
Sejak kecil, Rafi memang jarang meminta. Ia tidak pernah merengek minta mainan, tidak pernah protes kalau lauk hanya tempe atau telur. Bahkan untuk baju lebaran pun, ia selalu bilang, “yang lama masih bagus, Bu.”
Namaku Siti. Aku menulis ini bukan untuk dibaca banyak orang, hanya untuk menenangkan dada yang terasa sesak sejak kemarin sore.
Kemarin, anakku pulang lebih cepat dari biasanya. Namanya Rafi, kelas tiga madrasah ibtidaiyah. Biasanya, ia akan bermain dulu dengan teman-temannya sepulang sekolah, entah berlarian di lapangan kecil dekat mushala atau sekadar duduk bercanda di pinggir jalan. Tapi kemarin, ia langsung masuk rumah, melepas sandal dengan pelan, lalu duduk diam di pojok tikar.
“Ada apa, Nak?” tanyaku.
Ia menggeleng.
Aku tahu itu bukan jawaban.
Beberapa menit kemudian, ia membuka tasnya, mengeluarkan buku tulis, lalu berkata pelan, “Bu, semua teman dapat THR.”
Tanganku yang sedang melipat pakaian terhenti.
“Terus?”
“Aku saja yang tidak.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah mengapa terasa seperti ada yang merobek sesuatu di dalam diriku.
Aku mendekatinya. Wajahnya biasa saja, tidak menangis, tidak marah. Justru itu yang membuatku lebih takut. Anak kecil seharusnya menangis kalau kecewa. Tapi Rafi hanya diam.
“Kenapa bisa begitu?” tanyaku, lebih pada diriku sendiri.
“Ibu guru bilang nanti dibagikan sama anak-anak yang hadir di acara kemarin di rumah donatur. Aku tidak ikut, Bu…”
Aku langsung ingat. Dua hari lalu, memang ada undangan dari sekolah untuk menghadiri acara buka bersama di rumah salah satu donatur. Tapi aku tidak mengizinkan Rafi datang.
Bukan karena aku tak mau.
Aku tidak punya ongkos.
Untuk naik angkot saja, aku harus menghitung sisa uang belanja. Sementara hari itu, beras tinggal sedikit, minyak hampir habis. Aku memilih bertahan di rumah.
Aku kira itu tidak akan berdampak apa-apa.
Ternyata aku salah.
“Teman-teman dapat berapa?” tanyaku hati-hati.
Rafi mengangkat bahu. “Ada yang bilang lima puluh ribu, ada yang seratus.”
Seratus ribu.
Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin kecil, tapi bagiku itu bisa untuk makan beberapa hari.
“Tidak apa-apa ya, Bu,” katanya tiba-tiba. “Aku tidak apa-apa.”
Kalimat itu justru membuatku merasa semakin bersalah.
Sejak kecil, Rafi memang jarang meminta. Ia tidak pernah merengek minta mainan, tidak pernah protes kalau lauk hanya tempe atau telur. Bahkan untuk baju lebaran pun, ia selalu bilang, “Yang lama masih bagus, Bu.”
Tapi kali ini berbeda.
Ini bukan soal uang semata. Ini soal rasa.
Aku membayangkan bagaimana ia berdiri di antara teman-temannya yang saling menunjukkan amplop, saling bercerita, saling menghitung. Lalu ia hanya diam, tanpa apa-apa di tangan.
Aku tidak tahu apakah ada yang mengejeknya. Aku tidak berani bertanya.
***
Malam itu, setelah Rafi tidur, aku duduk lama di dekat lampu kecil.
Aku berpikir, bukankah bantuan seperti itu seharusnya untuk anak-anak seperti Rafi?
Kami memang tidak punya banyak. Suamiku hanya buruh serabutan, kadang kerja, kadang tidak. Aku sendiri menerima jahitan kecil-kecilan dari tetangga. Penghasilan kami tidak menentu.
Kalau ada yang benar-benar membutuhkan bantuan, bukankah itu kami?
Tapi kenyataannya, justru anak-anak yang mampu datang ke acara itulah yang menerima. Mereka yang punya ongkos, yang bisa hadir dengan pakaian rapi, yang bisa duduk manis di hadapan para pemberi.
Sementara anak-anak seperti Rafi, yang tidak hadir karena keterbatasan, malah terlewat.
Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Mungkin mereka tidak tahu. Mungkin sistemnya memang seperti itu.
Tapi tetap saja, ada yang terasa tidak adil.
***
Pagi ini, Rafi berangkat sekolah seperti biasa. Ia mencium tanganku, lalu tersenyum.
“Bu, nanti kalau aku besar, aku mau kasih THR ke banyak orang,” katanya.
Aku menatapnya, menahan air mata.
“Kenapa?”
“Supaya tidak ada yang tidak dapat seperti aku.”
Aku tidak bisa menjawab.
Anakku, yang bahkan tidak mendapatkan apa-apa, masih berpikir untuk memberi.
Sementara kita, yang sering merasa cukup, kadang lupa melihat siapa yang benar-benar membutuhkan.
Hari ini aku menulis ini sebagai pengingat, untuk diriku sendiri dan siapa saja yang mungkin membacanya suatu saat nanti.
Bahwa memberi bukan hanya soal membagikan, tapi juga tentang memahami.
Bahwa bantuan bukan sekadar acara, bukan sekadar daftar hadir, tapi tentang menjangkau mereka yang tidak terlihat.
Dan bahwa di luar sana, ada banyak anak seperti Rafi, yang tidak menangis saat tidak mendapatkan apa-apa, tapi diam-diam menyimpan rasa yang tak pernah kita hitung.
Aku menutup catatan ini dengan satu doa sederhana: Semoga suatu hari nanti, tidak ada lagi anak yang pulang dengan tangan kosong, bukan karena ia tidak layak menerima, tetapi karena ia tidak sempat terlihat.
Penulis: Ummu Masrurah


















