Bu Nyai Lelly Lailiyah Hakim Mengedukasi Pengurus Pesantren Soal Sampah

92
Bunyai Lelly Lailiyah Hakim Machfudz beri edukasi terkait sampah pada Tim Bank Sampah Tebuireng (foto: dimas)

Tebuireng.Online– Dalam rangka meningkatkan kebersihan lingkungan di Pesantren Tebuireng, Bu Nyai Hj. Lelly Lailiyah Hakim, mengajak seluruh Pembina Pondok Pesantren Tebuireng untuk bersama-sama belajar mengelola serta memilah sampah. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Bank Sampah Tebuireng (BST) pada Ahad (24/8/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Bu Nyai Hj. Lelly Lailiyah menyinggung kembali sejarah berdirinya Bank Sampah Tebuireng yang sudah ada sejak 2014. Namun, menurutnya, dalam perjalanannya BST belum berjalan secara maksimal.

Ia mengaku, pada awalnya tidak begitu tertarik dengan isu sampah maupun keberadaan Bank Sampah Tebuireng. Namun pandangannya berubah setelah seorang teman semasa menempuh pendidikan doktoral S-3 di Universitas Airlangga (UNAIR) menanyakan perkembangan BST di Tebuireng.

Baca Juga: BANK SAMPAH TEBUIRENG (BST)

“Awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan BST atau isu sampah di Pesantren Tebuireng. Tetapi setelah bertemu dengan teman yang menanyakan bagaimana perkembangan BST di sini, akhirnya saya mulai mencari tahu dan menaruh perhatian pada Bank Sampah Tebuireng,” ungkapnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bu Nyai Lelly menekankan, kegiatan semacam ini merupakan sarana tepat untuk edukasi, bukan hanya bagi para santri, tetapi juga bagi ustadz, ustadzah, pengurus, hingga karyawan di lingkungan Pesantren Tebuireng.

“Semua civitas Pesantren Tebuireng membutuhkan edukasi yang tepat mengenai pengelolaan sampah. Bukan hanya santri, tapi juga pengurus, pembina, dan seluruh karyawan harus mendapatkan pemahaman yang baik tentang bagaimana cara mengelola sampah,” jelasnya.

Baca Juga: Kearifan Lokal dalam Tata Kelola Bank Sampah Tebuireng (BST)

Ia juga mengingatkan pentingnya memilah sampah dengan benar agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.

“Kalau kita tidak memahami cara mengelola dan memilah sampah dengan benar, akibatnya bisa fatal. Misalnya, sampah plastik membutuhkan waktu hingga 100 tahun untuk terurai, sementara usia manusia tidak akan sampai selama itu,” tegasnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan seluruh warga pesantren semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan dan aktif mendukung pengelolaan Bank Sampah Tebuireng.



Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary