sumber gambar: hadispedia.com

Oleh: Yuniar Indra*

Kalangan pesantren pasti tidak asing lagi dengan ungkapan Sawad al-A’dham dan Ghuraba’. Makna keduanya secara teks boleh dibilang adalah mayoritas dan minoritas. Tentu mayoritas dan minoritas yang kaitannya dengan kuantitas. Tapi apakah hal tersebut memang demikian adanya? 

Kedua hadis itu sering kali digunakan sebagai modal pembentukan opini publik. Hadis Sawad al-A’dam dipakai oleh mereka yang punya masa banyak. Karena yang seharusnya mereka ikuti adalah kaum muslim yang berjumlah mayoritas. Sementara hadis ghuraba’ digunakan oleh kelompok yang merasa minoritas untuk membentuk opini publik agar tidak merasa kalah dengan yang mayoritas. 

Redaksi sawad al-a’dham ditemukan dalam hadis berikut: 

أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بالسواد الأعظم

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Umatku tidak akan berkumpul-sepakat dalam kesesatan. Karena itu, jika kalian melihat ada perbedaan (dalam beragama ini), maka kalian harus tetap pada al-sawad al-a’dham.

Istilah-istilah yang digunakan dalam hadis tersebut memang sepintas dapat dimaknai “mayoritas”, jika dilihat dari aspek lahiriah teksnya saja. 

Kedua, redaksi al-ghuraba’ ditemukan pada hadis berikut: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

Islam itu muncul pertama kali secara asing, dan akan kembali asing lagi. Sangat beruntung bagi para ghuraba’.

Secara teks orang Islam yang beruntung menurut hadis di atas adalah mereka yang merasa terasing. Lebih-lebih merasa terasing dalam jumlah. Artinya mereka merasa jumlahnya minoritas. 

Lalu, apakah mayoritas dan minoritas itu benar-benar dapat mewakili kedua hadis tersebut? Ustadz Ubaidy Hasbillah menggunakan metode ikhtilaf al-hadis dalam memahami kedua hadis tersebut. Secara sederhana ada dua langkah untuk menyelesaikan perbedaan dalam hadis itu. 

Uji Keberadaan dan Keadaan Hadis

Berdasar takhrij syamil, hadis pertama tentang sawad al-a’dham ini sedikitnya menurunkan 16 sanad turunan (mutabi’). Hadis ini juga memiliki populasi syawahid sebanyak 64 sanad yang bermuara kepada 9 orang sahabat Nabi. Total ada 80 sanad yang membawa hadis ini. Ia tergolong hadis masyhur jika melihat banyaknya sanad.

Terkait, kesahihan dari 80 sanad itu, hanya ada 3 sanad sahih, 12 hasan, 20 hasan lighairihi. Dengan demikian jumlah populasi periwayatan yang maqbul dari hadis ini adalah 35 sanad atau setara 43,75%. 

Sementara hadis kedua secara turunan terdapat 43 sanad turunan (mutabi’) dari Abi Hurairah. Secara menyeluruh populasi hadis ini mencapai 233 sanad syahid. Praktis, hadis ini dapat dinyatakan mutawatir, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Kattani. 

Kesahihannya pun tidak diragukan, didapati ada 26 sanad sahih, 103 sanad hasan, 66 sanad hasan li ghairihi, 81 mardud. Tingkat ke-maqbul-annya mencapai 70,7%. 

Uji Makna Hadis dan Keberadaan Ikhtilaf

Setelah dikumpulkan seluruh versi matannya, hadis sawad al-a’zham memiliki makna, setia pada komunitas umat Islam yang ada pada masa Nabi (ma ana ‘alaihi wa ashabih al-yaum). Tidak menyimpang dari ajaran Islam, itulah al-sawad al-a’zham. 

Lebih jelas lagi, Rasulullah langsung menafsirkan makna al-sawad al-a’zham dengan makna, “kebenaran dan pada pengamalnya.” (fa ‘alaikum bi al-sawad al-a’zham, al-haqqi wa ahlih). Riwayat ini ditemukan dalam kitab Al-Sunnah karya Ibn Abu Ashim (w. 287 H)

Dengan demikian, al-sawad al-a’zham bukanlah mayoritas. Kata a’zham  di ini tidak bermakna besar secara kuantitas, melainkan besar dalam arti kualitas, yakni jamaah umat Islam teragung. Jamaah teragung itu jamaah Nabi dan para sahabat-nya yang selalu bertahan dalam kebenaran. 

Bagaimana dengan makna ghuraba’? Setelah pengumpulan versi riwayat dijumpai makna ghuraba’ sesuai dengan penjelasan Rasul adalah: 

  1. Orang-orang yang berani berhijrah, menjauh, dan meninggalkan sukunya yang penuh kezaliman
  2. Orang yang senantiasa berbuat baik saat orang-orang berbuat kerusakan
  3. Orang yang berpegang teguh pada sunnah

Dari sini jelas sekali bahwa yang dimaksud ghuraba’ itu bukanlah asing dalam arti jarang atau sedikit jumlahnya. Melainkan asing dalam arti kualitasnya, alias dianggap aneh. Alhasil, tidak ada tanaqudh (kontradiksi) dalam hadis-hadis di atas. Dugaan kontradiksi tersebut hanya berada pada tataran pemaknaan teksnya saja. Namun, makna sebenarnya tidak seperti itu. 

Lalu, jika kembali pada masalah mana yang harus diikuti, mayoritas atau minoritas? Jawabannya tidak keduanya. Yang harus diikuti adalah kebenaran sesuai petunjuk Nabi. 

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

Sebelumnya5 Alasan Orang Tua Suka Membandingkan Anaknya
BerikutnyaBiografi Nyai Masruroh Hasyim, Teladan Perempuan di Era Milenial