Ekspor dari Cukir

posdeOleh: Hilmi Abedillah*)

Ramadan 1437 H.

Sandalku hilang di masjid, tapi ustadz selalu berpesan, “Di balik kesulitan pasti ada kemudahan.”

Namun, kemudahan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Inikah yang disebut rindu memeluk bulan? Lha setiap kali berjamaah di masjid hatiku selalu was-was, bukan was-was yang Bahasa Arabnya “khouf” itu, tapi was-was karena sandalku dalam bahaya.

Ini bulan Ramadan. Pada tarawih ketiga, aku kehilangan sandal di masjid. Memang sebagai orang yang imannya masih ciut, kehilangan sandal itu suatu yang berat. Untuk membeli sepasang sandal biru yang masih tergolong baru itu harus menggunakan uang pas-pasan. Belum banyak sih kenangan bersamanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada tarawih ketiga itu juga, seorang teman sekamarku juga kehilangan sandal di masjid. Tapi sandalnya tidak lebih bagus dari sandalku. Jadi kesulitan yang aku alami jelas lebih besar. Saat menghampiri tempat di mana terakhir sandalku aku letakkan, aku menoleh ke mana-mana. Si dia tidak ada di tempat, pasti ada orang yang ngembat.

Aku pun kembali ke kamar dengan kaki telanjang. Pada saaat itu pula aku mendengar orang sedang mengeluh tentang hal yang sama. Katanya, “Tiga hari habis tiga sandal.” Kalau dihitung secara matematis, tiga hari habis tiga sandal berarti satu hari habis satu sandal. Dihitung secara matematis juga, kesulitan orang itu lebih berat dari yang aku alami.

Esok harinya, tanpa mengharap sandal biruku kembali, aku segera membeli sandal yang baru. Aku harus segera move on. Seperti biasa, aku membeli sandal di toko dekat pesantren yang penjualnya mas-mas masih muda. Kadang juga bapaknya.

“Mau beli sandal, mas.”

“Oh, silahkan pilih, mas,” katanya sopan.

Aku mencoba sandal-sandal yang tergantung di tokonya yang kelihatan klasik itu. Satu per satu dengan beberapa model. Ukuran kakiku 42. “Itu yang model baru, mas,” ucapnya saat aku mencoba sandal slop berwarna hitam merah. “Kurang besar?”

“Tidak, mas. Sudah pas,” jawabku.

“Yang itu 35 ribu, mas.”

“Tapi saya masih ragu mau beli ini, mas.”

Lho, nggak usah ragu. Sandal itu sudah cocok sekali.”

“Sudah cocok di pikiran, tapi tidak cocok di hati.”

“Sudahlah, mas, jangan banyak dipikir. Mas ini cari sandal kaya cari jodoh saja.”

“Sebenarnya, saya itu cari yang…”

“Yang bagaimana, mas? Di sini semuanya lengkap.”

“Yang anti maling, mas.”

Penjual itu tidak bisa menjawab. Ia pikir aku yang sedang geser. Mana mungkin seorang penjual sandal harus bertanggung jawab atas keamanan sandal hingga akhir hayat. Maksudnya, hingga sandal itu benar-benar rusak di tangan pemiliknya. Maksudnya di kaki pemiliknya. Penjual tidak mungkin menjamin itu semua. Dari zaman batu pun, tidak ada orang jual sandal bergaransi resmi.

“Wah, kalau soal itu saya tidak bisa menjamin, mas. Anda sendiri yang harus menjaga sandal itu. Sebagaimana kita menjaga diri kita dari hal-hal yang berbahaya. Apa yang Anda miliki, itulah yang wajib Anda jaga.”

“Oh, seperti itu mas. Sebenarnya saya juga tidak menuntut mas untuk menjaga sandal saya. Saya hanya ingin membeli sandal yang anti maling. Jadi, seakan-akan sandal itu yang menjaga dirinya sendiri.”

“Hahaha…,” tawanya ngakak.

“Jadi, ada nggak nih mas?”

“Terus terang saya tidak menjual barang seperti itu mas. Tapi saya punya solusi.”

“Apa itu?”

“Ini untuk memperkecil kekecewaan anda saat kehilangan lagi. Sandal ekspor. Kualitasnya bagus, tapi harganya murah meriah. Khusus untuk Anda hari ini.”

“Bukannya kalau ekspor itu harganya lebih mahal mas?”

“Oh, benar. Soalnya ini ekspor dari Cukir,” katanya sambil terkekeh.

“Ya sudah, berapa harganya?”

