Doa Ibu di Sepertiga Malam

94
Ilustrasi seorang ibu yang mendoakan anak-anaknya (sumber: ai/ra)

Malam itu sunyi. Hanya suara jangkrik yang bersahut-sahutan di halaman belakang rumah. Di dapur kecil yang remang, seorang perempuan setengah baya duduk bersila di atas tikar pandan. Di hadapannya, segelas air putih dan sebutir kurma tergeletak di piring kecil. Ia belum menyentuhnya. Matanya basah, tapi bukan karena lelah, melainkan karena rindu.

Namanya Mak Romlah. Seorang ibu dari tiga anak yang kini semuanya menimba ilmu di pesantren. Sejak dua tahun lalu, rumahnya terasa terlalu lapang. Tidak ada lagi suara adik bungsunya, Rafi, yang dulu selalu berlari ke pelukannya setiap pulang sekolah. Tak ada lagi tawa Siti yang suka menyanyi pelan sambil mencuci piring. Dan tak ada lagi suara berat Reza yang kadang marah-marah ketika motor rusak atau berdebat tentang cita-cita.

Semuanya pergi. Bukan karena marah, bukan karena kecewa, tapi karena harapan yang ia tanam. Ia yang dulu mendorong mereka untuk menuntut ilmu agama.

“Kalau kalian ingin hidup berkah, pergilah ke pesantren,” katanya dulu dengan mantap. Tapi setelah tiga pintu kamar kosong dan tiga piring tak lagi terisi setiap pagi, barulah ia sadar, nasihat itu meninggalkan ruang sunyi di hatinya.

****

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sudah tiga bulan Mak Romlah menjalani tirakat, berpuasa Senin-Kamis, tahajud setiap malam, dan membaca Surah Yasin sebelum subuh. Bukan karena nazar, tapi karena rindu yang tak bisa diobati oleh apa pun kecuali doa.

“Ya Allah,” bisiknya lirih setiap malam, “jagalah anak-anakku di pondok. Lapangkan dadanya menuntut ilmu. Jadikan mereka anak-anak saleh yang tidak melupakan ibunya.”

Air matanya menetes perlahan, membasahi sajadah yang sudah mulai pudar warnanya.

Kadang ia teringat, bagaimana sulitnya melepas mereka satu per satu.

Reza, anak sulungnya, sempat menolak. “Bu, aku mau kuliah saja di kota,” katanya waktu itu. Tapi Mak Romlah menatapnya dengan tenang. “Ilmu dunia boleh kamu cari, Nak, tapi jangan lupakan ilmu akhirat. Dunia ini fana, tapi ilmu agama akan menuntunmu bahkan setelah ibu tiada.”

Akhirnya Reza luluh, dan kini ia di pondok besar di salah satu pesantren Jawa Timur.

Siti, anak kedua, justru terlalu semangat. Tapi Mak Romlah menangis diam-diam saat menyiapkan kopernya. Gadis itu baru 14 tahun, masih suka memeluk ibunya sebelum tidur. Saat mobil menjemput ke pesantren putri, Mak Romlah hanya bisa melambaikan tangan, menahan air mata agar Siti tak melihat.

Dan Rafi, si bungsu, masih sembilan tahun. Malam sebelum berangkat, bocah itu memeluk kaki ibunya. “Bu, nanti kalau Rafi kangen, boleh pulang nggak?”

Mak Romlah hanya mengelus kepalanya. “Kalau Rafi kangen, kirim doa. Ibu pasti dengar, meski dari jauh.”

Sejak hari itu, setiap kali malam datang, Mak Romlah merasa seperti kehilangan tiga bagian dari dirinya. Tapi ia tahu, kehilangan itu bukan kehampaan, melainkan ujian dari Allah agar ia belajar ikhlas.

Suatu sore, hujan turun deras. Mak Romlah baru pulang dari pasar. Di teras, ia duduk sambil menatap langit kelabu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Reza muncul di layar.

“Assalamu’alaikum, Bu…”

“Wa’alaikumussalam, Nak. Apa kabar?”

“Alhamdulillah baik, Bu. Cuma… Reza kangen rumah.”

Mak Romlah terdiam. Suara anaknya yang dulu terdengar kuat kini terdengar lirih. “Kamu kuat, kan? Ibu tahu kamu bisa. Doa ibu selalu di situ, di setiap langkah kamu.”

“Reza nggak nyangka mondok seberat ini, Bu. Kadang capek, kadang pengin pulang.”

Mak Romlah menahan isak. “Ibu juga capek, Nak. Tapi ibu sabar. Karena ibu tahu, Allah sedang mendidik kita berdua, kamu di pondok, ibu di rumah.”

Setelah telepon ditutup, Mak Romlah tak kuasa menahan tangis. Tapi ia segera berwudu, lalu menengadahkan tangan. “Ya Allah, kuatkan anakku. Jangan biarkan hatinya goyah.”

****

Waktu berjalan. Bulan berganti. Suatu malam di bulan Ramadhan, Mak Romlah kembali duduk di ruang tamu dengan sajadah terbentang. Ia membaca doa untuk ketiga anaknya, menyebut nama mereka satu per satu.

“Ya Allah, lindungilah Reza dari keputusasaan, lapangkan dada Siti dalam belajar, dan jaga Rafi dari godaan malas. Jadikan mereka anak-anak yang Engkau ridai…”

Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena tenang. Dalam keheningan malam itu, ia merasa seolah mendengar suara lembut dari hatinya: Doamu sudah sampai, Mak.

Beberapa minggu kemudian, saat acara wisuda santri di pesantren Reza, Mak Romlah hadir. Ia duduk di deretan kursi tamu, mengenakan kebaya sederhana warna biru muda. Ketika Reza naik ke panggung menerima penghargaan sebagai santri teladan, matanya berkaca-kaca.

Siti pun datang dari pesantrennya, dan Rafi yang libur lebih dulu duduk di samping ibunya, menggenggam tangan Mak Romlah erat-erat. “Bu, itu Kak Reza ya? Hebat banget!” katanya polos.

Mak Romlah tersenyum. Tapi senyumnya bukan sekadar bangga, ada lega yang mengalir pelan di dadanya. Semua malam tirakat, semua air mata, semua rindu yang ia tahan selama ini… ternyata berbuah manis.

Ketika acara usai, Reza berlari ke arah ibunya dan mencium tangannya. “Bu, terima kasih sudah sabar.”

Mak Romlah hanya memeluknya erat, tak berkata apa-apa. Karena dalam peluk itu, semua doa seakan menemukan tempatnya.

Malamnya, ketika mereka sudah kembali ke rumah, Mak Romlah menatap langit-langit kamar. Di luar, bulan purnama menggantung indah. Ia tersenyum kecil, lalu berbisik lirih.

“Ya Allah, aku tak punya apa-apa kecuali doa. Tapi Engkau selalu menjawabnya dengan cara yang paling indah.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama sekali, Mak Romlah tidur dengan hati yang penuh.

Bukan karena rindunya hilang, tapi karena ia tahu, rindu itu kini berubah menjadi doa yang hidup dalam setiap langkah anak-anaknya.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary