tetes_bayi

tebuireng.online– Agaknya selain kontet (postur tubuh pendek), gizi buruk tidak lepas dari angan-angan sosok berbadan kurus. Pergeseran pola konsumsi makanan bergaya modern memicu pertambahan faktor untuk gizi buruk di Indonesia. Sejarah kebidanan menunjukkan bahwa kebidanan merupakan salah satu profesi tertua di dunia, dan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Selain mempunyai kode etik, bidan diharuskan selalu mengedepankan fungsi seorang ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Adalah ibu Alisa Lukitasari, bidan yang kini bertugas di kabupaten malang ini dengan senang hati berbagi pandangan akan profesinya. Berikut sinopsis wawancara beliau:

Bagaimana perasaan / yang ibu rasakan saat telah menjadi seorang bidan?

Awalnya bangga, senang karena bisa berguna untuk orang lain. Terutama bagi ibu-ibu yang akan melahirkan buah hati mereka dan ibu-ibu dari balita. Namun lama kelamaan menjadi biasa saja. Walaupun seperti itu, tetap ada manfaat yang bisa didapat dan diambil untuk keluarga. yaa, sedikit banyak sangat membantu dalam kehidupan saya. jadi disini pepatah “apa yang kita tanam, itu yang kita tuai” sangat berlaku dan terasa.

Apa yang memotivasi ibu untuk menjadi seorang bidan?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada awalnya tidak ada motif khusus, spesial, ataupun spesifik yang membuat saya ingin menjadi seorang bidan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar 12 tahun, kedua orangtua ingin saya melanjutkan pendidikan ke akademi kebidanan. Dengan demikian tentulah jiwa muda ini ingin memberontak karena belum melihat kebaikan dan tujuan mulia yang dipertimbangkan oleh kedua orangtua untuk anaknya ini.

Lama kelamaan rasa enggan ini berubah menjadi biasa, lalu mencair menjadi suka dengan profesi yang saya jalani sekarang ini. tapi, untuk sekarang sedikit muncul rasa penyesalan, sebab mengingat saat pertama memasuki dunia kebidanan dulu tidak all-out dan mencoba memandang dari sudut yang berbeda.

Sudah berapa lama ibu menjadi bidan dan suka duka apa saja yang ibu dapat selama itu?

Kira-kira empat tahunan saya sudah menjadi bidan. Paling senang bila masyarakat memandang kita (profesi bidan) sebagai sosok yang pintar, pandai, serta murah senyum (baik hati). Kita dianggap seseorang yang paling tahu tentang kesehatan, dalam mendiagnosa penyakit ataupun perawatan dan penyembuhannya. Jadi, semacam buku kesehatan berjalan lah. Saat ada masyarakat menanyakan hal-hal kesehatan yang belum mereka pahami, atau mungkin sekedar bertanya pendapat/pertimbangan kami. Itu adalah momen terbaik yang bisa membuat senyum kami lepas bahagia.

kalau duka, ya seabrek. Saya ringkas saja agar mempersingkat waktu sampean yaa. Mulai dianggap sebelah mata oleh rekan seprofesi, masyarakat, pasien disebabkan oleh usia mereka lebih tua. Dengan berkomitmen sebagai bidan maupun tenaga keperawatan, begadang 24 jam adalah menu pasti di jadwal mingguan. Belum lagi rahasia umum profesi kami ini minim kesejahteraan & perlindungan (hukum maupun keamanan dari kejahatan). Berlaku pengecualian untuk profesi dokter.

Antara peran menjadi bidan, ibu, istri, bagaimana cara ibu membagi waktu dan kesempatan?

Urusan kantor ya kantor (tempat dinas/pratikum), jangan dibawa kerumah. Itu terlepas dari hal-hal yang berbau urgent yaa.

Bagaimana tanggapan maupun persepsi ibu dalam penugasan di wilayah terpencil/pelosok?

Adaptasi itu suatu keharusan, memahami kebiasaan/pola masyarakat sekitar. Minimal memahami geografi daerahnya. Walau pada mulanya itu sukar, mau tak mau harus dilakukan sebagai bagian dari profesionalitas profesi seorang bidan. Karena dari awal kita sudah berkomitmen, yaa kita terima resiko tugasnya.

