KH. Salahuddin Wahid

Oleh: Aufal Marom WF*

Sejak awal saya belajar menulis tidak lain untuk meneladani para guru mulia. Bagaimana agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Saya menulis begitu saja, tanpa ada harapan agar menjadi penulis yang luar biasa.

Menulis itu berjuang, sekaligus pengabdian dalam mengabdikan diri melalui karya. Saya merasakan sendiri proses pembelajaran itu dari awal, sampai beberapa buku diterbitkan oleh Pustaka Jogoroto, yang saya sendiri menanganinya setelah mendatpakan doa restu dari kiai.

Hal yang tidak bisa saya hilangkan dari ingatan dalam perjalanan saya menulis, adalah ketika buku pertama terbit dalam bentuk Pdf. Ketika itu saya masih masuk kuliah di bangku semester 1.

Setelah buku “Setetes Tinta Musafir Perindu Al Quran” terbit dalam bentuk Pdf dan saya share, ternyata banyak sekali yang memberikan komentar positif dan apresiasi, ketika itu bertepatan tanggal 12 Rabiul Awal.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebagai seorang yang masih kosong dalam dunia buku, dengan kemauan untuk belajar, tentu saya merasa takut dan khawatir ketika buku pertama saya itu terbit. Di kelas, saya takut, saya khawatir. Spontan saya langsung lari ke Maqbaroh Tebuireng.

Saya menangis di sana seraya matur kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari akan ketakutan dan kekhawatiran yang saya rasakan sampai akhirnya tenang. Karena memang saya menulis untuk belajar tentang pengabdian dan peneladanan, semua proses itu berjalan sebagimana adanya.

Saya tidak menghitung berapa nominal yang harus saya keluarkan. Harus nabung dan menyisihkan uang saku —kendati tidak ada kiriman dari rumah. Buku pertama terbit kami cetak, 20 eks, 40 eks, dst.

Sampai buku kedua “Bacalah! Dengan Asma Tuhanmu” terbit dan kami cetak pertama 99 eks, dari mana uangnya? Dari teman-teman saya ngopi yang baik hati dan bersedia membantu meminjamkan uangnya, Gus Habib dan Abah Luhur.

Begitu terus setiap saya menerbitkan buku, kalau kita memang benar-benar untuk kemanfaatan dan tidak menghitung nilai nominal, pasti selalu saja ada orang-orang mulia yang Allah gerakkan hatinya untuk membantu kita. Dan saya sangat merasakan itu.

Memang, kami dididik dalam berjuang untuk tidak menghitung nilai nomilal, namun nilai kemanfaatan dan nilai moral. Saya menikmati perjalanan sunyi ini, saya katakan sunyi memang perjalanan saya sendiri yang mengalami-menjalankan, sampai menjualnya ke temen-temen di pesantren-pesantren.

Termasuk kebiasaan, saya sering menghadiahkan buku-buku itu kepada para tokoh, kiai-kiai yang saya jumpai meskipun hanya sekadar mengharapkan berkah doanya.

Tiga bulan yang lalu, akhir bulan Oktober menjelang wisuda sarjana Unhasy Tebuireng 2019 adalah momen yang berbahagia. Itulah kali pertama dan terakhir saya sowan menghadap beliau KH. Salahuddin Wahid. Saya ditimbali beliau untuk datang ke ndalemnya, wasilah (perantara) buku-buku yang saya tulis.

Kecintaan beliau kepada buku, sangat luar biasa. Banyak kisah bagaimana beliau sangat gemar menyuarakan untuk giat membaca dan menulis. Saya tidak pernah berpikir sampai ke ndalem beliau. Itulah bentuk apresiasi seorang Kiai kepada santrinya, seorang Rektor kepada mahasiswanya.

Cerita awalnya sampai saya ditimbali beliau, adalah berawal saya memberikan buku kepada Drs. H. Muhsin Kasmin, beliau adalah Wakil Rektor Unhasy. Saya tidak berharap apapun ketika memberikan buku itu, selain pangestu dan doa dari beliau.

Boleh jadi sebab kaget dan senangnya, beliau pada kesempataan di kelas dan acara Helcom memberikan apresiasi yang saya rasa itu sangat mengharu-bahagikan saya. Ditambah lagi, besoknya beliau memberikan informasi untuk menghadap Gus Sholah bersama beliau.

Dalam pertemuan sunyi itu, Gus Sholah membaca secara acak semua buku-buku saya. Sentuhan jemari beliau membolak-balikkan halaman secara singkat, yang terkadang hanya melihat sampul, daftar isi, dan halaman akhir buku, beliau sudah bisa menyimpulkan isinya.

Sungguh, sebagai santri pasti sangat kagum dengan sosok teladannya itu. Saya kira cukup sampai disitu apresiasi beliau kepada buku, yang saya rasa itu sudah sebagai penghormatan yang menjadikan saya tambah sungkan.

Ternyata masih ada kejutan dari beliau, apresiasi Rektor kepada hahasiswa berprestasi. Dan, yang saya tidak menyangka, beliau memasukkan nama saya sebagai mahasiswa produktif. Semoga ini sebagai doa beliau, harapan beliau yang menjadi semangat saya dalam belajar, berjuang, dan berkhidmad.

Kiai, meskipun hanya sekali itu saya menghadap kepada panjenengan, semoga mendapatkan berkahnya dari panjatan doa-doamu. Sugeng tindak, Kiai. Semoga kami selalu belajar untuk mengindahkan dauh-dauhmu, dan keteladanan yang panjenangan teladankan kepada kami.

Lahu Alfatihah.

Jogoroto, 03 Februari 2020.

*Mahasiswa Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaBalasan Cinta Ibu
BerikutnyaRumah Masa Tua