
Langit subuh di kota kecil itu selalu tampak lebih pucat dibandingkan kampung halaman kami. Anginnya berbeda, aromanya berbeda, bahkan suara ayam yang berkokok pun terasa asing di telingaku. Sudah dua tahun aku tinggal di sini, kota yang tidak pernah masuk dalam daftar impianku, menjaga sebuah warung kecil di sudut jalan perempatan. Ramadan tahun ini menjadi Ramadan ketiga kami di perantauan.
Namaku Latifah. Dulu, orang-orang mengenalku sebagai Bu Latifah, guru Bahasa Indonesia di sebuah madrasah swasta di desa. Setiap pagi aku berdiri di depan kelas, menuliskan puisi di papan tulis, membimbing anak-anak menyusun kalimat, dan mengajarkan mereka bahwa kata-kata bisa menjadi cahaya. Aku mencintai pekerjaanku. Aku mencintai suara gaduh murid-murid yang memanggil namaku. Namun cinta saja rupanya tidak cukup untuk membayar listrik, uang sekolah, dan cicilan utang.
Gajiku sebagai guru tak pernah sampai pada angka yang bisa membuat kami bernapas lega. Suamiku, Arman, bekerja freelance memperbaiki komputer dan kadang menerima pesanan desain sederhana. Penghasilannya tak menentu. Kadang dalam satu minggu kami bisa membeli lauk yang lebih baik, kadang dalam dua minggu kami harus memutar otak agar beras tetap cukup hingga akhir bulan.
Kami memiliki dua anak Aisyah yang kini duduk di kelas enam, dan Fikri yang baru kelas tiga. Mereka sedang berada pada usia-usia penting yang membutuhkan perhatian dan biaya pendidikan. Belum lagi utang keluarga yang kami ambil beberapa tahun lalu untuk biaya berobat ibuku sebelum beliau meninggal. Setelah ibu tiada, ayah tinggal sendirian di rumah tua kami.
Keputusan merantau bukan keputusan yang lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari diskusi panjang, dari air mata yang ditahan, dari rasa malu yang disembunyikan. Ketika seorang kenalan menawarkan agar kami menjaga warungnya di kota lain, dengan sistem bagi hasil, Arman menatapku lama malam itu.
“Kita coba, La?” tanyanya pelan.
Aku tahu pertanyaan itu bukan sekadar soal warung. Itu tentang melepaskan profesiku sebagai guru. Tentang meninggalkan rumah yang penuh kenangan. Tentang mengajak ayah ikut bersama kami agar tidak sendirian.
Aku terdiam lama. Lalu aku mengangguk.
***
Ramadan pertama kami di kota ini terasa berat. Warung yang kami jaga tidak besar, hanya bangunan semi permanen dengan rak-rak kayu sederhana. Kami menjual kebutuhan pokok, jajanan anak-anak, gas elpiji, dan minuman dingin. Ketika Ramadan tiba, kami menambah stok kurma, sirup, dan tepung untuk membuat gorengan.
Setiap pukul tiga pagi, aku sudah bangun untuk menyiapkan sahur. Ayah biasanya lebih dulu terjaga. Di usianya yang sudah melewati enam puluh lima, ia masih ringan tangan membantu menyiapkan meja. Aisyah dan Fikri bangun dengan mata setengah terpejam, duduk di lantai beralaskan tikar, menyantap nasi hangat dengan telur dadar atau tempe goreng.
Setelah sahur dan salat Subuh, Arman langsung membuka warung. Ramadan justru membuat warung lebih ramai. Orang-orang membeli bahan untuk berbuka, anak-anak membeli es menjelang Magrib, dan ibu-ibu berdatangan mencari gula atau santan yang tiba-tiba habis di dapur mereka.
Aku membantu di sela-sela mengurus rumah. Kadang, ketika warung sedang sepi, aku duduk di bangku kecil dekat etalase, memperhatikan anak-anak sekolah yang melintas. Ada rasa nyeri tipis setiap kali melihat mereka berseragam. Rindu itu datang tanpa diundang. Rindu berdiri di depan kelas. Rindu memanggil nama murid satu per satu.
Suatu siang di pertengahan Ramadan, Aisyah menghampiriku di warung.
“Bu, tadi di sekolah ditanya cita-cita. Aku bilang ingin jadi guru seperti Ibu.”
Tanganku yang sedang menghitung kembalian berhenti sejenak. Aku tersenyum, tapi ada sesuatu yang bergetar di dada.
“Kenapa mau jadi guru?” tanyaku lembut.
“Karena guru itu bikin orang lain pintar. Itu pahala, kan Bu?”
Aku mengangguk. “Iya, Nak. Pahala.”
Ia menatap rak berisi mi instan dan minyak goreng. “Tapi Ibu sekarang bukan guru lagi.”
Kalimat itu tidak menyakitkan, hanya jujur. Aku mengusap kepalanya. “Ibu tetap belajar dan mengajar, hanya tempatnya berbeda.”
Malam itu, setelah tarawih, aku duduk di teras kecil bersama ayah. Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang sepi.
“Kamu masih sedih meninggalkan sekolah?” tanya ayah tiba-tiba.
Aku terdiam. Di hadapan ayah, aku selalu menjadi anak kecil yang tak pandai berbohong. “Kadang, Yah.”
Ayah tersenyum tipis. “Rezeki itu bukan hanya soal pekerjaan yang kita cintai. Kadang Allah memindahkan kita supaya kita belajar mencintai pekerjaan yang ada.”
Aku menatap wajahnya yang mulai dipenuhi garis usia. Ayah dulu petani. Ia tak pernah memilih sawah sebagai cita-citanya, tapi sawah telah membesarkan kami.
***
Ramadan tahun kedua lebih stabil. Kami mulai mengenal pelanggan tetap. Beberapa mahasiswa yang kos di sekitar warung sering berbuka dengan membeli gorengan dan es buah yang kubuat sendiri. Mereka memanggilku “Bu” dengan akrab. Tanpa kusadari, warung kecil ini menjadi ruang belajar yang berbeda. Aku mengajari Aisyah dan Fikri mengerjakan PR di sela-sela melayani pembeli. Kadang mahasiswa itu ikut bertanya soal tugas kuliah mereka. Aku kembali menjelaskan struktur kalimat, memperbaiki ejaan, dan membahas puisi, di antara rak sabun dan tumpukan beras.
Ramadan tahun ini terasa lebih menenangkan. Utang kami mulai berkurang sedikit demi sedikit. Tidak banyak, tapi cukup membuat kami tidak lagi tercekik. Arman juga mulai mendapat pelanggan tetap untuk jasa servisnya. Ia mengerjakan pesanan di malam hari setelah tarawih.
Namun, ujian tetap ada. Harga kebutuhan pokok naik menjelang Ramadan. Beberapa pelanggan berutang dan belum bisa membayar. Pernah suatu sore, stok gula habis dan distributor terlambat mengirim. Aku melihat wajah Arman yang lelah, tapi ia tetap tersenyum pada pelanggan.
“InsyaAllah besok ada lagi, Bu,” katanya sabar.
Malam itu kami menghitung uang hasil penjualan. Tidak seberapa. Aku melihat daftar kebutuhan sekolah anak-anak untuk tahun ajaran baru yang ditempel di dinding.
“Kadang aku takut tidak cukup, pak,” bisikku.
Arman menggenggam tanganku. “Dulu kita takut tidak bisa makan. Sekarang kita masih bisa berbagi gorengan untuk orang berbuka. Itu artinya Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.”
Kalimatnya sederhana, tapi menenangkan.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, aku berusaha lebih khusyuk. Setelah warung tutup dan anak-anak tidur, aku menggelar sajadah di sudut ruangan. Dalam sujud yang lama, aku menangis. Bukan karena menyesal, tapi karena menyadari betapa perjalanan ini membentukku.
Aku belajar bahwa harga diri tidak terletak pada jabatan. Aku pernah menjadi guru dengan pakaian rapi dan papan tulis sebagai saksi. Kini aku pedagang dengan celemek sederhana dan etalase kaca. Tapi keduanya sama-sama jalan untuk mengabdi. Sama-sama ladang untuk menanam keikhlasan.
Aku belajar bahwa suami-istri bukan hanya berbagi cinta, tetapi juga berbagi beban. Arman tidak pernah menyalahkanku karena gajiku kecil dulu. Aku juga tidak pernah menyalahkannya atas pekerjaan freelance yang tak menentu. Kami sama-sama rapuh, tapi saling menguatkan.
Aku belajar bahwa anak-anak tidak membutuhkan kemewahan sebanyak yang kita kira. Mereka lebih membutuhkan kehadiran dan keteladanan. Aisyah dan Fikri melihat kami bangun sebelum fajar, bekerja hingga malam, tetap tersenyum pada pelanggan, dan tetap salat berjamaah meski lelah. Itu pelajaran yang tak tertulis di buku sekolah.
Dan aku belajar bahwa ayah, dengan usia dan kesederhanaannya, adalah pengingat bahwa hidup selalu tentang menerima dan memperjuangkan sekaligus.
Malam takbiran tiba dengan suara gema dari masjid-masjid sekitar. Warung kami tutup lebih awal. Aku memasak opor ayam sederhana dan lontong untuk esok hari. Kami makan bersama di lantai, beralaskan tikar yang sama seperti saat sahur.
“Apa yang paling Ibu syukuri Ramadan ini?” tanya Aisyah tiba-tiba.
Aku memandang wajah mereka satu per satu. “Bahwa kita masih bersama,” jawabku pelan. “Dan bahwa kita tidak menyerah.”
Ayah mengangguk, matanya berkaca-kaca. Arman tersenyum lelah namun penuh makna.
Di kota yang dulu terasa asing ini, aku akhirnya mengerti perantauan bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi tentang berpindah cara pandang. Aku tidak lagi melihat diriku sebagai guru yang gagal bertahan, melainkan sebagai perempuan yang sedang belajar sabar dalam bentuk yang baru.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















