Esensi Iman pada Kitab-kitab Allah

184
Sumber gambar: http://ulamasedunia.org/2016/11/18/membela-al-quran/

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Saya ingin bertanya pak ustad, apa esensi dari salah satu rukun iman, yaitu iman kepada kitab-kitab Allah? Mohon pencerahannya, Terima kasih.

Fira, Bogor

Wa’alaikumsalam Wr. Wb

Terima kasih kepada penanya, Saudari Fira dari Bogor. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua dalam aktivitas sehari-hari. Amiin yaa  rabbal alamiin. Adapun jawabannya sebagai berikut:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Rukun iman dalam ajaran Islam merupakan dasar-dasar pokok dalam aqidah (keyakinan) yang harus diketahui, diyakini, dan diakui oleh seluruh mukallaf tanpa terkecuali. Mukallaf ialah seorang  yang sudah baligh, berakal, dan telah sampai padanya pokok dakwah Islam, yakni telah sampai kepadanya bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Tentang dasar-dasar pokok keimanan, sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadis yang dikenal dengan hadis Jibril:

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»، قَالَ: صَدَقْتَ . (رواه مسلم)

“Dia (Malaikat Jibril) bertanya, “kabarkanlah kepadaku tentang iman? Beliau (Rasulullah) menjawab: “kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari akhir dan Qadar (ketentuan Allah) yang baik dan buruk.” Dia (Malaikat Jibril) berkata, ‘kamu benar’. (H.R Muslim juz 1 halaman 36)

Dasar-dasar iman yang enam ini atau yang dikenal dengan Ushulul Iman as-Sittah merupakan bagian dari dasar-dasar keyakinan dalam Islam dan termasuk bagian dari Ulumuddin adh-Dharury, yaitu pokok-pokok agama yang wajib diketahui, diyakini, dan diakui oleh setiap mukallaf.

Diantara Ushulul Imam as-Sittah yang di atas, setelah iman kepada Allah dan iman kepada Malaikat adalah iman kepada kitab-kitabNya. Iman kepada kitab-kitab Allah artinya mempercayai dan membenarkan bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab sebagai wahyu kepada beberapa para rasulNya. Sebagaimana yang telah kita sering dengar dan ketahui bahwa Allah menurunkan empat kitab kepada para NabiNya, yakni kitab Taurat kepada Nabi Musa, kitab Zabur kepada Dawud, kitab Injil kepada Nabi Isa dan kitab Al Quran kepada Nabi Muhammad. Namun sebenarnya, jumlah kitab-kitab Samawi yang diturunkan kepada para Nabi sangat banyak tidak terbatas hanya empat kitab saja yang wajib kita ketahui.

Dr. H. Kholilurrohman, MA dalam bukunya Hadits Jibril (Penjelasan Hadis Jibril Memahami Pondasi Iman yang Enam) menjelaskan bahwa kitab Samawi yang diturunkan kepada para Nabi adalah sebanyak 104 kitab. Sebanyak 50 kitab kepada Nabi Syits putra Nabi Adam diangkat menjadi Nabi setelah Nabi Adam wafat, 30 kitab kepada Nabi Idris, 10 kitab kepada Nabi Ibrahim, 10 kitab kepada Nabi Musa sebelum diturunkan kitab Taurat. Kemudian sisanya empat kitab, Taurat kepada Nabi Musa, Zabur kepada Nabi Dawud, Injil kepada Nabi Isa dan kitab Al Quran kepada Nabi Muhammad. Adapun para Rasul yang tidak diturunkan kitab-kitab kepada mereka, Allah menurunkan bagi mereka Ash-Shuhuf (lembaran-lembaran).

Kita harus meyakini bahwa seluruh  kitab-kitab yang telah turunkan kepada para Nabi dan Rasul mengajarkan ajaran Tauhid. Menyerukan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan agama seluruh Nabi tersebut hanya satu, yaitu agama Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh baginda Nabi Muhammad bahwa semua nabi menyeru hanya hanya kepada Agama yang satu ini, yakni Islam.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أنا أولى الناس بعيسى ابن مريم في الدنيا والآخرة، والأنبياء إخوة لعلات، أمهاتهم شتى ودينهم واحد»  (متفق عليه)

“Rasulullah bersabda: “Aku orang yang paling dekat dengan ‘Isa bin Maryam di dunia dan akhirat, dan para Nabi (ibarat) saudara seayah, dan ibu-ibu mereka (artinya syariat-syariat mereka) berbeda-beda, sedangkan agama mereka satu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Namun, setelah para Nabi dan Rasul wafat meninggalkan kaumnya, banyak kitab-kitab terdahulu yang mengalami penyelewengan isi (makna) dan perubahan lafad yang dilakukan sebagian orang. Sehingga isi kandungan ajaran tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul terdahulu hilang dalam kitab-kitab yang telah mengalami penyelewengan dan perubahan (At-Tahrif wa At-Tabdil). Hanya kermuniaan dan kebenaran Al Quran yan selalu terjaga. Hal ini sebagaimana dijanjikan Allah dalam firmanNya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (الحجر :9)

“Sesungguhnya kami (Allah) yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya kami (pula) yang menjaganya.” (QS. al-Hijr : 9)

Dan Al Quran adalah kitab terakhir yang diturunkan dan juga yang membawahi dan menetapkan kebenaran isi kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjelaskan penyelewengan isi dan perubahan lafadnya. Hal ini disebutkan dalam QS. al-Maidah.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ (المائدة : 48)

“Dan kami (Allah) telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan ssebelumnya dan menjaganya.” (QS. al-Maidah : 48)

Dengan semua penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah, yaitu menyakini bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada para Nabi dan RasulNya. Diantara kitab-kitab tersebut yang sangat terkenal, yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran.  Kemurnian dan kebenaran Al Quran akan selalu terjaga.

Dan kita harus menyakini sepenuhnya terhadap kitab-kitab Allah yang termasuk salah satu Ushul Iman As-SIttah yang merupakan bagian dari dasar-dasar keyakinan Islam. Orang-orang yang dengan konsisten memegang teguh enam dasar ini disebut dengan sebutan Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat Rasulullah, Tabi’in, Tabi’ Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka yaitu mayoritas umat Muhammad, baik dari para ulama terkemuka maupun golongan awam dari kalangan yang bermazhab Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, dan Imam Hambali, yang notabene mereka adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.


*Dijawab oleh Miftah al Kautsar, Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.