Diskusikan Isu Kebangsaan, PP GMKI Silaturahmi ke Pesantren Tebuireng

262
Perwakilan dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) foto bersama Mudir Pondok, H. Lukman Hakim, Kepala Pondok Putra, Ustadz Iskandar, Ustaz Rofiq, dan Ust Roziqi, usai berdiskusi tentang Islam dan Kebangsaan di Meeting Room Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 2 Pesantren Tebuireng pada Kamis (05/10/2017). (Foto: Nurul)

Tebuireng.online— Pesantren Tebuireng Jombang menerima tamu dari GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) pada Kamis (05/10/2017). Kedatangan mereka bertujuan untuk melakukan dialog dan tukar pikiran mengenai kebangsaan dan isu-isu yang berkembang di masyarakat akhir-akhir ini. Acara dilaksanakan di Ruang Pertemuan Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 2 Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Rombongan yang berjumlah 6 orang itu merupakan Pengurus Pusat GMKI dan juga Pengurus Cabang GMKI Jawa Timur. Dari pihak Pesantren Tebuireng diwakili oleh Mudir bidang Pondok, H. Lukman Hakim, Kepala Pondok Putra, Ustadz Iskandar, Usadz Ainur Rofiq dan Bapak Ustadz Roziqi sebagai perwakilan dari Madrasah Aliyah Salafiyyah Syafi’iyyah Tebuireng dan dipandu oleh Ustadz Syamsul Fauzy sebagai moderator.

Diskusi berlangsung santai, tapi serius. Para perwakilan GMKI membuka diskusi membahas isu-isu persoalan yang terjadi sekarang ini dan yang akan datang khususnya mengenai kebangsaan, karena banyaknya pihak yang akhir-akhir ini ingin membenturkan sesama warga negara Indonesia.

H Lukman menjelaskan, Pesantren Tebuireng merupakan barometer di dalam kehidupan beragama. Menurut beliau, Peran Pesantren Tebuireng juga tidak bisa diragukan lagi dalam pendidikan kebangsaan dari masa ke masa. “Kami selalu menyampaikan kepada santri-santri kita untuk kebersamaan dan saling menghargai” tutur beliau.

Konflik yang terjadi di masyarakat sekarang ini, lanjut beliau, disebabkan adanya ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik. “Ketidakseimbangan ekonomi inilah yang menjadi masalah utama masyarakat. Inilah yang dimanfaatkan segelintir orang ke arah yang negatif,” tambah H. Lukman. Oleh karena itu, menurut beliau, tugas kita bersama baik pesantren maupun gerakan mahasiswa untuk membangun ekonomi dari masyarakat bawah.

Ustadz Ahmad Roziqi menambahkan, santri itu harus dididik untuk menerapkan dua hal, yaitu, tidak hanya cinta agama tapi harus cinta negara. “Itulah yang menjadi ruh Tebuireng dari dulu,” ungkap alumnus al Azhar Mesir itu. Dua hal ini, katanya, harus seimbang, karena apabila tak seimbang bisa menimbulkan perpecahan, sebab bila Indonesia kacau bukan hanya muslim saja yang kacau agama yang lainnya pun akan kacau.

  Rihlah Ilmiah Pesantren Al Ikhlas Ujung Bone di Pesantren Tebuireng

Beliau menjelaskan bahwa Nahdlatul ‘Ulama (NU) sudah punya Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) dengan slogannya “NKRI harga mati! Pancasila jaya!”. “Maka tugas kita bersama untuk merawat lingkungan masyarakat masing-masing dan saling membina komunikasi. Sebab islam tidak pernah membatasi untuk hidup bersama non-muslim,” jelas dosen Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng itu.

Ust. Roziqi juga menuturkan sumber dari pergolakan hawa politik dan berbagai peristiwa nasional, merupakan efek negatif dari sosial media. Maka menurut beliau, perlu dibuat suatu lembaga sensor berita dan tabayun (klarifikasi) sebagaimana yang ditawarkan dalam Islam.

Sementara itu, Ainur Rofiq menyarankan kepada GMKI agar tidak salah pilih teman dalam berdiskusi tentang keislaman. “Karena tidak semua Islam itu punya pandangan yang sama, maka ketika berdialog pilihlah yang punya pemahaman Islam moderat,” terang mentan Kepala Pondok Putra itu.

Menurut beliau, yang sering memicu kesalahpahaman, yaitu pemahaman tentang keislaman yang tidak dibarengi dengan sisi pendidikan, sehingga memicu permasalahan dari berbagai hal. “Hidup bertetangga berbangsan dan bernegara itu diperintahkan dalam agama. Maka pendidikan keislaman perlu ditingkatkan,” ungkap beliau.

Dialog berlangsung dengan tenang. Baik GMKI maupun pihak Tebuireng, saling bertukar pikiran dan tanya jawab. Diskusi ditutup dengan pemberian cideramata dari GMKI kepada Pesantren Tebuireng. Perwakilan GMKI kemudian diajak berziarah ke makam Gus Dur. Selain Pesantren Tebuireng, rencanya GMKI akan menuju pesantren-pesantren lainnya di Jawa Timur, salah satunya Lirboyo untuk berdialog juga mengenai kondisi bangsa saat ini.


Pewarta:            Rizky Hanivan

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin