Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #5

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Walaupun Kiai Hasyim jarang sekali meninggalkan Tebuireng dalam waktu yang lama, bukan berarti beliau adalah kiai yang kuper alias kurang pergaulan. Kalau kalian tahu faktanya, bisa jadi terkaget-kaget. Jaringan beliau adalah ulama dunia, bukah hanya nasional. Namun, seperti yang penulis katakan di seri sebelumnya beliau adalah “The Hidden or Silent Leader”, beliau tak suka diekspos berlebih. Bahkan foto saja beliau tidak begitu suka, salah satu santri bahkan menuturkan orang-orang sampai sembunyi-sembunyi untuk bisa mengambil gambar beliau.

Beberapa jaringan didapatkan dari pergaulan beliau dengan guru dan sesama pelajar dari berbagai dunia di Mekkah dan Madinah. Gairah belajar Kiai Hasyim sangat tinggi. Sederet ulama ternama di Tanah Haram pernah ia ambil ilmunya, seperti Syaikh Syu’aib bin Abdurrahman, Syaikh Mahfudz at-Turmusi, Syaikh Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Amir al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said al-Yamani, Syaikh Rahmatullah, dan Syaikh Bafadhal.

Sejumlah Sayyid juga pernah menjadi gurunya, di antaranya ada Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Sulthan Hasyim ad-Daghistani, Sayyid Abdullah az-Zawawi, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Aththas, Sayyid Alwi as-Segaf, Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyati, dan Sayyid Husain al-Habsyi yang merupakan juru fatwa di Mekkah. Dari sekian guru tersebut, yang paling berpengaruh dalam keilmuannya adalah Sayyid Alawi bin Ahmad as-Segaf, Sayyid Husain al-Habsyi, dan Syaikh Mahfudz at-Turmusi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tak hanya disitu saja, setelah 7 (tujuh) tahun menimba ilmu di Mekkah, keilmuan Kiai Hasyim telah diakui, sehingga ia diminta mengajar di Masjidil Haram. Beberapa ulama ternama pernah belajar kepadanya, seperti Syaikh Sa’dullah al-Maymani India, Syaikh Umar Hamdan, al-Shihab Ahmad bin Abdullah dari Suriah, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Raden Asnawi Kudus, KH. Bisri Syansuri, KH. Dahlan Kudus, dan KH. Saleh Tayu. Hal itu menunjukkan bahwa Kiai Hasyim telah diakui keilmuannya.

Teman-teman seangkatan Kiai Hasyim saat menimba ilmu di sana, di antaranya; Sayyid Sholeh Syatha, Syaikh Thoyyib Al Sasi, Syaikh Bakr Shobbagh, Sayyid Sholeh bin Alwi bin Uqail, Syaikh Abdul Hamid Quds, Syaikh Muhammad Fatboni, Syaikh Muhammad Said Abdul Khoir, Syaikh Abdullah Hamduh, Sayyid Idrus Al Bar, Sayyid Alwi Al Maliki dan Sayyid Muhammad Thohir Ad Dabbagh.

Bayangkan saja dari setiap orang di atas itu berapakah yang membangunkan jaringan untuk Kiai Hasyim, baik jaringan keilmuan maupun persaudaraan. Saat belajar di Mekkah dan Madinah periode kedua, yaitu tahun 1894-1899 (dalam riwayat lain 1893-1899), Kiai Hasyim belajar dengan Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi yang pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Muhammad Abduh dan Jamalauddin al Afghani dengan Pan Islamismenya. Bahkan dalam keterangan Zamakhsyari Dhofier (94; 93-94), Syaikh Khatib menganjurkan murid-muridnya mempelajari pemikiran pembaharu Muhammad Abduh.

Dalam keterangan yang ditulis oleh As’ad Shihab dalam bukunya, disebutkan bahwa Kiai Hasyim dan para pemuda Nusantara (selanjutnya menjadi Indonesia, Malaysia, Brunai, Singapura, Thailand Selatan, dan Filiphina Selatan), pemuda dari negara-negara Arab atau Timur Tengah, negara-negara Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika membahas perjuangan dalam membebaskan umat Islam yang tersebar di beberapa negara yang terjajah oleh Bangsa Eropa.

Dalam diskusi itu, masih belum ditemukan data soal perbincangan khusus pemuda Nusantara yang membahas kemerdekaan atau sekedar kehidupan merdeka bagi penduduknya, bebas dari penjajahan Belanda (Eropa). Diskusi lebih terfokus pada nasib Umat Islam. Tetapi menurut Aguk Irawan, penulis novel Penakluk Badai, menjelaskan bahwa nasionalisme para pelajar dari negara-negara Islam di sana sangat dipupuk, karena spirit yang sama, termasuk Kiai Hasyim.

Sejak menjadi pelajar di sana pun, Kiai Hasyim turut aktif membentuk diskusi progresif seputar keadaan umat Islam dan negera-negara Islam yang diporak-porandakan penjajah Eropa. Keterlibatan itu menunjukkan bahwa pergaulan beliau bukanlah sebatas bangku pengajian, halaqah ilmu agama, buku, perpustakaan, dan masjid, tetapi juga diskusi ilmiah, organisasi pelajar dunia, sampai mengumpulkan para pelajar Nusantara untuk berdiskusi seputar kondisi umat di Jawa dan pulau-pulau lainnya.

Ternyata diskusi seputar perjuangan umat Islam di antero dunia, tak hanya sampai saat mereka pulang ke negara masing-masing. Pangeran Abdul Karim al-Khaththabi melakukan revolusi tahun 1924 melawan Perancis dan Spanyol di Maghrib (Maroko), Sultan Pasya Athrasy di Suria melawan Prancis, dan pada tahun yang sama.

Hal itu cukup memberikan pengaruh kepada Kiai Hasyim. Beliau semakin berperan aktif dan melakukan usaha-usaha yang positif dengan menunjukkan solidaritas umat Islam Indonesia untuk mendukung  revolusi Pangeran Abdul Karim dan Sultan Pasya Athrasy.

Lalu beliau melakukan beberapa demonstrasi besar dan longmarch, dan mengadakan beberapa pertemuan umum, dan mengadakan rapat berkali-kali yang mewajibkan untuk memberikan dukungan penuh kepada setiap perlawanan kepada penjajah. Dalam satu kesempatan beliau berpidato di depan publik yang sangat banyak, dan pidato beliau yang menggunakan bahasa yang indah mampu mengguncang perasaan para pendengarnya, lalu beliau mendoakan semoga Allah menolong perjuangan kaum muslimin.

Selain itu, Kiai Hasyim juga mempunyai hubungan baik dengan Sayyid Muhammad Amin Al Husaini, Ketua Kongres Islam se-Dunia asal Palestina yang menetap di Berlin, Jerman, Sayyid Oliyauddin Asy Syairozi, serta Muhammad Ali dan Syaukat Ali. Ketiganya merupakan tokoh Islam India yang berjuang melawan Inggris. Tak hanya itu, Kiai Hasyim juga erat dengan Muhammad Ali Jinnah, Bapak Kemerdekaan Pakistan. Lalu Sayyid Hibbatuddin, mantan Menteri Pendidikan Irak, serta Sayyid Alwi bin Thohir Al Haddad, mufti Kerajaan Johor Malaysia. Syaikh Ahmad Az Zein, pemilik dan pendiri majalah Al Irfan dan koran Jabal ‘Amil, juga sangat dekat dengan beliau.

Kiai Hasyim juga akrab dengan sejumlah ulama, filsuf, cendekiawan, dan budayawan kaliber internasional. Misalnya budayawan Mesir Amir Syakib Arsalan, filsuf Pakistan Muhammad Iqbal, kritikus Iran Sayyid Masdi Asy Syairozi dan penulis kitab produktif Syaikh Muhammad Husein Ali Kasyif Al Ghitho’.

Beberapa guru besar di Universitas Al Azhar Kairo juga beliau kenal dengan baik, antara lain Syaikh Yusuf Ad Djawawi dan Syaikh Ahmad Saad Ali. Kedua tokoh ini dikenal sebagai penyunting ternama untuk kitab-kitab terbitan Kairo itu, bahkan ikut memberi pengantar pada salah satu kitab yang ia karang.

Reputasi dan kredibilitas pergaulan Kiai Hasyim sebagai ulama dan pejuang dikenal luas di dunia Islam. Itu sebabnya, tak sedikit organisasi sosial maupun lembaga ilmiah dalam dan luar negeri, mengangkatnya sebagai ketua kehormatan. Salah satunya adalah Jam’iyyah Asy Syubhan Al Muslimin (Organisasi Pemuda Islam) yang berpusat di Kairo, Mesir.

Itu di luar negeri, bagaimana di dalam negeri. Tentu lebih luas lagi. Jaringan pertemanan semasa di Mekkah sudah luas, ditambah lagi jaringan Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Alumni Tebuireng mendirikan berbagai pesantren besar, begitu juga kiai-kiai NU yang sangat menghormati beliau.

Pergaulan itu, tak hanya merambah pesantren dan NU, tapi juga kaum nasionalis dan pejajah. Beliau menjadi rujukan para pejuang seperti Soekarno, Bung Tomo, dan Jenderal Soedirman. Tanggal proklamasi kemerdekaan RI pun, menurut Aguk Irawan merupakan usulan dan jawaban Kiai Hasyim atas permintaan Soekarno. Ya wajarlah ya, sebab faktanya, Soekarno dan Bung Hatta bisa menjadi presiden juga karena rekomendasi Kiai Hasyim. Belum lagi kalau kita bicara jaringan perjuangan resolusi jihad, pasukan Hizbullah, dan Sabilillah. Lebih luas lagi.

Tak hanya bergaul dalam dunia nyata, Kiai Hasyim juga menulis di beberapa media, seperti Soera Moeslimin Indonesia terbitan Masyumi dan Majalah Al-Syu’lah pada 1 Juli 1944 dalam bahasa Sunda ditulis dengan huruf Arab Pegon.

Hal itu menunjukkan beliau benar-benar supel dan mudah bergaul. Sebaliknya salah kalau kita menganggap beliau hanya di Tebuireng saja tidak melakukan apa-apa. Sudahlah percaya deh, beliau benar-benar sillent person, low profile, dan hidden leader, tidak ingin diekspos berlebih, tapi jaringannya sungguh sangat luas. Reputasinya sangat baik, dan diakui dunia internasional, baik keilmuannya maupun perjuangannya.

Bersambung….

Sumber:

  1. Novel Penakhluk Badai karya Aguk Irawan
  2. Kitab al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari: Awwalu Waadhi’i Labinaati Istiqlaal Induunisiyyakarya Muhammad As’ad Shihab, jurnalis dan intelektual asal Lebanon.
  3. Wawancara dengan Aguk Irawan oleh Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

*Penulis adalah anggota Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaBenarkah Kurban Itu Sadis?
BerikutnyaDoa Keluar Dari Zona Nyaman