnya.

Diriwayatkan bahwa  ketika  ayat  ke-6 ini turun, Umar bin Khatab RA berkata, “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami? Rasulullah SAW menjawab, “larang mereka mengerjakan apa   yang   kamu   dilarang   mengerjakannya   dan   perintahkan   mereka melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadamu.”

Arti dari semboyan kedua, Ing artinya “di”, madya memiliki arti “tengah”, sedangkan mangun berarti “membangun” atau “memberikan”, dan karsa memiliki arti “kemauan”, “semangat”, atau “niat”.

Jika digabungkan, semboyan ing madya mangun karsa memiliki arti yaitu “di tengah memberi atau membangun semangat, niat, maupun kemauan.”

Semboyan ing madya mangun karsa memiliki makna bahwa ketika guru atau pengajar berada di tengah-tengah orang lain maupun muridnya, guru harus bisa membangkitkan atau membangun niat, kemauan, dan semangat dalam diri orang lain di sekitarnya.

Hal ini yang paling jarang diamalkan dengan baik. Dalam pendidikan proses adalah segalanya. Bagaimana murid bisa menikmati sebuah proses adalah suatu hal yang sangat sulit dipahami oleh mereka. Peran seorang pengajar adalah membangun kesadaran tersebut. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari sebuah proses. Kesabaran dan keuletan menjadi produk dari semboyan kedua ini.

Singkatnya semangat dalam menjalani kegiatan yang diamanahkan kepadanya maupun tidak yaitu kegiatan sehari-hari yang mungkin remeh untuk dilakukan. Semangat akan keberhasilan yang menanti usaha kita lah yang terpenting. Bukan keniscayaan bahwa takdir menjadi patokan dalam hasil kita namun keyakinan kita bahwa yang kita lakukan tidak sia-sia.

Dari Umar bin Khattab, Rasulullah bersabda:

 لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).

Terakhir, tut wuri dapat diartikan sebagai “di belakang” atau “mengikuti dari belakang” dan handayani yang berarti “memberikan dorongan” atau “semangat”.

Dari pengertian tersebut, bisa diartikan tut wuri handayani memiliki arti “di belakang memberikan semangat atau dorongan.”

Makna dari semboyan ketiga ini berarti ketika berada di belakang, pengajar atau guru harus bisa memberikan semangat maupun dorongan kepada para muridnya. Guru menjadi seorang motivator bagi para muridnya, mendorong untuk bisa menjadi lebih baik setiap harinya. Tentu dalam hal ini kedua hal di atas harusnya sudah diamalkan.

Guru bisa menjadi sosok motivator bagi siswa, Tut Wuri berarti mengikuti dari belakang dengan penuh perhatian dan penuh tanggung jawab berdasarkan cinta dan kasih sayang yang bebas dari pamrih dan jauh dari sifat authoritative, possessive, protective, dan permissive yang sewenang-wenang. Sedangkan Handayani berarti memberi kebebasan, kesempatan dengan perhatian dan bimbingan yang memungkinkan anak didik atas inisiatif sendiri dan pengalaman sendiri, supaya mereka berkembang menurut garis kodrat pribadinya.

Kedalaman konsep yang diusung Ki Hajar Dewantara menjadikan filosofi ini diharapkan bisa dicerna oleh para guru. Metodenya tidak terbatas namun beliau menggarisbawahi hal yang harus diperhatikan yaitu: (a). Memberi contoh (voorbeelt), (b). Pembiasaan (pakulinan, gewoontevorming), (c). Pengajaran (wulang-wuruk), (d). Laku (zelfbeheersching),. Pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa).

Konsep muallim (pengajar) dalam Islam pun memiliki standar yang sangat tinggi. KH. M. Hasyim Asy’ari pun sampai membuat kitab Adabul Alim wal Muta’allim. Karya yang benar-benar baru dalam mengusung Akhlak dalam pengajaran yang tidak hanya membahas dari prespektif murid saja, namun di dalamnya pun menjelaskan dalam prespektif guru.

Wallahu A’lam.

 *Alumnus Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

**Tulisan ini diambil dari berbagai sumber.

SebelumnyaHukum Menyiram Air Kembang di Kuburan
BerikutnyaMenjawab Anggapan Malapetaka Rebo Wekasan