Benarkah ‘Tabarukan’ (Minta Berakah) Tidak Ada Dalilnya?

1089
Para santri mengantri bersalam tangan kiai dengan menciumnya. Hal itu dilakukan untuk ngalap berkah atau tabarukan yang dianggap sebagian orang tidak ada dalilnya, bahkan haram.

Istilah tabarukan atau ngalap barakah menjadi tradisi umat Islam di Indonesia khususnya kaum pesantren. Beberapa waktu lalu, ada seorang ustadz youtube mengatakan bahwa tabarukan atau ngalap barakah dengan mencium tangan dan berebut air minum guru, kiai, atau ulama adalah tindakan yang tidak ada dasarnya di dalam agama, sehingga haram dilakukan. Benarkah demikian?

Kita mulai dari makna Tabarruk, dari kata barakah, yang berarti bertambah. Sementara tabaruk adalah mencari berkah dengan hal-hal baik dari Allah SWT. Ada beberapa riwayat baik dari Al Quran maupun Hadis yang bisa menjadi dalil bolehnya tabaruk atau ngalap berkah ini, di antaranya:

  1. Bertabarruk dengan Peninggalan Rasululullah

Secara khusus Imam al-Bukhari dalam kitab shahih­nya mencantumkan bab tentang mencari berkah dengan peninggalan-peninggalan Rasululullah [1]ﷺ :

بَابُ مَا ذُكِرَ مِنْ دِرْعِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَعَصَاهُ وَسَيْفِهِ وَقَدَحِهِ وَخَاتَمِهِ وَمَا اسْتَعْمَلَ الخُلَفَاءُ بَعْدَهُ مِنْ ذُلِكَ مِمَّا لَمْ يُذْكَرْ قِسْمَتُهُ وَمِنْ شَعْرِهِ وَنَعْلِهِ وَآنِيَتِهِ مِمَّا يَتَبَرَّكُ أَصْحَابُهُ وَغَيْرُهُمْ بَعْدَ وَفَاتِهِ

Bab yang menyebutkan baju perang, tongkat, pedang, bejana, dan cincin Nabi dan barang-barang yang digunakan para Khalifah setelah wafatnya Nabi dari peninggalannya yang tidak dibagikan, rambut, sandal, dan wadah miliknya, dari barang-barang yang dicari berkahnya oleh para sahabat dan selainnya setelah beliau wafat.”[2]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Al Quran membenarkan tabaruk dengan peninggalan para Nabi selain Nabi Muhammad ﷺ, seperti dalam ayat.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَ آلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلاَئِكَةُ… (البقرة : 248)

Dan Nabi mereka berkata kepada mereka: “Sungguh tanda Thalut akan menjadi raja ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdepat keterangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabur itu dibawa Malaikat…” (QS. Al-Baqarah: 248)

Para Sahabat dan Tabi’in menjelaskan maksud “Sisa dari peninggalan keluarga Musa dan Keluarga Harun” di antaranya riwayat Ibn Abbas:

عَصَاهُ وَرَضَاضُ الْأَلْوَاحِ [3

Maksudnya tongkat musa dan pecahan papan yang bertuliskan Taurat.”

  1. Asma’ binti Abu Bakar Bertabaruk dengan Jubah Nabi

Tujuan tabarruk Asma’ binti Abu Bakar dengan jubah itu, yaitu untuk mengharap kesembuhan dari penyakit:

قالت (أسماء بنت أبي بكر) كانت هذه عند عائشة حتى قبضت فلمّا قبضت أخذتها و كان النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يلبسها فنحن نغسلها للمرض نستشفي بها

Asma’ binti Abu Bakar berkata : “Jubah ini (awalnya) dipegang Aisyah sampai ia wafat. Setelah wafat saya ambil jubah itu. Nabi memakai jubah ini. Kami membasuhnya untuk orang orang yang sakit, kami mengharap kesembuhan melalui jubah tersebut.” (HR. Abu Dawud dan Muslim)

Riwayat al Bukhari dalam al Adab al Mufrad menjelaskan, Nabi ﷺ memakai jubah itu untuk menemui tamu dan shalat Jumat.

  1. Imam Ahmad Bertabarruk dengan Rambut Nabi

قال عبد الله بن أحمد : رأيت أبي يأخذ شعرة من شعر النبي – صلى الله عليه وسلم – فيضعها على فيه يقبلها . وأحسب أني رأيته يضعها على عينه ، ويغمسها في الماء ويشربه يستشفي به . ورأيته أخذ قصعة النبي – صلى الله عليه وسلم – فغسلها في حب الماء ، ثم شرب فيها ورأيته يشرب من ماء زمزم يستشفي به ، ويمسح به يديه ووجهه . قلت : أين المتنطع المنكر على أحمد ، وقد ثبت أن عبد الله سأل أباه عمن يلمس رمانة منبر النبي – صلى الله عليه وسلم – ويمس الحجرة النبوية ، فقال : لا أرى بذلك بأسا . أعاذنا الله وإياكم من رأي الخوارج ومن البدع[4

Abdullah bin Ahmad berkata: “Bapakku mengambil sehelai rambut Nabi , lalu ia letakkan di mulutnya, lalu diciuminya. Aku melihat Bapakku juga meletakkannya di matanya, menyelupkannya ke dalam air dan meminumnya, mengharap kesembuhan. Aku melihat pula bapakku mengambil bejana Nabi di dalam air, lalu meminum air yang ada di dalamnya, dan meminum air zamzam seraya mengharap kesembuhan. Bapakku mengusapnya ke kedua tangan dan wajahnya.” Saya (ad-Dzahabi) berkata: “Mana orang yang ekstrim dan ingkar kepada Ahmad? Telah shahih bahwa Abdullah bertanya kepada Bapaknya (Ahmad bin Hanbal) tentang orang yang menyentuh mimbar Nabi dan menyentuh kamar (makam) Nabi Ahmad berkata: “Menurutku boleh.” Semoga Allah melindungi kita dari pendapat khawarij dan perbuatan bid’ah.”

  1. Rasulullah Bertabarruk dengan Sisa Air Wudhu Umat Islam
🤔  Empati Tebuireng untuk Korban Banjir Pacitan

Ada yang kemudian beranggapan bahwa tabarruk hanya boleh terhadap Rasulullah ﷺ dan para Nabi saja, tentu hal ini tidak benar karena Rasulullah ﷺ justru mengajarkan bertabarruk dengan umat Islam:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمَّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ ؟ فَقَالَ : ” لا ، بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ ، إِنَّ دِينَ اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ ” ، قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ ، فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ ، فَيَشْرَبُهُ ، يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ[5

Diriwayatkan dari Ibn Umar, ia bertanya kepada Nabi: “Ya Rasulullah, apakah berwudhu dari wadah baru yang tertutup atau dari tempat-tempat wudhu yang lebih engkau senangi?” Rasulullah menjawab: “Tidak.  Tapi dari tempat-tempat berwwudhu”. Agama Allah adalah agama yang lurus dan mudah. Ibn Umar berkata: “Kemudian Rasulullah menuju tempat-tempat berwudhu dan beliau diberi air, kemudian meminumnya. Beliau mengharap berkah dan tangan-tangan umat Islam.”

Dari semua dalil di atas, cukup sebagai hujjah bahwa tabaruk diperbolehkan dalam Islam, tidak haram selagi bukan untuk meminta-minta kepada benda atau orang yang ingin diambil barakahnya. Kalaulah dilarang agama, berarti Asma binti Abu Bakar dan Imam Ahmad bin Hanbal melakukan perbuatan yang diharamkan? Terlebih dalil terakhir menunjukkan Rasulullah meminta berkah dari umat Islam. Bukahkan kiai, guru, ulama, adalah umat Islam, apalagi mereka adalah pewaris para nabi.


*Disarikan dari buku Khazanah Aswaja karya Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur


[1] Yusuf Khatthar Muhammad, al Mausu’ah al Yusufiyah, 174

[2] Shahih Bukhari, XI/204

[3] Tafsir Ibn Katsir, 1/667.

[4] Adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala’, XI/212

[5] HR at Thabarani dalam al Kabir no. 235, al Ausath no. 806, al Baihaqi dalam asy Syu’aib al Iman no. 2669, dan Abu Nu’aim II/203. al Hafidz al Haitsami berkata, “Para perawinya adalah terpercaya”. Al Haitsami, Majma’ az Zawaid, I/133.