“Sepuluh ribu.”

Ia memberikan sepasang sandal untukku, dan aku mengulurkan uang. “Tapi ingat ya mas, setiap Anda kehilangan sandal, berarti Allah ingin menggantinya dengan yang baru,” ucapnya sambil tersenyum. Lalu aku melengang pulang.

🤔  Rintihan dari Sebuah Kota

Sampai di kamar, aku ingat sebuah wasiat dari ustadz. Kalau ingin barang kita aman dari pencuri, jambret, dan sebagainya, kita bisa bacakan basmalah 21 kali. Cara bacanya, dibaca dua basmalah satu nafas, dan terakhir tiga basmalah satu nafas. Berarti yang dua basmalah satu nafas ada sembilan kali.

Ah, itu bagian dari ikhtiar. Karena sepertinya syukuran untuk sandal baru juga hal yang aneh. Apalagi harus mengeluarkan dana yang besar yang harusnya bisa untuk membeli lima pasang sandal. Akhirnya, aku ikhtiar dengan ikhtiar yang paling ringan.

Jalan apapun yang aku lalui, tak akan pernah bisa membuat was-wasku hilang saat memulai takbir shalat tarawih. Selain ikhtiar tadi, aku juga memisahkan sandalku antara satu dan satunya. Aku yakin ini membuat mereka aman. Kalau maling melihat sandal cuma sebelah, pasti tidak akan diambil. Tapi was-was masih terus menghantui.

Setiap kali melewati masjid, aku selalu tengok dan memperhatikan apakah ada sandal warna biruku? Berkali-kali aku melewati, berkali-kali pula harapanku patah. Karena tak sekali pun aku menemuinya.

Tarawih keempat malam Ramadan, sandalku aman dan aku bisa kembali ke kamar dengan perasaan lega. Adagium yang berbunyi “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” tidak selamanya benar. Ketika sebuah sandal dipisah dari pasangannya, justru malah menjadi teguh dan anti maling.

Tarawih kelima, aku tidak ikut berjamaah di masjid karena khawatir was-was. Lebih baik aku tidur di kamar dan melupakan seluruh beban hidup. Bangun-bangun sudah waktunya sahur, dan setelah itu tidur lagi.

Tarawih keenam, aku menghayati ibadah kepada Allah yang jauh lebih besar dibanding sepasang sandal, harta yang tak seberapa. Aku pun memutuskan untuk berangkat ke masjid lagi, dengan risiko yang siap aku tanggung. Seperti hari yang lalu, tidak ada takbir tanpa hati yang was-was. Rasanya aku ingin menaruh sandalku di sampingku, menjaganya agar tetap aman.

Selesai melakukan dan shalat witir, para jamaah bubar. Sepasang sandalku yang diekspor dari Cukir itu masih bisa hidup bersamaku lebih lama lagi. Aku lekas melangkah menuju kamarku. Tapi, eh, kok ada sandal biru?

Aku perhatikan dengan seksama kedua sandal itu. “Ini kan sandalku yang hilang kemarin?” ujarku dalam hati.

“Padahal aku melintass berhari-hari di sini dan tidak menemukanmu, tapi mengapa kini kau kembali dalam hidupku? Di saat hati ini sudah tak punya harapan lagi kepadamu, kenapa engkau tiba-tiba muncul, wahai sandal?”

Aku berniat menunggu siapa yang sebenarnya mengambil sandalku itu. Tapi, mungkin saja yang memakainya bukan maling yang kemarin. Bisa jadi dia pinjam dari si maling kemarin. Atau barangkali malah dia maling yang kedua? Akhirnya kuurungkan niat itu.

Aku melengang pergi. Karena aku telah berencana melupakan sandal biru itu. Kini ia bukan lagi milikku. Ia milik orang lain. Yang aku miliki sekarang ialah yang sebenarnya terbaik untukku: sandal ekspor dari Cukir. Tidak perlu mahal, yang penting berkualitas. Dan aku biarkan, mantan sandalku itu bahagia dengan pemilik barunya.

Kalau saja ia hadir sebelum aku membeli sandal baru, pastilah aku menerimanya dengan lapang dada. Tapi, bagaimana mungkin dengan keadaan saat seperti ini? Datang kembali saat aku sudah punya yang baru. Sungguh menyesakkan dada.

Dari kejadian inilah aku wajib menyangkal pesan ustadz. “Di balik kesulitan, pasti ada kesulitan yang lain.”


*) Cerpenis Muda Tebuireng dan Penggemar Sandal Buatan Cukir