Lalu, apa peran seorang bidan bagi masyarakat daerah terpencil/pelosok menurut ibu sendiri?

Bukan saja seputar kesehatan, bidan maupun seorang perawat juga membantu lingkungan sekitar. Dalam artian benar-benar lingkungan tempat yang kita diami. Bahkan kita dituntut harus bisa apa saja, bukan hanya kesehatan.

Selain infrastruktur, sarana, maupun prasarana, faktor apa saja yang mungkin bisa menghambat ibu dalam menjalankan tugas didaerah terpencil/pelosok?

Minimnya tingkat kesadaran, kepedulian, dan pemahaman mengenai kesehatan oleh masyarakat. Pernah juga aparatur desanya kurang begitu antusias masalah kesehatan. Kurangnya kesadaraan hidup sehat ini didominasi oleh sosialisasi yang tidak menyentuh daerah mereka, sehingga adanya fasilitas kesehatan masih asing bagi mereka. Akibatnya, percaya kepada dukun serta mitos daerah itu masih menjadi primadona.

Diantara sekian problem yang mungkin ibu jumpai di daerah terpencil/pelosok, kekurangan gizi adalah salah satunya, bagaimana ibu menyikapi persoalan ini?

Tidak etis rasanya bila menilai peran saya seorang diri dalam persoalan ini. Sebab begini, saya akui walaupun saya memahami betul kesehatan dan gizi, tanpa bantuan rekan-rekan, aparatur, dan yang terpenting masyarakat itu sendiri, saya tidak bisa berbuat banyak. Dalam lingkup kerja kami, pendekatan, penyuluhan, memberikan pemahaman (pembelajaran), dan assistance merupakan upaya maksimal yang mungkin bisa kami berikan selain pelayanan kesehatan. Memberikan penyuluhan bahwa gizi buruk bukanlah suatu masalah sepele adalah poin utama dalam hal ini. Sulitnya medan karena letak geografis suatu daerah, dan atau juga jauh dari pusat pemerintahan, menjadi alasan klasik masyarakat telat mendapatkan pengetahuan masalah gizi buruk sehingga pola makan menjadi kurang sehat, terutama ibu-ibu dengan anak gizi buruk. Ibu-ibu inilah yang kami dekati agar mereka paham betul bahwa gizi buruk yang terjadi pada anak mereka bukan masalah kecil. Selain kurangnya informasi yang didapat dari peran seorang ayah, suami, atau sanak family, faktor ekonomi masuk kedalam jajaran elit penyebab terjadinya gizi buruk disuatu daerah.

Baik suami, anak, ataupun sanak family, adakah penolakan maupun sekedar “keberatan” dalam penugasan ibu ke daerah terpencil/pelosok? bagaimana tanggapan ibu dalam hal ini?

Kalau mereka keberatan, saya kira itu hal yang wajar. Namanya juga berpisah dengan keluarga, apalagi bila tempatnya amat berjauhan. Apa yang saya lihat selama ini, seorang bidan cenderung kesulitan untuk kembali ke daerah kelahirannya jika sudah ditugaskan ke daerah pelosok. Karena kita tahu bahwa tenaga medis didaerah pelosok-pelosok Indonesia masih jauh dari kata cukup.

Adakah kiat, saran, mungkin juga trik dari ibu dalam menyelesaikan & menyikapi kekurangan gizi disuatu daerah terpencil/pelosok?

Sudah seharusnya semua pihak lebih pro-aktif ikut serta dalam menyelesaikan masalah gizi buruk. Tidak bisa hanya mengandalkan bidan / tenaga medis. Penyuluhan, pembelajaran, dan assistance akan lebih pakem bila didukung oleh segenap aparatur, tokoh, juga ormas yang ada.(farha/iim)

SebelumnyaSpirit Maulid Nabi untuk Pemberantasan Korupsi
BerikutnyaBEM Unhasy-MAHA Tebuireng Diskusikan HAM dan Islam