Oleh: Devi Yuliana*

Kita tentu pernah merasa bahwa apa yang kita lakukan saat ini tidak menambah nilai manfaat pada diri kita, merasa stagnan dalam menjalani hidup, bahkan terkadang semangat kita justru menjadi semakin menurun dari hari ke hari. Rutinitas yang sama tiap harinya menyebabkan diri kita merasa aman dalam mengerjakannya, namun jenuh di sisi lain. Ditambah jika kita telah melihat teman kita sukses, rekan kita yang sudah berhasil mencapai mimpinya, atau bahkan saingan kita yang saat ini bisa hidup mewah. Hal ini ini semakin membuat kita berpikir bahwa “Hidupku kok gini-gini saja ya?”.

Kebiasaan berselancar dalam Instagram terkadang justru membuat hati kita semakin meronta-ronta. Hal ini dikarenakan kita sering melihat betapa mudahnya orang bahagia di luar sana. Sedangkan hidup kita sendiri masih seperti ini saja, seolah hidup kita tidak ada artinya.

Namun di sisi lain, ketika kita ingin memulai hal baru ataupun pengalaman baru, kita terlalu takut dan enggan untuk memulai langkahnya. Takut gagal, takut akan perubahan, takut dijauhi teman, dan ketakutan-ketakutan yang lainnya. Parahnya lagi, kita justru sampai tidak melakukan langkah apapun dikarenakan pikiran kita sendiri

Hal ini memang lumrah dialami hampir oleh semua orang. Meski terkadang mereka memiliki cara masing-masing dalam menghadapinya. Namun mayoritasnya, mereka membiarkan kebiasaan “merasa aman” ini terus berlarut sehingga kerap kali menimbulkan kebiasaan-kebiasan  yang tidak baik, misalnya saja rasa malas memulai hal baru dikarenakan kita sudah merasa puas dengan apa yang telah kita capai. Pertanyaannya ialah apakah kita akan terus berlarut dalam keadaan seperti ini, tentu tidak.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam salah satu bait muqodimah kitab nadzom al-Imrithi dijelaskan

اِذِ اْلفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِع * وَكُلُّ مَنْ لَمْ يعْتَقِدْ لَمْ يَنتَفِعْ

Artinya : Karena kemulyaan seorang pemuda itu diukur dari tekadnya. Barang siapa tidak memiliki tekad, maka ia tidak akan memperoleh manfaat.

Dari cuplikan nadzom tersebut dapat diambil pelajaran bahwa jika kita ingin sukses maka kita harus memiliki tekad yang kuat dalam memperjuangkannya. Kita sudah seharusnya tidak perlu risau dengan penilaian orang lain saat kita berproses. Toh mereka juga hanya penonton yang tak berperan banyak dalam gagal berhasilnya diri kita.

Jika kita sudah berusaha dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga saat itulah saat saat dimana doa-doa dilangitkan. Bukankah jika bukan karena rahmat Allah kita bukanlah apa-apa di dunia ini. Kita adalah hamba lemah yang senantiasa meminta pertolongan ataupun permintaan kepada Allah, meski kita hanya datang kepadaNya di saat kita butuh saja. Namun Allah selalu medengar keluh kesah kita di manapun, kapan pun, dalam keadaan bagaimanapun. Oleh karena itu sudah seharusnya kita menyertakan Allah dalam setiap langkah sekecil apapun.

Terdapat sebuah doa yang diajarkan oleh Ustad Yusuf Mansur agar kita senantiasa dipermudah untuk menjadi lebih baik tiap harinya

أَللهُمَّ أَخْرِجْنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الجَهْلِ وَالْوَهْمِ، وَالْاِثْمِ وَالذُّنُوْبِ وَالْمَعْصِيَةِ وَالْعُدْوَانِ، اِلَى أَنْوَارِ اللهِ وَالْمَعْرِفَةِ وَالْعِلْمِ، وَالْاِسْلَامِ، وَالْاِيْمَانِ، وَالْاِحْسَانِ، وَالْعِبَادَةِ، وَالصَّبْرِ.

Artinya : Ya Allah keluarkan kami dari kegelapan, kebodohan, keragu-raguan, dari dosa, kesalahan, maksiat dan permusuhan. Kepada cadaya Allah, cahaya makrifat, cahaya ilmu, cahaya Islam, iman, ihsan, ibadah, serta sabar.

Dengan doa ini kita dapat memohon kepada Allah agar kita dikeluarkan dari sifat-sifat yang tidak baik. Dijauhkan dari rasa malas sehingga kita bisa menjalani kegiatan-kegiatan baru dan keluar dari zona nyaman tanpa merasa takut akan kegagalan.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSiapa Bilang KH. Hasyim Asy’ari Itu Kuper?
BerikutnyaMelonjaknya Produktivitas di Era New Normal