Kebersamaan mahasiswa di pesantren. (Foto: Robiatul Adawiyah)

Oleh : Umdatul Fadhilah*

Manusia selain diciptakan sebagai makhluk sosial juga tercipta sebagai makhluk yang memiliki banyak keinginan, harapan serta sederet impian lainnya. Untuk mencapai targetnya, manusia rela berjuang dan berusaha menemukan berbagai cara. Namun disatu sisi manusia tidak pernah puas akan sesuatu yang telah dimilikinya. Hal tersebut menjadikan ia semakin berlomba dalam meraih segala keinginan.

Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kerap kali dibutuhkan pengorbanan. Setelah berbagai usaha dan doa dipanjatkan. Ada saja hal-hal yang perlu kita pikirkan betul-betul hingga diharuskan untuk memilih salah satunya. Terkadang ada saja sesuatu yang harus direlakan demi mendapat sesuatu yang lain.

Dalam ilmu ekonomi hal tersebut dikenal dengan “Opportunity Cost” yaitu “Biaya Peluang”. Opportunity Cost merupakan biaya yang digunakan dengan tidak menikmati manfaat salah satu dari pilihan tersebut. Dapat diperjelas Opportunity Cost ialah hilangnya momentum keuntungan dari opsi lain saat satu opsi dipilih. Jadi, istilah ini dapat kita gunakan untuk mengatasi dilema saat diharuskan memilih dari salah satu keinginan.

Akhir tahun identik dengan liburan. Para siswa antusias menyambutnya dengan berbagai macam perasaan gembira setelah sekian lama menempuh kegiatan belajar berbulan-bulan. Para pekerja, antusias dalam mempersiapkan momen-momen liburan sebagai perehat lelah dikala hiruk pikuk beban kerja dan sederet deadline di kantor. Dan santri, sudah saatnya menuai rindu yang dipupuknya dalam penjara suci sembari menahan diri untuk tidak pulang dan berusaha tetap betah di pesantren.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Begitupula mahasantri, mahasiswa yang memilih untuk tinggal di pondok pesantren. Dilema sedang menyelimuti para mahasantri khususnya mahasantri yang sedang diujung pendidikan kampusnya. Mahasiswa yang sedang berusaha meraih toga sebagai salah satu hasil perantauannya sejauh ini. Ada banyak dilema yang dirasakan oleh sebagian mahasantri tersebut.

Pertama karena pihak kampus telah menjadwalkan sederet agenda terkait tugas akhir di akhir tahun serta awal tahun. Kedua mahalnya biaya mudik menjadi berpikir dua kali untuk membeli tiket pulang. Ketiga adanya keinginan untuk segera menyelesaikan segala tugas demi mewujudkan senyum rekah kedua orang tua.

Adapun bila memilih mudik, maka dikhawatirkan terjadinya penundaan dalam mengerjakan tugas akhir, namun bisa berkumpul dengan keluarga tercinta. Kemudian, apabila memilih tetap di pondok ataupun perantauan peluang untuk menyelesaikan tugas akhir lebih cepat karena adanya fokus tersendiri dalam mengerjakan, tetapi harus dipendam dulu rindu tanah lahirnya. Begitu dapat disebut sebagai “Opportinity Cost”.

Sebagai mahasiswa yang juga nyantri ada baiknya untuk dapat mempertimbangkan segala kemungkinan yang di pilih. Hal tersebut tentu demi kedamaian bersama. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu terkadang harus mengorbankan pilihan yang satu demi pilihan yang lainnya. Tentu pilihan dipilih dengan segala pertimbangan yang ada. Tiada yang salah dalam perihal memilih.

Selama berlandaskan hati nurani serta argumen di jalan yang diyakini. Beberapa manfaat yang di dapat dalam menerapkan “Opportunity Cost” dalam kehidupan sehari-hari seperti terbukanya kesempatan serta meminimalisir segala resiko, kita jadi belajar untuk mengambil kesempatan yang ada serta meminimalisir resiko atas keputusan yang diambil.

Kemudian, memudahkan dalam menentukan prioritas, kita jadi belajar untuk selalu mengutamakan kebutuhan dibanding dengan keinginan. Selanjutnya, pengehamatan pengeluaran, tentu dengan segala pilihan yang ada, kita belajar untuk bisa mengelola finansial dengan sebaik-baiknya.

Perihal pilihan untuk tetap di pondok dan fokus mengerjakan tugas akhir, bisa kita rinci segala manfaat yang didapat. Kita lebih fokus dalam mengerjakan serta merevisi tugas tersebut. Menikmati liburan akhir tahun dengan teman se pondok, dimana saat sudah sama-sama lulus, moment seperti ini yang bakal dirindu.

Serta tetap mendapat jatah bulanan uang saku meski liburan, biasanya ada sebagian orang yang jika di rumah maka tidak mendapatkan uang saku. Jadi, bisa dikira-kira biaya peluang yang mungkin dirasa lebih menguntungkan dari berbagai sisi. Mari renungkan bersama.

*Santri Walisongo, sekaligus mahasiswa semester akhir Unhasy Jombang.

SebelumnyaGus Dur Penjuang Kemanusiaan
BerikutnyaBelajar Penguatan Media Sosial Pesantren