Sumber gambar: sufimuda.net

Oleh: Al Fahrizal*

Terdapat suatu kisah sahabat Nabi yang bernama Nu’aiman. Kisah yang jarang diungkapkan oleh para kiai-kiai, namun riwayat hidupnya benar-benar ada, karena dibenarkan oleh ulama ahli hadis.

Nu’aiman merupakan seorang sahabat yang memiliki kebiasaan buruk. Ia tergolong orang yang fasik (orang yang sering melakukan dosa). Salah satu kebiasaan buruk yang sering ia lakukan adalah mabuk-mabukan. Namun, meski senang berbuat dosa, Nu’aiman merupakan sahabat yang sangat dicintai oleh Baginda Nabi SAW. Hadraturrasul mencintai Nu’aiman bukan tanpa alasan, Rasulullah mencintainya karena ketulusan cinta Nu’aiman kepada Allah dan Rasulnya. 

Nu’aiman mempunyai cara sendiri dalam mencintai Rasulullah. Habib Rifky Alaydrus dalam ceramahnya mengungkapkan kisah tentang sahabat Nabi yang satu ini. Habib Rifky mengatakan bahwa sahabat Nu’aiman merupakan sahabat yang setiap mau ketemu sama Nabi SAW selalu minum khamar dulu. Nu’aiman sangat tahu, bahwa khamar itu haram, akan tetapi ia melakukannya, hanya ingin mencuri perhatian Baginda Nabi SAW. Sehingga ketika Nabi melihatnya, Nabi langsung menegurnya, kemudian besoknya, ketika bertemu Nabi dia mengulang lagi kebiasaan mabuknya. 

Menariknya adalah Nu’aiman tidak pernah sedikit pun protes. Saat ditegur oleh Nabi, Nu’aiman terima tanpa pernah bertanya “kenapa khamar itu haram?” (menunjukkan bahwa iman seseorang lemah, karena meragukan ketentuan Allah). Bahkan, Nu’aiman terima tanpa berontak sedikit pun atas konsekuensi dari kebiasaan buruknya. Nu’aiman pernah dicambuk oleh Nabi karena minum khamar, namun ia terima dengan hukuman tersebut dengan senang karena cintanya kepada Nabi SAW. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kisah kedua yang diungkapkan oleh Habib Rifky Alaydrus adalah cara Nu’aiman menghibur Nabi.  Suatu hari Nu’aiman melihat wajah murung Baginda Nabi SAW. Hal ini dikarenakan, Nabi baru saja kehilangan dua orang yang sangat berharga bagi kehidupan Nabi. Yakni, istri dan pamannya. Sahabat Nu’aiman ingin menghibur Baginda Nabi, karena selalu terlihat sedih. Berangkatlah Nu’aiman ke tempat Zaid bin Tsabit. Sahabat Zaid merupakan pedagang kambing. Kemudian, Nu’aiman berkata kepada Zaid, “kambing ini aku ambil dua ekor untuk dihadiahkan kepada Nabi.” Zaid setuju dan meminta uang kepada Nu’aiman, lantas ia menjawab “uangnya minta Nabi SAW dan kambing ini nanti dikasihkan ke Nabi.” Zaid pun setuju, kemudian berangkatlah ke hadapan Nabi, “Yaa Rasulallah, ini ada hadiah dari Nu’aiman,” untuk pertama kalinya Nabi tersenyum setelah ditinggal oleh dua orang yang sangat ia cinta. 

Setelah kambingnya diterima oleh Nabi, Zaid pun tak kunjung beranjak membuat Nabi penasaran lantas bertanya, “Wahai Zaid, ada keperluan apa lagi?,” Zaid menjawab dengan lantang, “Uangnya Nabi.” Saat itu Nabi kembali tersenyum dan tertawa karena melihat kelakuan Nu’aiman yang sedang mengintip Nabi dari kejauhan. Demikianlah, Hadraturrasul sedikitpun tidak marah atas tindakan Nu’aiman, orang yang paling mulia tersebut justru merasa sangat senang dengan kelakuan sahabatnya yang unik ini. 

Nu’aiman sering dibully oleh para sahabat karena tindakannya yang sering bercanda dengan Nabi, namun masih kecanduan khamar. Namun, Nabi membela Nu’aiman dengan sabdanya, Laa tal’anuhu fainnahu yuhibbu Allaha wa ar-rasula. Jangan kalian Hujat, sesungguhnya Nua’aiman itu cinta kepada Allah dan Rasulnya. Imam Ibn Hajar Al-‘Asqolani menjelaskan bahwa Laisa min syarti al-mahabbah, tidak termasuk syarat cinta, orang harus bebas dari dosa.

KH. Ahmad Bahaudin Nursalim (Gus Baha) menegaskan hal ini diiling-iling, diingat-ingat kepada orang-orang yang berlebihan mengkultuskan bahwa cinta kepada Allah harus suci, orang yang cinta kepada-Nya harus tidak melanggar. Demikian kata orang yang tidak tahu ngaji.

Karena itu, rahmat Allah SWT sangat luas. Kasih sayang Allah tidak segmentif, namun global kepada segenap makhluknya. Maka, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menjauh dariNya, karena cinta kepadaNya tidak menunggu dirimu bersih dan suci.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

SebelumnyaKekerasan di Pesantren, Gunung Es yang Siap Mencair
BerikutnyaNabawiyah Musa, Pejuang Pendidikan Kaum Perempuan