Dahsyatnya 10 Hari Pertama Dzulhijjah

1516
Sumber gambar: http://santri.net

Oleh: Silmi Adawiya*

Bulan Dzulhijjah dikenal dengan bulan haji. Bulan yang dimuliakan oleh Allah dan ini merupakan ajang perlombaan untuk memperbanyak amal kebaikan. Bulan Dzulhijjah juga merupakan salah satu bulan haram, bulan dimana Allah melipatgandakan ganjaran amal sholih dan menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar pula. Pesan indah dari Allah tersurat dalam QS At-Taubah yang berbunyi:

فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan (haram) yang empat itu.”

Di dalam bulan Dzulhijjah ada hari-hari yang dipilih oleh Allah sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Allah menyebutnya dalam Al Quran:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

والفجر وليال عشر

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (Qs. Al Fajr: 1-2)

Para ulama beerbeda pendapat dalam menafsirkan 10 malam yang terdapat dalam ayat tersebut. Namun yang paling rajah (kuat) adalah pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah 10 hari pertama dalam bulan Dzulhijah. Dalam konteks ayat tersebut, yang dimaksud dengan ‘al-fajr’ adalah fajar pada hari raya Idul Adha.  Pendapat tersebut berdasarkan hadis Nabi dari Jabir radhiyallahu’anhu:

إن العشر عشر الأضحى، والوتر يوم عرفة، والشفع يوم النحر

“Sesungguhnya yang dimaksud dengan 10 itu adalah 10 bulan Al Adha (bulan Dzulhijjah –pen), dan yang dimaksud dengan “ganjil” adalah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan “genap” adalah hari raya Idul Adha”. (HR. Ahmad)

Sepuluh hari pertama dalam bulan Dzulhijjah merupakan waktu-waktu terbaik untuk beramal sholih. Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah.  Karena amalan dalam hari-hari tersebut adalah amalan yang paling dicintai Allah. Rasululah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”

Amalan yang bisa dilakukan dalam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah shalat, membaca Al Quran, sedekah, puasa, atau amal sholih lainnya. Diantara amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya

Dalam kitab “Latho-if Al Ma’arif” disebutkan bahwa sahabat yang mengamalkan puasa selama sembilan hari pada awal Dzulhijjah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. Namun ada riwayat hadis dari ‘Aisyah yang menyebutkan bahwa Nabi tidak berpuasa penuh, melainkan hanya berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari (misalnya pada hari Tarwiyah dan Arafah).

🤔  Menyambut Bulan Muharram dengan Amaliah-amaliah

*Penulis adalah Mahasiswi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Unhasy Tebuireng dan Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.