Tebuireng.online– Untuk kali pertama Pesantren Tebuireng menggelar acara penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdiliyah untuk para santri kelas akhir (kelas 12), yang diprakarsai oleh Tim Aswaja Tebuireng, yang sementara ini bernama Aswaja Center.

Penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah ini merupakan upaya untuk mencegah terjadinya degredasi Ahlussunnah wal Jama’ah para santri.

Upaya tersebut menjadi penting, karena santri kelas 12 setelah ini akan meninggalkan pondok pesantren dan akan menghadapi berbagai macam problematika di luar, yang kerap kali mengancam paham Aswaja yang selama ini mereka pegang di pondok.

“Pembukaan ini merupakan pembukaan resmi dari semua unit,” terang H. Kusnadi Said, Mudir Pendidikan Pondok Pesantren Tebuireng, Selasa (30/3).

Hal itu menyebabkan acara yang dilaksanakan di Balai Diklat Pondok Pesantren Tebuireng 2 terasa istimewa. Terlebih acara tersebut dibuka langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah kedepannya akan menjadi agenda yang rutin dilaksanakan dengan peserta santri kelas 12 di jenjang SMA/MA yang berada di bawah Yayasan Hasyim Asy’ari.

Gus Kikin menuturkan bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak zaman awal Islam dan Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan Islam asli dari zaman Rasulullah saw. Lalu dari mana berbagai macam aliran Islam bisa muncul di Indonesia?

Pengasuh Pesantren Tebuireng itu membeberkan fakta, yaitu Belanda tidak menyebarkan pertentangan pemikiran, karena Belanda hanya datang untuk Sumber Daya Alam (SDA) dan manusia.

Menurut penjelasannya, di dalam kitab “Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah” karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dijelaskan, pada tahun 1330 H atau 1912-1913 M banyak bermunculan aliran baru.

Padahal, sebelum itu Islam di Tanah Jawa cuma satu, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengikuti madzhab yang sama yakni, dalam bidang fikih mengikuti madzhab Imam Syafii, dalam bidang ushuluddin mengikuti Imam Abu Hasan Asy’ary, dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Al- Ghazali.

Perjalanan Ahlussunnah wal Jama’ah dari zaman Rasullulah dinilai sudah cukup panjang. Terlebih, muncul banyak aliran baru yang dikhawatirkan ke depannya akan membuat paham Ahlussunnah wal Jama’ah tidak dapat dipahami secara utuh oleh umat.

“Bersama-sama para Masyaikh mendapatkan solusi, kemudian berdirilah NU,” ungkap Cicit Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari ini.

NU pun diharapkan bisa memenuhi kebutuhan untuk menjadi wadah dari Ahlussunnah wal Jama’ah baik di kancah nasional maupun internasional.

“Di sini kita juga memerlukan fikr an-nahdiliyah ( pola pikir) bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti apa yang dicontohkan Rasullulah dan sahabat,” imbuhnya.

Tapi kita tidak mungkin bisa mengikuti semua sunah yang ada, maka dari itu dalam amaliyyah Ahlussunnah wal Jama’ah, sunah diambil beberapa dan dikemas dengan tradisi yang ada.

Dalam kesempatan itu, Gus Kikin menegaskan bahwa peran santri dibutuhkan untuk menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dan diharapkan kehadiran seorang santri di tengah masyarakat bisa menjadi orang yang bermanfaat.

“Mudah-mudahan selamatnya Ahlussunnah wal Jama’ah bisa menjadi sebab selamatnya Indonesia dan selamatnya kita semua.” Pungkasnya.

Pewarta: Syafhira/Aufa

SebelumnyaSikap Kita Terhadap Kezaliman
BerikutnyaLepas Pisah, Santri Dihujani Pesan Pimpinan Pesantren