sumber ilustrasi: sindonews

Oleh: Yuniar Indra*

Salah satu hal yang ditawarkan oleh Allah SWT kepada hamba-hambaNya saat bulan Ramadan ialah keutamaan atau pahala malam lailatul qadar. Malam lailatul qadar adalah malam di mana Allah melimpahkan semua keutamaannya dalam sekejab semalam itu saja, setara dengan 1000 malam lain biasanya.

Menurut Ibnu Abbas penamaan malam lailatul qadar adalah sebab saat itu Allah menurunkan seluruh rahmatnya dalam satu tahun itu, mulai dari rezeki, kesehatan, dan lain sebagainya pada satu malam tersebut. Bahkan disebutkan bahwa pada malam lailatul qadar ini seluruh bumi penuh oleh malaikat.

Mengutip beberapa pendapat para ulama berbeda-beda dalam mengindentifikasinya, ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadar itu malam pertama bulan Ramadan. Ada juga yang mengatakan bahwa malam lailatul qadar itu Ramadan ke-17. Ulama lain menganggap bahwa malam ini bakal turun pada Ramadan malam ke-19, lainnya mengatakan lailatul qadar jatuh pada malam ke-11, malam ke-13, malam ke-25.

Bahkan disebutkan dalam kitab I’anah al-Thalibin bahwa malam lailatul qadar dapat kita identifikasi sendiri. Di situ ada metode yang ditawarkan oleh Imam Al-Ghazali untuk mengetahui kapan akan terjadi malam lailatul qadar, dengan cara melihat hari pertama Ramadan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketika Ramadan dimulai pada hari Minggu atau Rabu dapat diindikasikan bahwa lailatul qadar akan turun pada malam ke-29.

Ketika Ramadan dimulai pada hari Senin dapat diindikasikan bahwa lailatul qadar akan turun pada malam ke-21.

Jika awal Ramadan dimulai pada hari Selasa atau Jumat dimungkinkan malam lailatul qadar turun pada malam ke-27.

Saat awal Ramadan dimulai pada hari Kamis/maka mungkin lailatul qadar turun pada/malam ke-25//

Kalau awal Ramadan dimulai pada hari Sabtu maka lailatul qadar kemungkinan terjadi pada malam ke-23.

Sekali lagi ditegaskan bahwa hal yang sudah disebutkan adalah hasil karsa Imam Al-Ghazali saja, jadi kita tidak dapat menentukannya dengan pasti, tetapi bagaimana mungkin kita meragukan pemikiran seorang ulama besar Imam Al-Ghazali yang karyanya masih banyak kita kaji hingga sekarang. Waallahu a’lam.

Memang banyak pendapat mengenai turunnya malam lailatul qadar, yang menjadi titik poinnya adalah bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat dan fadilah dari Allah SWT.

Jika kita berniat meraih lailatul qadar, sepatutnya kita memperbaiki ibadah kita sejak dimulai hingga akhir Ramadan, dan seterusnya. Dengan demikian itu, maka potensi mendapatkan lailatul qadar lebih tinggi, ibarat sebuah balapan pastilah yang melangkah lebih dulu yang mendapat kemenangan, bukan yang menunggu tanggal prediksinya.

Semoga senantiasa kita mendapatkan keutamaan Ramadan, nikmatnya lailatul qadar, dan istimewanya hari kemenangan. Mari bersama-sama berlomba dalam kebaikan dan memperindah ibadah pada Allah SWT. Selamat menunaikan ibadah Ramadan.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaCakap Berorganisasi, MPI Unhasy Gandeng Kemenag Jombang
BerikutnyaMenjadi Manusia Sesuai Tuntunan Al Quran