Sumber gambar: www.seraamedia.org

Oleh : Umdatul Fadhilah*

Sya’ban merupakan bulan hijriah di antara Rajab dan Ramadhan., dimana keistimewaan hadir di antara ketiganya. Salah satu hadis mengatakan, “Bulan Rajab bagaikan musim bercocok tanam dan bulan Sya’ban bagaikan airnya. Sedang bulan Ramadhan bagaikan musim Panin. Dan beliau menambahkan, Rajab bagaikan angin, dan Sya’ban bagaikan awan, sedang Ramadhan adalah hujan.” (Mohammad Husain Muhammad, Husn Al-Bayan fi Fadhail Syahri Sya’ban, h.6).

Dapat dikatakan bahwasanya Sya’ban menjadi salah satu bulan untuk beribadah sebanyak-banyaknya sebelum Ramadhan. Ibarat seperti dilatih untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, karena di bulan itulah amal ibadah dilipatgandakan. Sehingga dalam perjalanannya ibadah di bulan Ramadhan, sudah terbiasa karena telah membiasakannya sejak di bulan Sya’ban.

Di tengah pandemi covid 19, Pemerintah menerapkan sosial distancing dimana seluruh kegiatan masyarakat untuk dilakukan dari rumah. Hal ini menjadi keresahan tersendiri, mengingat kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Tidak mudah sebagai manusia yang terbiasa bersama-sama untuk menjaga jarak. Situasi tersebut pun berdampak pada banyak lembaga, termasuk pendidikan di pesantren. Sehingga ribuan santri dipulangkan ke daerah asal masing-masing.

Belajar di pesantren merupakan salah satu cara untuk memperoleh serta mengamalkan hidup sosial dan pendidikan (tarbiyah) dalam sehari-hari. Tentu berbeda jika di rumah. Lingkup keluarga cenderung saling mendukung. Namun saat di pesantren, berbagai karakter dan adat bisa ditemui secara nyata, tak jarang terjadi konflik antara satu dengan yang lainnya, namun pendidikan yang diajarkan dari kitab-kitab yang ada telah memberi gambaran bagaimana akhlak seorang santri, hal ini erat kaitannya untuk bekal hidup di masyarakat kelak.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bulan Sya’ban dimana Nabi memperbanyak puasa di bulan Hijriyah selain Ramadhan. Rasulullah bersabda yang artinya, “Bulan itu (Sya’ban) berada di antara Rajab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan, Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadahku di angkat ketika aku berpuasa”. (HR. an-Nasa’i) (Dr., Mohammad al-Dabbisi, hal al-Mu’minin fi Sya’ban, hal.20). Tentu menjadi momen spesial tatkala para santri harus belajar di rumah masing-masing. Waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk muthola’ah, yaitu kegiatan mengulang pelajaran dengan teliti dan sangat mendalam atau mengulang atau mempelajari pelajaran yang telah lalu. Hal ini dapat memberikan ruang lebih luas bagi pehahaman sejauh mana ilmu-ilmu yang diserap di pondok pesantren. Adapun muthola’ah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, dalam istilah Jawa menyebutnya nderes.

Betapa muthola’ah yang dilakukan para santri atau siapapun di bulan Sya’ban, harapannya bisa menjadi amal ibadah yang pahalanya terbentang luas. Dimana mengulang-ulang suatu pelajaran, sama halnya dengan mempelajari suatu ilmu lebih dalam lagi. Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122 yang artinya “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya“.

Hal ini memperkuat dimana agama Islam sangat menganjurkan memperdalam suatu ilmu. Terlebih hal ini juga di lakukan di tengah pandemi yang kian meresahkan. Tentu sembari Fastabiqul Khoirot (berlomba dalam kebaikan), sebagai warga yang baik, wajib untuk menjalankan himbauan dari pemerintah. Ibaratnya jika perjuangan nenek moyang kita untuk negara adalah dengan berperang. Kita para milenial, sudah tidak perlu demikian demi membela negara. Cukup taati aturan pemerintah, di rumah saja. Insyallah terdapat dampak positif sembari bedzikir dan meminta pertolongan Allah. Mudah-mudahan kita senantiasa diberi perlindungan, kesabaran, keberkahan serta wabah covid 19 segera usai. Agar kita dapat beribadah dan beraktifitas seperti sedia kala.


*Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSegala Cerita Kembali
BerikutnyaPersahabatan, Keris, dan Masa Lalu