Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid bersama Dr. Budi Munawar Rahman dalam diskusi HAM dan Islam bersama para mahasiswa Jombang, Selasa (19/01) di Gedung Yusuf Hasyim lantai 2 Pesantren Tebuireng.
Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid bersama Dr. Budi Munawar Rahman dalam diskusi HAM dan Islam bersama para mahasiswa Jombang, Selasa (19/01) di Gedung Yusuf Hasyim lantai 2 Pesantren Tebuireng.

tebuireng.online– Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) dan Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng bersama-sama mendiskusikan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Islam. Acara itu diselenggarakan di Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 2 Pesantren Tebuireng pada Selasa (19/01/2016).

Hadir dalam acara tersebut Pengasuh Pesantren Tebuireng Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid dan Pendiri Nur Cholis Madjid Society Dr. Budi Munawar Rahman. Selain memberikan sambutan, Gus Sholah bersama Dr. Budi Munawar juga menjadi keynote speakers pada acara tersebut. Bertindak sebagai moderator mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) Muhammad As’ad.

“Islam dan HAM sejak berdirinya Indonesia sudah menjadi perdebatan yang serius. Sampai akhirnya pada saat itu Bung Karno mengeluarkan dekrit presiden,” tutur Gus Sholah yang juga adalah mantan Wakil Ketua Komnas HAM. Gus Sholah mengatakan bahwa permasalahan HAM tidak habis diperbincangkan.

Gus Sholah menilai HAM di Indonesia sudah membaik, lebih baik dari Malaysia. Beliau mencontohkan dengan nikah beda agama dan pindah agama yang diperbolehkan di Indoenesia, sedangkan di Malaysia kedua hal tersebut sangat tabu. Hal ini, lanjut Gus Sholah, menunjukkan bahwa HAM di Indonesia satu level lebih tinggi dari Malaysia. Namun beliau sangat menyesalkan pembahasan HAM yang tak pernah menjamah ranah ekonomi. Padahal ekonomi merupakan permasalahan mendasar di tengah masyarakat yang rawan terjadi pelanggaran HAM.

Dr. Budi Munawar Rahman dalam pemaparannya mengatakan bahwa HAM sejak zaman Nabi Muhammad SAW. sudah sangat diperhatikan. “Bahkan Piagam Madinah yang dikeluarkan beliau merupakan contoh konkrit tentang Hak Asasi Manusia pada zaman itu,” Tutur alumnus Copenhagen University tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu dosen Universitas Paramadina Jakarta itu juga menceritakan tentang seorang ilmuan dari Darul Ulum University Riyadl Saudi Arabia yang mengatakan bahwa al-Quran sendiri sebagian besar berisi tentang Hak Asasi Manusia, semisal tentang kesamaan gender.

Selain dihadiri oleh mahasiswa Unhasy dan Ma’had Aly Tebuireng, diskusi menarik tersebut juga dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa dari kampus-kampus lain di Jombang, seperti STIT Urwatul Wustho (UW), dan STKIP PGRI. “Sekitar 80 mahasiswa ikut urun rembuk, berdiskusi soal HAM. Tidak banyak namun menarik,” ungkap Ketua BEM Ma’had Aly Tebuireng, Muhammad Irham. (ir/abror)

SebelumnyaSebuah Paragraf Gizi Buruk Dari Bu Bidan
BerikutnyaPeringati Maulid Nabi, Madrasah Mu’allimin Lantik Pengurus Makhis Baru